Minggu, 30 Agustus 2009

Roda Kehidupan dengan Zakat Anda

Pada bulan ramadlan yang penung anugerah dan kemuliaan dari Allah SWT. kaum muslimin berbondong-bondong melakukan aktivitas ibadahnya seperti puasa, shalat tarawih, berbuka bersama, bershadaqah dll. Pada 10 hari Awal ramadlan yang disebar kerahmatan-Nya, menjadi membludak tempat-tempat masjid terisi dengan luar biasa. Kemudian 10 hari yang ke-dua ramadlan aktivitas tersebut mulai merosot alias kendor, apalagi 10 hari yang terakhir ramadlan bisa kita lihat, siapakah yang istiqamah dalam mengisi aktivitas di masjid. Fenomena ini sering kita jumpai pada setiap tahunnya.

Terlepas dari fenomena itu, apa yang diperbuat sebagian kaum muslimin disekitar kita, saat Hari Raya Idul fitri kurang dari setengan bulan orang-orang pada sibuk memikirkan THR, baju baru, rumah mengkilat dll. Dari hal tersebut, pernahkah kita memikirkan zakat kita? Apakah yang dipilih oleh mereka, zakat fitra / zakat mall atau asesoris kebutuhan dhohiriyah kepribadian mereka dalam menjelang hari raya? Silahkan anda bertafakkur…..

Apakah pentingnya zakat bagi diri kita?

Allah SWT. berfirman: “Sungguh, telah beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya (zakkaahaa).” (QS. Al-Syams: 9). Zakat bermakna pembersihan/penyucian.
Zakat secara syar’i, didefinisikan sebagai hak yang wajib ditunaikan dari harta tertentu untuk diberikan kepada kelompok manusia tertentu pada waktu tertentu pula.

Pernahkah kita mendengar Kisah Nyata tentang Qarun? :

Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?(78). Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". (79) (QS. Al Qashash ayat 78-79).

Qarun adalah nama dari seorang kaum Nabi Musa AS. Ia dikaruniai Allah SWT rezeki dan kekayaan harta benda yang sangat besar dan tidak ternilai bilangannya. Ia hidup mewah, selalu mujur dalam usahanya mengumpulkan kekayaan, sehingga menjadi padatlah khazanahnya dengan harta benda dan benda-benda yang sangat berharga. Ia hidup secara mewah dan menonjol diantara kaum dan penduduk kotanya. Gedung-gedung tempat tinggalnya, pakaiannya sehari-hari, pelayan-pelayannya yang bilangannya melebihi keperluan. Pada suatu hari ia diminta untuk bersedekah dari sebagian harta yang dimilikinya. Dan perintah ini adalah perintah Allah SWT. yang disampaikan oleh Nabi Musa AS. namun ia menolak dan mencari cara bagaimana agar harta bendanya tidak diambil untuk bersedekah. Bahkan ia mencela dan mencoreng nama baik Nabi Musa AS dihadapan kaumnya. Maka Allah SWT menurunkan adzab kepadanya dengan menenggelamkan ke dalam perut bumi.

Dari kisah tersebut dapat kita bisa katakan, bahwa setiap manusia yang mempunyai kelebihan rizki senantiasa berkata harta itu adalah milikku, susah payah mencarinya dengan berbagai cara mendapatkannya. Dengan demikian harta tersebut wajar digunakan untuk kebutuhan si-pemilik harta. Siapa sih yang gak ingin jadi orang kaya? Segala kebutuhannya akan terpenuhi. Mau beli ini dan itu dapat tercapai. Namun perlu diingat bahwa “Harta adalah tiang kehidupan manusia yang disediakan Allah untuk hamba-Nya (tetapi janganlah harta menjerumuskan kelembah kecelakaan)”. (An Nisaa' : 4:5). “Harta itu hendaknya menjadi prasarana menuju kebaikan akhirat”. (Al Qashash : 18:77). Didalam kekayaan seseorang itu terkandung hak umat (Adz Dzaariyaat, 51:19)

