Jumat, 21 Agustus 2009

Mengkaji Tradisi Megengan

Tradisi selametan megengan ini sudah mendarah daging di masyarakat Jawa yang oleh orang yang baru “mendalami Islam” sering dicap syirik, bida’h dan tidak ada pernah ada rujukan hadist yang sahih dengan menunjukan rasa tidak simpati dan dangkal akan apresiasi agama dan budaya. Tulisan ini merupakan apresiasi terhadap budaya megengan yang mulai terkikis di masyarakat perkotaan yang disebabkan kesibukan orang kota yang mulai menikmati hidup serba instan dan silang pendapat yang tidak simpati terhadap budaya lokal atas dasar keagamaan.

Megengan secara etimologi berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan, dalam tradisi lisan masyarakat pengguna bahasa Jawa (speech community) kata megeng selalu terkait dengan megeng nafas yang mempunyai makna “terasa berat, meskipun berat harus ditahan selayaknya orang menghirup nafas”. Kata megeng juga sepadan dalam penggunaan kata Ramadan secara lughat yang berarti “imsak”, kata “imsak” dalam tradisi pesantren salaf yang biasa memaknai kitab dengan leksikal berbahasa Jawa, kata imsak diartikan dengan “nge’ker” atau menahan yang di dalamnya ada unsur pengikatan yang kuat dan kukuh. Dari kajian secara morfologis dari kata megeng hingga menjadi kata megengan yang ditambah sufiks (akhiran) –an diakhir kata mengandung arti proses yang terus menerus dan juga pembentukan kata benda.

Dari kajian morfologis di atas kata megeng senafas dengan kata imsak, puasa dalam kacamata fikih diartikan proses menahan (megeng) dari yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan hal-hal yang membangkitkan syahwat, tetapi bila di kaji lebih dalam penggunaan kata megeng, puasa tidak hanya menahan yang membatalkan secara dhohir (fisik; makan, minum dll), melainkan hal-hal yang lembut dan batiniah seperti lembutnya tarikan nafas yang keluar masuk hidung yang setiap hari kita hirup, harus juga kita tahan, bila kita jabarkan lebih luas puasa tidak hanya menahan hal-hal yang membatalkan puasa saja, tetapi juga menahan kebiasan-kebiasan setiap hari yang bersifat batiniah dan ukhrowi.

Dalam kacamata ini puasa lebih bersifat latihan rasa yang mencakup dimensi batiniah, maka tidak heran dalam jarwa dhosok bahasa Jawa poso berarti “ngempet roso” ada juga yang mengartikan “ngeposke roso” yang mempunyai makna memberhentikan rasa. Dengan pemaknaan puasa Ramadan yang lebih dimaknai “olah rasa” yang bersifat batiniah melalui tradisi megengan ulama terdahulu mengajarkan kita untuk memaknai puasa Ramadan sebagai ritual yang sakral dengan cara menggelar tradisi megengan. Wallahu ‘alam bishowab.

Kalau kita mau belajar cara-cara para wali tanah jawa melestarikan ajaran Islam dalam kehidupan maka hal-hal itu ada mengandung maksud. Sebagai contoh :

* KOLAK berasal dari kata KHOLAQO = artinya menciptakan, menjadi Kholiq artinya Sang Maha Pencipta ( Tuhan semesta Alam). Artinya kita pada saat bulan Sya'ban / Ruwah mesti banyak menginat kepada Alloh Sang Maha Pencipta.
Karena pada bulan itu Allah SWT. menurunkan kudrat-irodatNya tentang takdir satu tahun mendatang termasuk daftar nama manusia yang akan maut/mati setelah 15 Syaban sampai 14 Syaban tahun depan.

* Kue APEM, asal kata dari AFUAN artinya ampunan, ma'af. Maksudnya kita di ingatkan pada bulan Sya’ban menjelang bulan Romadlon, bulan suci kita mesti banyak minta mapun kepada Alloh SWT. dengan banyak baca istighfar, sehingga kita memasuki bulan suci Romadlon dalam keadaan suci dari dosa.
Konon menurut sejarah, suatu hari di bulan safar, ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya kembali dari perjalanannya ke tanah suci. Ia membawa oleh-oleh 3 buah makanan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tidak memadai. Maka bersama sang istri mencoba membuat kue yang sejenis. Setelah jadi, kue-kue ini kemudian disebarkan kepada penduduk setempat. Pada penduduk yang berebutan mendapatkannya ki Ageng Gribig meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan”


Selanjutnya makanan ini dikenal oleh masyarakat sebagai kue apem, yakni berasal dari saduran bahasa arab “affan” yang bermakna ampunan. Tujuannya adalah agar masyarakat juga terdorong selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Lambat laun kebiasaan 'membagi-bagikan' kue apem ini berlanjut pada acara-acara selamatan menjelang Ramadhan. Harapannya, semoga Allah berkenan membukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya kepada umat muslim yang hendak menjalankan ibadah puasa. Dengan begitu umat muslim yang menjalankan ibadah puasa berharap dapat menjalankannya dengan lapang dada dan tenang juga.

