Sabtu, 30 Mei 2009

Ada Apa Dibalik Senyum Anda

Manis Wajahmu Kulihat Di Sana
Apa Rahsia Yang Tersirat
Tapi Dhahirnya Dapat Kulihat
Mesra Wajahmu Dengan Senyuman
Senyum Tanda Mesra
Senyum Tanda Sayang
Senyumlah Sedekah Yang Paling Mudah
Senyum Di Waktu Susah
Tanda Ketabahan
Senyuman Itu Tanda Keimanan
Hati Yang Gundah Terasa Senang
Bila Melihat Senyum Hati akan Tenang
Tapi Senyumlah Seikhlas Hati
Senyuman Dari Hati Jatuh Ke Hati
Senyumlah Seperti Rasulullah
Senyumnya Bersinar Dengan Cahaya
Senyumlah Kita Hanya Kerana Allah
Itulah Senyuman Bersedekah
Itulah Sedekah Yang Paling Mudah
Tiada Terasa Terhutang Budi
Ikat Persahabatan Antara Kita
Tapi Senyum Jangan Disalah Gunakan…………( lirik lagu Raikhan )

Bukankah orang yang memikat Anda adalah orang yang selalu tersenyum ceria dan menyenangkan ? Anda akan menemukan bahwa orang yang tidak Anda sukai pun akan lebih menarik bila ia tersenyum. Mengapa senyum mempunyai kekuatan yang besar? Sebab senyum mengisyaratkan cinta, mencerminkan penerimaan. Dan membuat orang merasa bahwa kita menerima mereka adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mempengaruhi seseorang.
Apa yang Anda lihat dan pikirkan dalam dunia marketing senantiasa tak luput dari senyum? Anda pernah ke Supermarket, SuperIndo, Gian, Carefure, Matahari, Indomart, Alfamart dll.? Para SPG, Kasir atau seluruh pegawai disitu menyambut anda dengan senyum? Apakah di rumah anda disambut dengan senyuman? Mengapa ? Ada Apa ?

Apa itu senyum ?
Menurut kamus bahasa Indonesia senyum adalah gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira atau suka dengan mengembangkan bibir sedikit.
Salah satu bentuk reaksi kejiwaan yang ditampilkan manusia adalah senyum dan senyum dapat kita fahami hanya dengan melihat mimik wajah seseorang. Senyum dapat melambangkan kegembiraan ataupun kepuasan yang ditampilkan melalui wajah. Tetapi tidak semua senyum menampilkan gambaran tersebut.
Didalam bahasa Arab terdapat pengertian: "Senyum itu ialah ketawa kecil dan bermakna baik”. Sementara dalam banyak uraian tentang sifat-sifat Rasulullah saw. dikatakan: “Kebanyakan ketawa Rasulullah saw. lahir dalam bentuk senyuman".


Macam-macam Senyuman :
Senyuman yang kita jumpai itu ada dua gambaran yaitu senyuman seorang diri dan senyuman bersama. *Senyuman seorang diri (sama sekali tidak ada orang lain yang turut serta) adalah timbul tatkala seorang itu sedang sendirian, berfikir, termenung dan teringat kejadian yang baik, yang menyenangkan atau sedang memikirkan dan merancang sesuatu yang diharapkan akan dapat mendatangkan keputusan yang baik ataupun keuntungan yang banyak.
*Senyuman bersama adalah senyuman yang timbul antara seseorang dengan orang ramai atau dengan teman bicara. Sebuah senyuman muncul akibat ucapan atau perbuatan yang dilakukan oleh salah seorang atau oleh mereka bersama, yang dilihat oleh orang lain atau mereka bersama.

Mengapa harus senyum?
Wajah yang sentiasa diliputi senyum benar-benar merupakan suatu kenikmatan Allah SWT. Apabila hidup kita sentiasa diwarnai oleh senyuman yang datang dari hati yang tulus, maka berarti kita lebih kuat menghadapi segala cobaan dan perjuangan kehidupan.
Para ahli ilmu jiwa sepakat senyuman akan memberikan pengaruh yang baik dan menyehatkan. Siapa yang selalu hidup dalam alam fikiran yang riang dan berjenaka, maka akan jauh dari penyakit atau kecil kemungkinannya untuk diserang penyakit. Dan senyuman juga tidak akan melemahkan atau menekan organ-organ muka, tetapi sebaliknya merupakan sejumlah latihan yang indah bagi pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tersebut, yang menyebabkan jiwa manusia yang sempurna.
Psikolog Tika Bisono memaparkan, senyum termasuk proses penting bagaimana seseorang itu mampu menerima kehidupannya. Berawal dari senyum semua hal akan terasa lebih ringan. Sebab senyum dapat menstimuli seseorang berpikiran positif dan menghadirkan sikap yang lebih tulus dalam mengerjakan sesuatu. Kemampuan tersenyum itu juga terkait dengan kadar kematangan seseorang dalam menyikapi problema kehidupan. Ketidakmampuan seseorang menerima keadaan dan selalu berpikir negatif merupakan faktor penyebab susah tersenyum. Kesusahan dan kesedihan yang secara terus-menerus menghimpit jiwa akan membebani organ-organ muka dan perlahan-perlahan tetapi pasti akan menghilangkan kesegaran wajah seterusnya denga cepat menampakkan ketuaan sebelum waktunya.
Oleh karena itu, Islam menghendaki agar semua penganutnya menghadapi kehidupan dunia ini dengan perasaan dan sikap penuh optimisme melaksanakan pengabdian dan tugasnya sesuai dengan perintah Allah SWT. Penuhilah perkara kita dengan senyum agar dapat mengurangi segala bebanan dan menghadapi kesukaran dengan ketenangan. Hidup ini sentiasa menghadapi dugaan dan penuh cobaan. Hadapilah dengan penuh senyuman agar mendapat jalan penyelesaian yang baik dan memuaskan kerana senyuman itu satu penawar yang tidak ternilai harganya dan sangat mujarab sekali di dalam kehidupan kita.

Bukankah Rasulullah pernah mengajarkan untuk senyum ? Karena senyum itu ibadah. Tinggal kita yang harus bisa menyiasati agar senyum yang kita berikan itu tidak menimbulkann fitnah. Itu tugas kita untuk menelaah arti senyum yang akan kita berikan sebagai seorang muslim.
Berikut beberapa sabda Nabi saw. :
”Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah,” (HR Muslim)
”Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu, walaupun itu hanya bermuka cerah pada orang lain,” (HR. Muslim)
“Rasulullah adalah orang yang paling murah senyum.” (HR. Ahmad)
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi dalam sahihnya)

Kisah Nabi :
* Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku”. Suatu ketika nabi Muhammad saw. didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad saw., sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”.
* Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka. Ka’ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka:“Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.”
* Suatu ketika Muhammad saw. melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka. Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci, sampai akhir detik-detik hayat beliau.
* Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Ketika kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw. yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!”.

Mengapa anda susah senyum?
Bagi anda yang mempunyai penyakit susah senyum coba lakukan beberapa tips ini :
Pertama kita harus menyelami arti problematika hidup yang sedang kita alami saat ini, kita jangan takut melawan ego kita dan ikrarkan perang melawan Penyakit Hati apapun keadaannya. Hapus air mata yang ada dihati dengan terus dan selalu Istighfar mohon kekuatan hati kepada Allah SWT. Mulailah ukir senyuman kita kepada orang lain terutama kepada yang sudah memberi senyum kepada kita. Kedua adalah bagaimana cara kita agar senyuman itu tulus dan ikhlas ? Bicaralah denga hati dan tekankan pada jiwa dalam tendensi ridho semata- mata karena Allah SWT. Bukankah senyum itu ibadah ? Ketiga kita harus mampu menangkap arti senyuman yang kita terima maupun senyuman yang kita berikan. Bagaimana caranya ? Intinya kita harus tahu dan bisa menempatkan senyum kepada siapa kita harus sampaikan. Kita harus bisa pisahkan antara senyuman itu kepada seseorang yang kita hormati sebagai tanda penghormatan atau kepada saudara, rekan dan orang yang kita cintai. Ada batas-batas tertentu yang harus kita ketahui dan kita pandang sebagai norma yang harus kita jalankan. Bagaimana supaya senyuman itu tidak berdampak pada fitnah.

Betapapun kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang mulia ini kepada umat. Dengan niat taqarrub ilallah -pendekatan diri kepada Allah swt.- lewat senyuman, dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama ketika kita menahan senyuman, menahan sedekah ini, dengan selalu bermuka masam dan cemberut dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar. Orang yang selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam berarti menolak kenikmatan dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau menebar senyum, selamanya ia akan senang dan gembira. Wallahu a’lam “ semoga bermanfaat”


Baca selengkapnya......

Rabu, 06 Mei 2009

Karya Alumni Santri Roudlotun Nasyi'in

“Setengah dari ilmu untuk memahami tentang arti al-Qur’an dan al-Hadits secara detail adalah ilmu nahwu yang harus diketahui terlebih dahulu, karena perkataan Arab (bahasa Arab) tanpa ilmu nahwu, maka tidak akan dimengerti”.

Ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari fungsi suatu kata dalam suatu kalimat bahasa Arab atau disebut juga Sintaksis ( tata kalimat ). Kunci dalam mempelajari bahasa adalah banyaknya kosa kata yang dimiliki (dihafal) dan menerapkannya di dalam kalimat, dengan demikian ia akan mampu berbahasa dengan baik, namun hal itu belum menjamin keselamatan ungkapan dari kefahaman dan ketidak fahaman pendengar atau lawan berbicara yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan suatu kaidah, terutama dalam bahasa Arab yang penuh dengan berbagai macam kaidah, apabila salah dalam menggunakannya maka akan berakibat fatal terhadap arti dan maksud dari ungkapan tersebut. Untuk itu, penting sekali dalam mempelajari dasar-dasar dari kaidah ilmu Nahwu, sekiranya dapat membantu dalam mempelajari bahasa Arab dan mendalami al-Qur’an dan al-Hadits.







Nadlom Imrithi
Li Syaikh Syarifuddin Yahya al-Imrithiy
Metode Belajar Ilmu Nahwu Untuk Kalangan Madrasah Diniyah
Disusun oleh H. M. Nur Kholish Madzkur

Buku ini hadir dengan tujuan untuk memudahkan para pembaca dalam mendalami ilmu nahwu. Sehingga akan mempermudah dalam membaca dan memahami bahasa Arab (baik yang berkharokat atau tidak, memahami asal-usul perubahan lafadz, makna dan pengertiannya).
Buku ini terdiri dari 2 jilid dan disampaikan dengan bahasan pesantren yakni pego Arab. Diterangkan perbait dengan Qouluhu… ila… Qoulihi… dan disertai keterangan berkala (agar mudah diingat).
Semoga dengan hadirnya buku ini bisa memberikan manfaat buat masyarakat muslim.
*Apabila para pembaca menginginkan buku tersebut (satu paket jilid 1 & 2) dengan harga Rp. 22.000 (sudah termasuk biaya via pos).
*Transfer uang anda ke BRI No. Rek. 3708-01-00881-53-4 an. Nur kholish. Atau
* No. Rek. BRI Cab. Kaliasin-Surabaya: 009601037165501 an. Zainul Arifin, S.AG.
* Setelah anda mentransfer uang Pesanan tersebut, mohon SMS/Call : Zainul Arifin M. (081703314880) di Surabaya atau H. M. Nur Kholis Madzkur (0321-7186692) di Mojokerto
* Jangan lupa kirim data lengkap dan jelas diri pemesan.



Sekilas Biografi Penulis H. M. Nur Kholish Madzkur


H. M. Nur Kholish Madzkur yang biasa dipanggil pak Kholish adalah sosok yang sangat plural, supel, santai, penuh humor dan sederhana dalam berpenampilan. Beliau putra ke-3 dari al-maghfurlah H. Madzkur dan Hj. Muslichah. Pria kelahiran Gempolkerep-Gedeg-Mojokerto, 14 Juli 1977, pernah mengeyam pendidikan formal maupun non formal. Keseriusan dalam mendalami ilmu Nahwu dijalani dengan penuh kesabaran dan keistiqomahan membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Beliau pernah berguru ke KH. Zainul Arifin Arief (Pemangku Ponpes Roudlotun Nasyi’in Beratkulon-Mojokerto) selama 6 tahun, kemudian melanjutkan pendidikan ke Pesantren al-Anwar Sarang – Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. Maiumun Zubaier (mbah Maiumun) selama 5 tahun. Selang beberapa tahun Beliau Belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Uluwiyah Mojosari-Mojokerto.
Kegiatan Beliau disibukkan mengajar beberapa kitab kuning di Ponpes Roudlotun Nasyi’in, Madarasah Diniyah Roudlotun Nasyi’in, Madrasah Diniyah Anwarul Muttaaqien dan Sekolah Dasar Islam “Insan Mulya”.
Disamping itu, beliau mengisi pengajian rutin atau khutbah dibeberapa tempat seperti di Masjid Pabrik Gula Gempolkerep, Masjid Gempolkerep, Masjid Al-Fajri Sidoarjo dan Jama’ah Yaasin lainnya.
Kegiatan lainnya, Beliau sering bergaul dan bermusyawarah dengan para tokoh masyarakat dan kiai, seperti al-maghfurlah KH. Thohir Al-Aly (pengarang Kitab Tilawati), KH. Sholeh Hasan (pengarang Kitab Adz-Dzikr), KH. Mashul Ismail (Ketua Bahtsul Masail Mojokerto), KH. Abd. Hafidz (Koordinator Kitab Qiroati Mojokerto) dll.

Baca selengkapnya......

Jumat, 01 Mei 2009

Anda Harus Tahu? Masalah Ru'yatul Hilal

Tulisan menarik saya baca di: Tulisan Pak AR - Solo
http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/1426

Bicara soal Rukyah, Rukyah Hilal, Hisab-Rukyah, Hisab-Rukyah Hilal...memang
sangat menarik, lebih-lebih kalau mau mempraktekkannya.
Bicara soal Rukyah, lalu kita lihat dari sisi Tafsir, tampaknya juga menarik. :)

Tafsir secara sederhana bermakna penjelasan. Tafsir terhadap kitab suci
Al-Qur'an, secara umum ada dua metode yang ma'lum di kalangan ahli tafsir,
yakni:
1. Tafsir bi ar-Riwayah dan
2. Tafsir bi ar-Ra'yi.

Penjabarannya sebagai berikut: :)


1. Tafsir Bi ar-Riwayah

Tafsir Bi Ar-Riwayah adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur'an
lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur'an dan riwayat hadits. Jadi mufassir
menafsirkan ayat dengan ayat atau minimal ayat dengan al-hadits. Atau dalam
ungkapan bahasa arab disebut "Al-Qur'an yufassiruhu ba'dhuhu ba'dhan" (al-Qur'an
itu menafsirkan sebagian ayatnya dengan sebagian ayat yang lain).

2. Tafsir Bi ar-Ra'yi

Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dengan tafsir
bir riwayah. Ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra'yu) dalam memahami
kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadits namun porsinya lebih pada
akal.

Kalau dipilah lagi maka tafsir model ini bisa dibagi kedalam:
a. Tafsir bil 'ilmi (seperti menafsirkan fenemona alam dengan kemudian merujuk
ayat Qur'an)
b. Tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat utk membedah ayat Qur'an)
c. Tafsir Sastra atau Tafsir Lughowi. Lebih menekankan aspek sastra dari ayat
al-Qur'an.

Sebagai catatan, untuk kajian modern sekarang, sesungguhnya penggolongan secara
kaku dan ketat tafsir bir riwayah dan bir ra'yi itu tak lagi relevan.

Seperti tafsir-nya Bintusy Syathi (Ahli Tafsir Wanita asal Mesir) setelah
disimak ternyata penuh dengan kandungan ayat Qur'an untuk memahami ayat lain.

Begitu pula tafsir al-Manar (Syaikh Rasyid Ridlo), pada sebagian ayatnya
terlihat keliberalan penulisnya tapi pada bagian ayat lain justru terlihat
kekakuan penulisnya.

Tafsir model maudhu'i (tematis) -Prof. Dr. Quraisy Shihab dgn Al-Mishbahnya-
juga tak bisa secara kaku dianggap sebagai tafsir bir riwayah semata.

Lalu yang mana metode tafsir yang terbaik? Kitab tafsir mana yang paling baik?

Syeikh Abdullah Darraz berkata:
"Al-Qur'an itu bagaikan intan berlian, dipandang dari sudut manapun tetap
memancarkan cahaya. Kalau saja anda berikan kesempatan pada rekan anda untuk
melihat kandungan ayat Qur'an boleh jadi ia akan melihat lebih banyak dari yang
anda lihat."

Ternyata kita masih tetap optimis, karena semua metode tafsir bertujuan
menyingkap cahaya al-Qur'an. Semua kembali kepada etika moral dan akademis kita.

Kembali ke Tafsir 'RUKYAH':

I. Rukyah di Al-Qur'an oleh Al-Qur'an (Tafisr Bil Ma'tsur/Bi al-Riwayah):
Kata Rukyah, ismul Mashdar yang berasal dari kata dasar (fi'il mujarrod) Ro'a.
Kata RO'A berarti MELIHAT dengan MATA, seperti pada ayat berikut:
1. QS. Al-An'am (6) ayat ke 76 - 78.
2. QS. Huud (11) ayat 70.
3. QS. Yusuf (12) ayat 28.

Rukyah Hilal, paling dekat adalah pada ayat 77 surat al-An'am:

"Kemudian tatkala dia melihat bulan (=Ro'a al-Qomar) terbit dia berkata: "Inilah
Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika
Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang
sesat".

Seluruh ayat di atas berarti MELIHAT dengan MATA. Jadi kalau diartikan RO'A
adalah MELIHAT dengan BUKAN MATA, maka saya belum menemukan maroji'nya.

Kata RO'A juga berarti MELIHAT dengan HATI, seperti ayat berikut:
1. QS. Yusuf (12) ayat 24.
2. dan beberapa ayat lain.

II. Rukyah di Al-Qur'an oleh Al-Hadits (Tafisr Bil Ma'tsur/Bi al-Riwayah):
Tafisr Rukyah oleh riwayat dari Nabi bisa kita lihat dari Hadits : Shahih Bukhori, kitab Shiyam, hadits No 1776. Type Hadits ini MARFU' alias SANADnya bersambung kepada Nabi SAW. (Lihat Ensiklopedi Hadits – kutub at-tis'ah.)

Kata RUKYAH di dalam hadits di atas diartikan MELIHAT dengan MATA, sebab kalau
bukan dengan mata, misal MELIHAT dengan HATI, atau AKAL, mengapa Rasul SAW
menyebutkan kata "Ghubbiya" = TERTUTUP-Tidak Tampak. Bagaimana memahami Ghubbiya
bila Ro'a=Rukyah diartikan Melihat dengan Hati atau Akal???
=========================================
Mau Rukyah dengan MATA, mari...
Mau Rukyah dengan HATI, silahkan...
=========================================
CATATAN:
Proses penafsiran Al-Qur'an tidak mungkin bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Manna' Al-Qattan dalam bukunya Mabahits Fi Ulum Al-Qur'an menyebutkan ada
sembilan (9) syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mufassir :
1. Akidah yang benar.
2. Bersih daripada hawa nafsu.
3. Mendahulukan tafsir Al-Qur'an dengan al-Qur'an.
4. Mentafsirkan Al-Qur'an dengan al-Sunnah.
5. Jika tidak terdapat tafsiran Al-Qur'an dari Al-Sunnah, maka hendaklah dirujuk
kepada pandangan para sahabat karena mereka lebih memahami perkara tersebut
disebabkan mereka telah menyaksikan penurunan wahyu dan latar belakangnya.
6. Merujuk kepada pendapat tabi`in jika tidak terdapat tafsiran para sahabat
dengan syarat terdapat pada riwayat yang shahih.
7. Mempunyai pengetahuan pokok-pokok ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur'an:
Ilmu Qiraat, Usul Fiqh, Asbab al-Nuzul, An-Nasikh dan Al-Mansukh, dll.
8. Memiliki ketelitian dan kecermatan dalam pemahaman/penafsiran.
9. Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidang bahasa arab dan periperalnya.

Pak AR di Solo
http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/1426


Baca selengkapnya......