Selanjutnya mungkin kita akan berpikir, apakah rizki ini dapat bermanfaat buat diri kita atau tidak? Mau pilih mana, apakah rizki ini diridloi oleh Allah atau tidak? Perlu diingat bahwa Islam mengakui bahwa masyarakat itu bertingkat-tingkat agar saling memanfaatkan (At Zukhruf, 43:32). Orang kaya harus sadar akan tanggung jawabnya terhadap Allah dan masyarakat. Harta itu tidak boleh berputar di antara orang-orang kaya saja (Al Hasyr, 59:7)

Dengan demikian kita akan sadar akan firman Allah, yakni Allah memerintahkan agar orang orang beriman mengeluarkan sebagian harta bendanya untuk kebajikan dari harta bendanya yang baik-baik bukan yang buruk-buruk (al Baqarah 2:267)

Kalau anda sudah berfikir demikian, apakah kita patuh kepada perintah Allah?

Perlu diingat bahwa “Allah mengancam orang orang yang menimbun perak dan emas dan tidak menggunakannya untuk kepentingan agama dan masyarakat (At-Taubah 9:34) . Zakat mempunyai fungsi sosial dalam masyarakat. Keserakahan dan kezaliman seseorang tidak bisa ditolerir apabila ia telah memakan dan menguasai harta anak yatim (An Nisaa':4:10). Adalah sama dengan mendustakan agama apabila menelantarkan dan tidak memberi makan orang miskin (Al-Maun 107:1-2).

Pertanyaan apa lagi yang menghantui anda dalam melaksanakan zakat? Keputusan ada ditangan anda…….

Perlu diingat bahwa Sebenarnya dilihat dari segi kebaktian kepada Allah SWT menunaikan zakat itu bukanlah memberikan upeti kebendaan kepada-Nya melainkan mempersembahkan ketakwaan dengan melaksanakan perintah-Nya (Al Hajj, 22:37).

Anda takut Miskin karena berzakat ?.....

Perlu diingat bahwa “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir pada tiap-tiap butir, seratus biji, …”. (Al Baqarah 2:261). Allah menggembirakan orang-orang yang suka mendermakan harta bendanya di jalan Allah dan meniberikan pahala berlipat ganda di dunia dan akhirat (AI Baqarah, 2:245). Hal ini juga berdasarkan hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Tidak akan berkurang harta dengan shadaqah (zakat).” HR. Muslim. Dalam hadits lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Siapa yang bershadaqah dengan segenggam kurma dari hasil usaha yang baik, --tiadalah Allah akan menerimanya kecuali yang baik—maka sesungguhnya Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya kembali untuk orang yang bershadaqah tersebut sebagaimana salah seorang dari kalian menumpuk-numpuk tanah sehingga menjadi sebesar gunung. HR. Muttafaqun Alaih.

Pada akhirnya zakat adalah untuk kita dan orang lain atas petunjuk dan perintah Allah, serta mengangkat derajat kemulian di mata Allah dan manusia baik di dunia maupun di akherat.

“Dan tetapkanlah untuk kami di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman, ‘siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf : 156).

Rasulullah bersabda, “Bentengilah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah, dan hadapilah cobaan dengan do’a.” (HR. ath-Thabrani).

“Semoga Bermanfaat”


Baca selengkapnya......

Sabtu, 29 Agustus 2009

“Fokus Ziarah Kubur”

Ziarah kubur itu adalah sunnah Rasulallah saw., sebagaimana hadits dari Sulaiman bin Buraidah yang diterima dari bapaknya, bahwa Nabi saw bersada:
“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, namun kini berziarahlah kalian!. Dalam riwayat lain; ‘(Maka siapa yang ingin berziarah kekubur, hendaknya berziarah), karena sesungguhnya (ziarah kubur) itu mengingat- kan kalian kepada akhirat’. (HR.Muslim)

Juga ada hadits yang serupa diatas tapi berbeda sedikit versinya dari Buraidah ra. bahwa Nabi saw. bersabda : “Dahulu saya melarang kalian menziarahi kubur, sekarang telah diizinkan dengan Muhammad untuk berziarah pada kubur ibunya, karena itu berziarah lah ke perkuburan sebab hal itu dapat mengingatkan pada akhirat”. (HR. Muslim (lht.shohih Muslim jilid 2 halaman 366 Kitab al-Jana’iz), Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, Ahmad).

Imam Syafi’i dalam kitabnya Al Umm meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulallah saw. bersabda : “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur, maka berziarahlah padanya dan jangan kamu mengatakan ucapan yang mungkar [Hajaran]”. (Tartib Musnad Imam Syafi’i, pembahasan tentang sholat, bab ke 23 ‘Sholat jenazah dan hukum-hukumnya’ hadits nr. 603 jilid 1 hal. 217)
Dari hadits-hadits diatas jelaslah bahwa Nabi saw. pernah melarang ziarah kubur namun lantas membolehkannya setelah turunnya pensyariatan (lega- litas) ziarah kubur dari Allah swt Dzat.

Larangan Rasulallah saw. pada permulaan itu, ialah karena masih dekatnya masa mereka dengan zaman jahiliyah, dan dalam suasana dimana mereka masih belum dapat menjauhi sepenuhnya ucapan-ucapan kotor dan keji. Tatkala mereka telah menganut Islam dan merasa tenteram dengannya serta mengetahui aturan-aturannya, di-izinkanlah mereka oleh syari’at buat menziarahinya. Dan anjuran sunnah untuk berziarah itu berlaku baik untuk lelaki maupun wanita. Karena dalam hadits ini tidak disebutkan kekhususan hanya untuk kaum pria saja.

Dalam kitab Makrifatul as-Sunan wal Atsar jilid 3 halaman 203 bab ziarah kubur disebutkan bahwa Imam Syafi’i telah mengatakan: “Ziarah kubur hukumnya tidak apa-apa (boleh). Namun sewaktu menziarahi kubur hendak-nya tidak mengatakan hal-hal yang menyebabkan murka Allah”.
Al-Hakim an-Naisaburi dalam kitab Mustadrak Ala as-Shahihain jilid 1 halaman 377 menyatakan: “Ziarah kubur merupakan sunnah yang sangat ditekankan”. Hal yang sama juga dapat kita jumpai dalam kitab-kitab para ulama dan tokoh Ahlusunah seperti Ibnu Hazm dalam kitab al-Mahalli jilid 5 halaman 160; Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin jilid 4 halaman 531; Abdurrahman al-Jaziri dalam kitab al-Fikh alal Madzahibil Arba’ah jilid 1 halaman 540 (dalam penutupan kajian ziarah kubur) dan banyak lagi ulama Ahlusunah lainnya. Atas dasar itulah Syeikh Manshur Ali Nashif dalam kitab at-Tajul Jami’ lil Ushul jilid 1 halaman 381 menyatakan: “Menurut mayoritas Ahlusunah dinyatakan bahwa ziarah kubur adalah sunnah”.

Masih ada lagi hadits Nabi saw. yang memerintahkan ziarah kubur dan pemberian salam terhadap ahli kubur itu adalah sunnah Rasulallah saw. Hadits dari Ibnu Abbas berkata: Ketika Rasulallah saw. melewati perkuburan di kota Madinah maka beliau menghadapkan wajahnya pada mereka seraya mengucapkan: ‘Semoga salam sejahtera senantiasa tercurah atas kalian wahai penghuni perkuburan ini, semoga Allah berkenan memberi ampun bagi kami dan bagi kalian. Kalian telah mendahului kami dan kami akan menyusul kalian’. (HR.Turmudzi)
** Hadits dari Aisyah ra.berkata:
“Adalah Nabi saw. pada tiap malam gilirannya keluar pada tengah malam kekuburan Baqi’ lalu bersabda: ‘Selamat sejahtera padamu tempat kaum mukminin, dan nanti pada waktu yang telah ditentukan kamu akan menemui apa yang dijanjikan. Dan insya Allah kami akan menyusulmu dibelakang. Ya Allah berilah ampunan bagi penduduk Baqi’ yang berbahagia ini’”. (HR. Muslim).


Ziarah kubur bagi wanita

Ada sebagian Golongan yang menganggap larangan bagi wanita berziarah kubur berpegang kepada kalimat hadits yang diriwayatkan dikitab-kitab as-Sunan –kecuali Bukhori dan Muslim– yaitu “Allah melaknat perempuan-perempuan yang menziarahi kubur” (Lihat kitab Mushannaf Abdur Razzaq jilid 3 halaman 569). Sebenarnya hadits ini telah dihapus (mansukh) dengan riwayat-riwayat tentang ‘Aisyah ra. menziarahi kuburan saudaranya yang diungkapkan oleh adz-Dzahabi dalam kitab Sunan al-Kubra, Abdurrazaq dalam kitab Mushannaf, al-Hakim an-Naisaburi dalam kitab Mustadrak Alas Shahihain dan hadits riwayat Imam Muslim (lihat catatan pada halaman selanjutnya ). Riwayat-riwayat itu, nampak sekali pertentangan antara dua bentuk riwayat dimana satu menyatakan bahwa perempuan akan dilaknat jika melakukan ziarah kubur namun yang satunya lagi menyatakan bahwa Rasulallah saw. telah memerintahkan umatnya untuk menziarahi kubur, yang mana perintah ini mencakup lelaki dan perempuan.

Jika kita teliti lebih detail lagi, ternyata sanad hadits diatas “Allah melaknat perempuan-perempuan yang menziarahi kubur” melalui tiga jalur utama: Hasan bin Tsabit, Ibnu Abbas dan Abu Hurairah [ra].
• Ibnu Majah dalam kitab Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 502 menukil hadits tersebut melalui ketiga jalur diatas.
• Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 menukil hadits tersebut melalui dua jalur saja yaitu Hasan bin Tsabit (Lihat jilid 3 halaman 442) dan Abu Hurairah (Lihat jilid 3 halaman 337/356).
• At-Turmudzi dalam kitab al-Jami’ as-Shahih jilid 2 halaman 370 hanya menukil dari satu jalur yaitu Abu Hurairah saja.
• Abu Dawud dalam kitab Sunan Abu Dawud jilid 3 halaman 317 hanya menukil melalui satu jalur yaitu Ibnu Abbas saja.
• *Sedangkan Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan hadits itu sama sekali. Begitu juga tidak ada kesepakatan diantara para penulis kitab as-Sunan dalam menukil hadits tersebut jika dilihat dari sisi jalur sanad haditsnya. Ibnu Majah, Imam Ahmad bin Hanbal dan Turmudzi sepakat meriwayatkan melalui jalur Abu Hurairah. Sedang dari jalur Hasan bin Tsabit hanya dinukil oleh Ibnu Majah dan Imam Ahmad saja dan jalur Ibnu Abbas dinukil oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.
Keterangan :
* Dari jalur pertama yang berakhir pada Hassan bin Tsabit –yang dinukil oleh Ibnu Majah dan Imam Ahmad– terdapat pribadi yang bernama Abdullah bin Utsman bin Khatsim. Semua hadits yang diriwayatkan olehnya dihukumi tidak kuat. Hal itu sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Daruqi dari Ibnu Mu’in. Ibnu Abi Hatim sewaktu berbicara tentang Abdullah bin Utsman tadi menyatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Utsman tidak dapat dijadikan dalil. An-Nasa’i dalam menjelaskan kepribadian Ibnu Usman tadi mengatakan: “Ia sangat mudah meriwayatkan (menganggap remeh periwayatan .red) hadits” (Lihat kitab Mizan al-I’tidal jilid 2 halaman 459). Dan melalui jalur tersebut juga terdapat pribadi seperti Abdurrahman bin Bahman. Tidak ada yang meriwayatkan hadits darinya selain Ibnu Khatsim. Ibnu al-Madyani mengatakan: “Aku tidak mengenal pribadinya” (Lihat kitab Mizan al-I’tidal jilid 2 halaman 551).
* Dari jalur kedua yang berakhir pada Ibnu Abbas ra terdapat pribadi seperti Abu Shaleh yang aslinya bernama Badzan.
Abu Hatim berkata tentang dia: “Hadits-hadits dia tidak dapat dipakai sebagai dalil”. An-Nasa’i menyatakan: “Dia bukanlah orang yang dapat dipercaya”. Ibnu ‘Adi mengatakan: “Tak seorang pun dari para pendahulu yang tak kuketahui dimana mereka tidak menunjukkan kerelaannya (ridho) terhadap pribadinya (Badzan)” (Lihat kitab Tahdzib al-Kamal jilid 4 halaman 6).
* Dari jalur ketiga yang berakhir pada Abu Hurairah ra terdapat pribadi seperti Umar bin Abi Salmah yang an-Nasa’i mengatakan tentang dirinya: “Dia tidak kuat (dalam periwayatan .red)”. Ibnu Khuzaimah mengatakan: “Haditsnya tidak dapat dijadikan dalil”. Ibnu Mu’in mengatakan: “Dia orang yang lemah”. Sedangkan Abu Hatim menyatakan: “Haditsnya tidak dapat dijadikan dalil” (Lihat kitab Siar A’lam an-Nubala’ jilid 6 halaman 133).
* Mungkin karena sanad haditsnya tidak sehat inilah akhirnya Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits tadi. Bukankah dua karya besar itu memiliki gelar shahih sehingga terhindar dari hadits-hadits yang tidak jelas sanadnya? Melihat hal-hal tadi maka hadits pelarangan ziarah kubur buat perempuan di atas tadi tidak dapat dijadikan dalil pengharaman.

Menurut ahli fiqh, adanya hadits yang melarang wanita ziarah kubur, ini karena umumnya sifat wanita itu ialah lemah, sedikitnya kesabaran sehingga mengakibatkan jeritan tangis yang meraung-raung (An-Niyahah) menampar pipinya sendiri dan perbuatan-perbuatan jahiliyah dikuburan itu yang mana ini semua tidak dibenarkan oleh agama Islam. Begitu juga sifat wanita senang berhias atau mempersolek dirinya sedemikian rupa atau tidak mengenakan hijab sehingga dikuatirkan –dengan campur baurnya antara lelaki dan wanita– mereka ini tidak bisa menjaga dirinya dikuburan itu sehingga menggairahkan para ziarah kaum lelaki.
Imam Malik, sebagian golongan Hanafi, berita dari Imam Ahmad dan kebanyakan ulama memberi keringanan bagi wanita untuk ziarah kubur. Mereka berdasarkan sabda Nabi saw. terhadap Aisyah ra. yang diriyatkan oleh Imam Muslim. Beliau saw. didatangi malaikat Jibril as. dan disuruh menyampaikan kepada Aisyah ra.sebagai berikut :
إنَّ رَبَّك بِأمْرِك أنْ تَـأتِيَ أهْلَ البَقِيْع وَتَسْتَغْفِرِلَهُمْ
“Sesungguhnya Tuhanmu menyuruhmu untuk menziarahi para penghuni perkuburan Baqi’ untuk engkau mintakan ampun bagi mereka”
Kata Aisyah ra; Wahai Rasulallah, Apa yang harus aku ucapkan bila berziarah pada mereka? Sabda beliau saw. :
قُوْلِيْ: السَّـلاَمُ عَلََى أهْـلِ الدِّيَـارِ مِنَ المُؤْمِنـِيْنَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ الله المُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالمُسْتَأخِرِيْنَ, وَإنَّا إنْشَاءَ الله بِكُمْ لآحِقُوْنَ
‘Ucapkanlah; salam atasmu wahai penduduk kampung, dari golongan mukminin dan muslimin. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada kita bersama, baik yang telah terdahulu maupun yang terbelakang, dan insya Allah kami akan menyusul kemudian’ “.
Untuk lebih jelasnya hadits yang dimaksud diatas adalah bahwasanya Nabi saw. bersabda pada Aisyah ra : “Jibril telah datang padaku seraya berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanmu menyuruhmu untuk menziarahi para penghuni perkuburan Baqi’ untuk engkau mintakan ampun bagi mereka.’ Kata Aisyah; ‘Wahai Rasulallah, apa yang harus aku ucapkan bagi mereka? Sabda beliau saw: ‘Ucapkanlah: Semoga salam sejahtera senantiasa tercurah bagi para penduduk perkuburan ini dari orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang kami yang terdahulu maupun yang terkemudian, insya Allah kamipun akan menyusul kalian’ “. (HR.Muslim)
Juga riwayat dari Abdullah bin Abi Mulaikah, bahwa pada suatu hari Aisyah datang dari pekuburan, maka dia bertanya : “Ya Ummul Mukminin, darimana anda? Ujarnya: Dari makam, saudaraku Abdurrahman. Lalu saya tanyakan pula: Bukankah Nabi saw. telah melarang ziarah kubur? Benar, ujarnya, mula-mula Nabi melarang ziarah kubur, kemudian menyuruh menziarahinya”. ( Adz-Dzahabi dalam kitab Sunan al-Kubra jilid 4 halaman 131, adz-Dzahabi telah menyatakan kesahihannya sebagaimana yang telah tercantum dalam kitab Mustadrak karya al-Hakim an-Naisaburi, Jil:1 Hal: 374)
** Dalam kitab-kitab itu juga diriwayatkan bahwa Siti Fathimah Az-Zahrah ra, puteri tercinta Rasulullah saw. hampir setiap minggu dua atau tiga kali menziarahi para syuhada perang Uhud, khususnya paman beliau Sayyidina Hamzah ra.
Hadits dari Anas bin Malik berkata: “Pada suatu hari Rasulallah saw. berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis diatas kuburan. Maka Nabi saw. bersabda: ‘Bertaqwalah kepada Allah dan sabarlah’. Dijawab oleh wanita itu: ‘Tinggalkanlah aku dengan musibah yang sedang menimpaku dan tidak menimpamu !’ Wanita itu tidak tahu kepada siapakah dia berbicara. Ketika dia diberitahu, bahwa orang yang berkata padanya itu adalah Nabi saw., maka ia segera datang ke rumah Nabi saw. yang kebetulan pada waktu itu tidak dijaga oleh seorangpun. Kata wanita itu: ‘Sesungguhnya saya tadi tidak mengetahui bahwa yang berbicara adalah engkau ya Rasulallah. Sabda beliau saw.: “Sesungguhnya kesabaran itu hanyalah pada pukulan yang pertama dari datangnya musibah’. (HR Bukhori dan Muslim)
Lihat hadits terakhir diatas ini, Rasulallah saw. melihat wanita tersebut dipekuburan dan tidak melarangnya untuk berziarah, hanya dianjurkan agar sabar menerima atas kewafatan anaknya (yang diziarahi tersebut). Nah, insya Allah keterangan diatas itu jelas bahwa ziarah kubur itu sunnah dan berlaku bagi lelaki maupun wanita.

Waktu Yang Tepat Dalam Ziarah Kubur:
1. Diriwayatkan bahwa Siti Fathimah Az-Zahrah ra, puteri tercinta Rasulullah saw. hampir setiap minggu dua atau tiga kali menziarahi para syuhada perang Uhud, khususnya paman beliau Sayyidina Hamzah ra.
2. Hadits dari Aisyah ra.berkata: “Adalah Nabi saw. pada tiap malam gilirannya keluar pada tengah malam kekuburan Baqi’ lalu bersabda: ‘Selamat sejahtera padamu tempat kaum mukminin, dan nanti pada waktu yang telah ditentukan kamu akan menemui apa yang dijanjikan. Dan insya Allah kami akan menyusulmu dibelakang. Ya Allah berilah ampunan bagi penduduk Baqi’ yang berbahagia ini’”. (HR. Muslim).
* Adapun tentang Waktu-waktu tertentu untuk berziarah: Rasulallah saw. tidak pernah mewajib kan maupun melarang waktu-waktu tertentu untuk berziarah kubur, orang boleh berziarah pada waktu apapun baik itu malam, pagi, siang hari dan pada bulan Sya’ban, Idul Fihtri dan lain sebagainya. Dimana dalilnya bahwa Rasulallah saw. melarang ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu?
Dalam syari’at Islam telah menyatakan adanya bulan, hari yang mulia umpama bulan-bulan Hurum/suci (Muharram, Dzul-Kiddah, Dzul-Hijjah, Rajab) begitu juga bulan Sya’ban, Ramadhan, hari Kamis, Jum’at dan lain sebagainya (mengenai hal ini silahkan baca keterangan pada bab nishfu Sya’ban, majlis dzikir dan lainnya pada halaman lain dibuku ini atau dikitab-kitab ulama ahli fiqih). Pada bulan dan hari itu Allah swt. lebih meluaskan Rahmat dan Ampunan-Nya kepada makhluk yang berdo’a, beramal sholeh dan mengharapkan Rahmat dan Ampunan Ilahi. Disamping bulan-bulan atau hari-hari biasa kaum muslimin berziarah ke pekuburan, mereka juga lebih memanfaatkannya pada bulan dan hari yang mulia untuk beramal sholeh diantaranya berziarah kekuburan kerabatnya atau para sholihin. Jadi tidak ada diantara kaum muslimin yang berfirasat hanya (khusus) pada bulan atau hari tertentu orang dibolehkan berziarah, ini tidak lain hanya pikiran dan karangan golongan pengingkar sendiri!
“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......

Selasa, 25 Agustus 2009

Sekilas Sosok Gus Rori

KH. AHMAD ASRORI UTSMAN AL ISHAQI

Tokoh mursyid ternama lain dari Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Indonesia adalah K.H. Ahmad Asrori Al-Ishaqi, pemimpin Jamaah Al-Khidmah yang berpusat Kedinding Lor, Surabaya. Sebagai ciri khas, Kiai Asrori menambahkan kata Al-Utsmaniyyah di belakang thariqahnya yang merujuk kepada ayahandanya, K.H. Utsman Al-Ishaqi.

Kiai Utsman yang masih keturunan Sunan Giri itu adalah murid kesayangan dan badal K.H. Romli Tamim (ayah K.H. Musta’in), Rejoso, Jombang, salah satu sesepuh Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di negeri ini. Ia dibaiat sebagai mursyid bersama Kiai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri Mojosari Mojokerto. Sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), Kiai Utsman mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya, Sawah Pulo, Surabaya.

Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet kemursyidan diberikan kepada putranya, Gus Minan, sebelum akhirnya ke Gus Rori. Konon pengalihan tugas ini berdasar wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya. Di tangan Gus Rori jamaah thariqah tersebut semakin membludak. Uniknya, sebelum memegang amanah itu, Gus Rori memilih membuka lahan baru, yakni di Kedinding Lor yang dibukanya dari nol.

Keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya. Inilah yang menjadikannya didekati banyak pejabat dan juga kalangan selebriti. Jemaah tarekatnya tidak lagi terbatas pada para pencinta tarekat sejak awal, melainkan melebar ke komunitas yang pada mulanya justru asing dengan tarekat.