* Ruwahan = ruwah dari kata arwah jamak dari ruh adalah karena pada bulan syaban turun ketentuan pisahnya ruh dengan jasad manusia.
Ruwahan di bulan Sya’ban (atau Ruwah) dalam budaya Islam Jawa adalah tradisi yang selalu dilaksanakan sepuluh hari sebelum bulan Puasa (Ramadhan) menjelang. André Möller dalam bukunya Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar (2005) mencatat dengan jelas bahwa ritus Jawa ini -yang selalu dituduh oleh kaum puritan sebagai satu dari banyak biang TBC (Tahyul, Bidah, Churafat) orang Islam Jawa- merupakan bentuk iman kesalehan individual dan kolektif. Di event ruwahan inilah sejumlah ritus digelar guna menyambut Ramadan: dari acara nisfu syaban, arak-arakan keliling kota, bersih desa yang diiringi slametan kecil lalu kenduren di malam harinya, kemudian esok paginya ziarah kubur, hingga berkahir pada acara padusan tepat di penghujung hari menjelang Puasa.

* Munggahan = munggah = naik yaitu naik masuk ke bulan romadlon yang ada kewajiban puasa, yaitu niat masuk bulan puasa dan mau puasa sebulan penuh.

* Nyandran = sadran = sya'ban = biasanya sedekahan sekalian mendoakan para arwah orang tua/sauadra muslim yang telah wafat.
Pada acara nyadran bebungaan ditaburkan di atas pusara mereka yang kita cintai, karena itu nyadran juga disebut nyekar (menghantarkan bunga). Indahnya warna-warni bunga dan keharumannya menjadi simbol bagi orang Jawa untuk selalu mengenang semua yang indah dan yang baik dari diri mereka yang telah mendahului. Dengan demikian, ritus itu memberikan semangat bagi yang masih hidup untuk terus berlomba-lomba demi kebaikan (fastabaqul khoirat). Biasanya, orang Jawa membersihkah dahulu sekitar makam dari rerumputan liar dan sampah lalu membacakan tahlil dan yasin berdoa pada tuhan agar mereka yang telah tiada senantiasa mendapat rahmat dari Gusti Allah SWT.

* Nyekar = sekar = bunga untuk ziarah makam ( wangi-wangian). Kirim doa, memohonkan ampunan dan kirim makanan ruhani berupa ayat-ayat al-Qur'an dan bacaan dzikir.

* Ziarah = berkunjung = silaturahim. Pada umumnya kata ini khusus untuk ziarah makam, padahal ziarah ke yang masih hidup juga boleh misal ke Bapak Ibu kita. Tujuannya menyambung silaturahim dan saling memaafkan dan mendoakan keselamatan.

Menurut Penjelasan Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA. (Direktur Imarah-Ijtima'iyah Masjid Al Akbar Surabaya)

Yang harus dipahami terlebih dahulu, megengan berada dalam ranah sosial-kultural (kemasyarakatan dan kebudayaan) yang mengacu pada aspek kemaslahatan dan tidak bisa dilabeli dengan istilah bid'ah jika tidak bisa dirujukkan langsung pada dalil naqli atau contoh dari Nabi SAW. Dalam banyak hadis sahih, Nabi SAW bersabda, yang maknanya, siapa yang merintis kebiasaan baik akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya.

Megengan tidak berada dalam ranah dogma-ritual (ajaran pokok peribadatan) yang mengacu pada aspek ketaatan total atau contoh dari Nabi SAW, yang jika menyalahinya dilabeli dengan istilah bid'ah. Nah, karena megengan masuk dalam ranah sosial-kultural yang mengacu pada kemaslahatan, orang bersedekah dengan membawa ambeng (beragam jenis makan) itu jelas baik dan bermanfaat bagi yang masih hidup.


Begitu juga doa-doa untuk orang-orang Islam yang telah meninggal tersebut, yakni amat bermanfaat dan mereka tunggu-tunggu (baca surat Al-Hasyr 10)*. Asalkan, ambeng tidak dibuat dengan memaksakan diri. Tidak diniati macam-macam, seperti dikirimkan bagi mayat, maupun mengotori masjid. Selain itu, doa-doanya tidak menyalahi tuntunan agama Islam.

Dengan begitu, megengan dibolehkan, bahkan mustajab (disukai). Mengenai jenis makanan dalam ambeng yang biasanya didominasi apem, pisang, dan tumpeng, asal tidak disisipi keyakinan macam-macam, juga tidak masalah. Anggap saja itu sebagai selera atau kebiasaan lokal yang sama sekali bukan doktrin agama.


* surat Al-Hasyr 10 :


وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

Setelah megengan apa yang harus kita lakuka?

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu bertakwa” (Al Baqarah:183)

1. Abu Sa’id Al-Khudriy ra. Berkata Rasulullah SAW. Bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari karena Allah, melainkan Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.”(Muttafaq ‘alaih)
2. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala kepada Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih)
3. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan diikat kuat.” (Muttafaq ‘alaih)
4. Ibnu Abbas ra. Berkata, “Rasulullah adalahorang yang paling pemurah, lebih-lebih pada bulan Ramadhan ketika ditemui Jibril. Setiap malam di bulan Ramadhan, Jibril datang untuk membacakan Al Qur’an. Saat ditemui Jibril, Rasulullah saw. Lebih pemurah daripada angin yang bertiup.” (Muttafaq ‘alaih)
5. Aisyah ra. Berkata, “Apabila sudah masuk 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah selalu menghidupkan malam (dengan beribadah), membangunkan keluarganya dan mengikat sarungnya (tidak menggauli istrinya).” (Muttafaq ‘alaih)
6. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan bohong dan melakukan kebohongan, maka Allah tidak membutuhkan dia meskipun meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

“Semoga bermanfaat”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar