Kamis, 24 Juni 2010

MENGACA diri anda sebagai seorang pekerja

Banyak kita jumpai seorang laki-laki atau perempuan hilir mudik, siang malam bekerja tanpa kenal lelah. Tiap hari kita jumpai di sana-sini, meraka berkerja tiada lain adalah untuk mencukupi kebutuhannya, bukankah demikian? Mereka yang sukses merasakan kehebatannya, dan mereka yang bangkrut menjadi stres, putus asa atau bisa-bisa sampai bunuh diri karena menumpuknya hutang.

Pernahkah persoalan yang anda dapat suka maupun duka bertanya kepada yang memberi rizki? pernahkah terjadi pada diri anda ketika diberi musibah anda selalu ingat kepada Allah, berdo’a siang malam, shalat-nya sregep, sodaqoh utun, minta do’a kiai atau ustadz kesana kemari?, ketika usaha anda tersebut sudah diijabahi Allah segala keinginan anda dipenuhi Allah terus anda lupa kepada Allah, shalatnya tidah istiqamah, shadaqahnya stop dan bahkan anda lebih sering hadir di Mall, supermarket, tempat hiburan lain dari pada hadir di masjid? Naudzubika min dzalik, ketahuilah typologi orang seperti itu adalah orang-orang yang melampui batas (musrifin).

Pernahkan anda berpikir, mengapa anda hidup di dunia, mengapa anda kaya, mengapa anda miskin, mengapa anda bahagia, mengapa anda sedih dan sak abrek pertanyaan mengenai diri anda. Taukah anda mengapa semua ini terjadi?

Kita hidup di dunia ini bukan kemauan kita, tapi kemauan Allah. Coba anda baca firman Allah:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzaariyaat [51] :56)

Jadi kita diciptakan Allah itu hanya untuk menyembah. Menyembah dalam bahasa Arab adalah Abdun. Lafadz ini berarti juga hamba. Jadi sebagai seorang hamba itu harus taat, mau mengikuti apa perintah tuannya.
Jika demikian apakah dengan skenario Allah itu hanya menciptakannya aja? Jelas tidak. Allah telah menciptakan manusia dan tentunya segala kebutuhan manusia dilengkapinya atau dicukupinya.

Apakah anda yakin bila Allah telah memberi rizki kepada anda? Pernahkah anda bertanya kepada Allah tentang rezeki anda? Terus gimana dan bagaimana?

Al-Qur’an itu firman Allah, apa yang Allah katakan pasti benar, tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya. Sekali lagi pernahkan segala persoalan anda, anda tanyakan lewat al-Qur’an? Petunjuk Allah ada dalam al-Qur’an. Tinggal anda sendiri percaya atau tidak. Coba anda baca dan berfikir petunjuk Allah dalam al-Qur’an dibawah ini :

1. “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (QS. al-Baqarah [2] :2). “Inilah penerang bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran: 138). “Inilah (Qur’an) pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya”. (QS. al-Jatsiyyah: 20)

2. “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. asy-Syura [42] :19)


3. “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali).…”. (QS. ar-Ruum [30] :40)

4. Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" (QS. Yunus [10] :31)



5. “…Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (QS. ali-‘Imran [3] :27)

6. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (QS. al-Isra’ [17] :31)


7. “Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya)”. (QS. al-An’am [6] :151)

Selanjutnya coba anda simak bagaimana Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada ummatnya:

1. Nabi saw. pernah bersabda, “Seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan diatas punggungnya, hal itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada seorang yang kadang diberi, kadang pula di tolah”. (HR. Bukhari & Muslim)

2. Dari Ka’ab ibn Umrah, Ada seseorang berjalan melalui tempat Rasulullah saw., orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu bertanya, “ Ya Rasulullah, andaikata bekerja semacam itu dapat digolongkan fi salillah, alangkah baikknya. Rasulullah bersabda, “Kalau dia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; Kalau dia bekerja untuk kedua orang tuanya yang lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; Kalau dia bekerja untuk kepentingan dirinya agar tidak meminta-minta, itu adalah fi sabililllah…” (HR. at-Tabrani lihat juga Kitab Tanbighul Ghafilin pada bab keutamaan bekerja)


3. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, ”Sesngguhnya Allah memiliki malaikat yang meurus rizki ibnu Adam Allah berfirman kepada mereka (malaikat), “Hamba manapun yang kalian temukan menjadi tujuan (kepada Allah) sebagai satu-satunya tujuan, maka tetapkanlah langit dan bumi serta anak-anak adam sebagai jaminan rizkinya. Dan hamba manapun yang kalian jumpai mencari (rizki); bila ia mempertahankan kejujuran, maka berbuat baiklah kepadanya dan mudahkanlah (urusannya); dan bila dia melampai batas pada selain itu, maka pisahkanlah antara dia dan apa yang diinginkannya, dan dia tidak akan mendapatkan diatas derajat yang Aku (Allah) tetapkan baginya”. (HR. al-Hakim & at-Tirmidzi didalam kitab Nawadirul Ushul).

Sudah pahamkah anda terhadap petunjuk Allah dan Rasul-Nya? Percayakah anda? Silahkan anda berpikir sendiri dan tanyakan pada diri anda sendiri.

Berbicara masalah iman (kepercayaan), Allah telah jelaskan : Iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Allah Ta'ala berfirman, "Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)" (QS. al-Fath: 4)., "Kami tambahkan kepada mereka petunjuk."(QS. al-Kahfi: 13)., "Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk." (QS. Maryam: 76)., "Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya" (QS. Muhammad: 17)


Pertanyan selanjutnya apakah yang anda kerjakan ini sudah betul apa tidak? Coba anda pilih tentang niat anda, apakah anda niat bekerja sambil ibadah atau ibadah sambil bekerja?

Jawaban anda akan menentukan kualitas diri anda dalam bekerja.

Dalam dunia pekerjaan ada istilah etos kerja, apa itu?
Etos adalah berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu.
Kerja adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh aset, pikiran, dan dzikirnya untuk menampakkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik.

Silahkan anda simpulkan sendiri.

Pada akhir tulisan ini saya sampaikan firman Allah dan Sabda Nabi saw. : “Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia”. (QS. al-Haj [22]:50)
Nabi Muhammad saw. bersabda, “ Iman itu ada dua bagian, sebagian pada sabar dan sebagian dalam syukur”. (Jalaluddin as-suyuti, Kitab Lubabul Hadits bab Iman).


“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......

Sabtu, 05 Juni 2010

Susahnya Mengajar (Menata Ulang Cara Mendidik)

Mengajar adalah suatu perbuatan yang baik, mengapa? Karena mengajar itu mentransfer pengetahuan kepada seseorang. Untuk apa mengajar ? agar orang tahu. Tahu apa? ya tahu tetang sesuatu.

Pernahkan anda berfikir tentang ketahuan diri anda? Mengapa anda bisa tahu? Dari mana anda tahu? Dimana anda tahu sekarang? Wah mbulet kan? Serius nih…kita ini asalnya tidak tahu, kemudian dikasih tahu, trus ketahuan he… he… he… Coba anda baca firman Allah SWT. :

1. “Dia (Allah) mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq [96]: 5).

2. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur “. (QS. An-Nahl [16]: 78).

3. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah [2]: 31).

4. “…Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 231).

5. “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 151).

Jadi proses kita jadi tahu itu asalnya dari Allah SWT. Jika kita sudah menyadarinya, maka wajib bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Dalam dunia pendidikan istilah orang yang mengajar adalah guru, sedangkan yang diajar adalah murid. Guru dan murid adalah dua komponen yang harus ada dalam dunia pendidikan. Sahabat Abu Darda’ berkata : Orang Alim (guru) dan murid sama-sama pahalanya, sebab manusia itu ada dua orang, (yakni) guru dan murid, dan selain itu tidak ada gunanya. (Abullaits as-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, II, Alih Bahasa H. Salim Bahreisy, 1982, hal. 656-657)

Menjadi seorang pengajar adalah tidak mudah, dia harus mempunyai ilmu, ahli metodologi/skill dalam mengajar, sabar, istiqamah dan mampu menjadi uswah (contoh). Maka dari itu orang yang berilmu itu kedudukannya sangat tinggi (menurut penilaian Allah SWT.) Sebagaimana Allah katakan dalam al-Qur’an :
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. al-Mujaadilah [58]: 11).

Bila anda sudah mengetahui, coba anda tanyakan pada diri anda sendiri, apakah anda ingin menjadi seorang yang berilmu?. Bagaimana bila keluarga anda, suami, istri dan anak anda mempunyai ilmu?

*Wahai sang-ibu, apakah anda tidak tahu bahwa Sayyidatuna Aisyah pernah berkata, "Sebaik-baik kaum wanita adalah kaum wanita sahabat Anshar. Mereka tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama.” (HR. Bukhari)

*Wahai sang-ayah, apakah anda tidak tahu bahwa Saiyyidina Umar berkata, "Belajarlah ilmu agama yang mendalam sebelum kamu dijadikan pemimpin". (HR. Bukhari).

*Wahai orang tua, apakah kalian tidak tahu bahwa Malik bin al-Huwairits berkata, "Rasulullah saw bersabda kepada kami, “Kembalilah kepada keluargamu, kemudian ajarilah mereka”. (HR. Bukhari). Ibnu Abbas berkata, "Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti”. (HR.Bukhari). Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud "Rabbani"' ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar). Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan, dan al-Khathib dengan sanad lain yang sahih.

Apa yang harus kita lakukan?

Banyak jalan untuk meraih suatu ilmu. Orang yang senantiasa melakukan amal salih (mencari ilmu salah satunya) maka Allah akan memberikan pengampunan dan rizqi yang mulia (QS. al-Haj [22]: 50). Nabi saw. bersabda,"Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR. Bukhari). Diriwayatkan juga oleh Muslim di dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, juga diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-Ilm.

Orang tua berkewajiban mendidik anaknya agar menjadi manusia yang berilmu. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munaafiquun [63]; 9). “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghaabun [64]; 14).



Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Anak adalah karunia dari Allah yang dititipkan kepada setiap orang tua. Dengan dasar ini maka orang tualah yang berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Tahrim [66]; 6 : "Hai orang-orang beriman, peliharalah diri-diri kamu dan keluargamu dari api neraka”. Di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya.

Kemudian bisakah anda sebagai orang tua mampu mendidik/mengajar anak-anak anda?

Jika anda sebagai orang tua mampu mengajar ilmu kepada anak-anak anda, maka kerjakan dengan penuh kesabaran dan istiqamah. Apabila anda sebagai orang tua orang tua tidak mampu mengajarkan ilmu kepada anak-anak anda, maka pasrahkanlah kepada yang ahlinya (Ulama’, kiai, ustadz, guru dll).
Mengapa demikian? Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar”. (HR. Bukhari). Sahabat Abu Darda’ berkata : “Seorang tidak dapat menjadi Alim (orang yang berilmu) kecuali harus belajar, dan tidak menjadi Alim kecuali ia mengamalkan ilmunya. Yakni seorang tidak dapat disebut Alim, jika hanya hafal ilmu, tetapi tidak diamalkan ilmunya”. (Tanbighul Ghafiliin, hal. 659)

Apa yang harus dilakukan anak anda dalam belajar?

Untuk mendapatkan ilmu tentunya ada aturannya. Sufyan ats-Tsauri berkata : “Ilmu itu (dapat diperoleh dengan) diam, mendengarkan (memperhatikan), mengingat-ingat (al-Khifdzu),mengamalkan, dan mensyiarkan”. (Tanbighul Ghafiliin, hal. 663).
Lantas siapa yang memiliki ilmu itu ? tentunya seorang guru kan? Kemudian apa yang harus kita lakukan kepada sang-guru itu? Nabi saw. pernah bersabda , “Barang siapa yang memuliakan orang ‘Alim (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku, barang siapa yang memuliakan aku, maka sungguh telah memuliakan Allah. Barang siapa yang memuliakan Allah, maka tempatnya surga”. (Jalaluddin As-Suyuthi, Lubabul Hadits, Bab Keutamaan Ilmu dan Ulama’).

Dengan demikian jelaslah bahwa seorang murid harus menghormati guru dengan kebijaksanaan dan aturan yang dibuatnya.

Namun seringkali kita jumpai pergolakan guru, murid dan orang tua sering terjadi. Seorang murid dihukum (berdiri, lari atau yang lainnya) oleh gurunya karena tidak mengerjakan tugasnya, berkata kotor, memukul teman atau berbagai perilaku yang tidak etis (salah satu contoh), kemudian orang tua tidak terima atas diperlakukan anaknya tersebut. Sang-guru dimaki-maki, di demo dan semisalnya. Apakah hal ini patut kita lakukan? Kita pertahankan? Atau Kita lestarikan? Apakah hal ini termasuk memuliakan sang-guru? Coba kita berfikir.

Pada akhirnya atas segala kelebihan dan kekurangan mari kita beristighfar dan memohon petunjuk dari Allah, agar kita mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Dengan lantunan do’a : “ROBBUNALLAH… ROBBUNALLAH… ROBBUNALLAH :
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan". (QS. Nuh [71]: 28).

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim [14]: 41).

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra’ [17]: 24).

"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku” . (QS. Maryam [19]: 4).

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ash-Shaffat [37]: 100).

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan [25]: 74).

"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". (QS. Ali-Imran [3]: 39)

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”. (QS. Ibrahim [14]: 39).

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin……. “Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......