Menyajikan Suguhan

Hebatnya, sekalipun namanya selalu dielu-elukan banyak orang, Gus Rori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima tamu. Ia adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya orang besar, bahkan tak jarang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk tamu.

Kini, ulama yang usianya sekitar lima puluh tahunan itu menjadi magnet tersendiri bagi sebagian kaum, khususnya ahli tarekat. Karena kesibukannya dan banyaknya tamu, Gus Rori kini menyediakan waktu khusus buat para tamu, yaitu tiap hari Ahad. Sedangkan untuk pembaiatan, baik bagi jemaah baru maupun jemaah lama, dilakukan seminggu sekali.

Ada tiga macam pembaiatan yang dilakukan Kiai Asrori, yaitu Bai’at bihusnidzdzan bagi pemula, Bai’at bilbarakah (tingkat menengah), dan Bai’at bittarbiyah (tingkat tinggi). Untuk menapaki level-level itu, tiap jemaah diwajibkan melakukan serangkaian zikir rutin sebagai ciri tarekat, yaitu zikir Jahri (dengan lisan) sebanyak 165 kali dan zikir khafiy (dalam hati) 1.000 kali tiap usai salat. Kemudian, ada zikir khusus mingguan (khushushiyah/usbu’iyah) yang umumnya dilakukan berjemaah per wilayah, seperti kecamatan.

Kunjungan ke tempat lain – sampai ke mancanegara – pada intinya acaranya sama, yaitu zikir. Sedangkan di kediaman Gus Rori sendiri diadakan dua minggu sekali. Minggu pertama untuk jemaah umum, sedangkan minggu kedua untuk kalangan khusus. Yang kedua ini menarik, karena yang hadir hampir kesemuanya orang Madura. Maka, ceramah dan lainnya berbahasa Madura.tapi kini Gus Rori atau Dikenal sebagai KH AHMAD ASRORI USTMAN AL ISHAQI, telah wafat beberapa hari yang lalu, dan saat ini belum di tunuk siapa pengganti beliau.

*dikirim dari teman diskusiku Sofian J. Anom.

Baca selengkapnya......

Jumat, 21 Agustus 2009

Shalat Tarawih

Pengertian Shalat Tarawih :
Sholat tarawih adalah sholat yang dikerjakan di malam bulan ramadhan yang dapat dikerjakan secara sendiri-sendiri atau berjamaah bersama-sama. Waktu pelaksanaan sholat tarawih adalah setelah pelaksanaan solat isya sampai dengan terbit fajar shubuh.

Hukum Shalat Tarawih:
Shalat Tarawih hukumnya sangat disunnahkan (sunnah muakkadah), lebih utama berjama'ah. Demikian pendapat masyhur yang disampaikann oleh para sahabat dan ulama.

Dalil Rakaat Shalat Tarawih :
• 11 Rakaat :
1. Dari Abi Salamah bin Abdir Rahman, bahwa ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha tentang bagaimana shalat Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam di bulan Ramadhan ? Beliau menjawab : "Baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain, beliau Nabi saw. tidak pernah shalat malam melebihi sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka’at, jangan juga tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka’at." (HR Bukhari & Muslim)
2. ”Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam ramadhan dan di luar Ramadhan dari 11 rakaat”. (HR. Al-Bukhari)
3. “Rasulullah SAW keluar untuk shalat malam di bulan Ramadlan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk shalat bersama umat di masjid, Rasulullah saw. shalat delapan raka’at, dan kemudian mereka menyempurnakan sisa shalatnya di rumah masing-masing. (HR Bukhari dan Muslim).

* 20 Rakaat :
1. Ibnu Abbas r.a berkata : “ Beliau Nabi SAW sholat pada bulan Ramadhan dengan dua puluh rakaat.” (HR. abu Bakar Abdul Aziz di dalam kitab ASSyafi).
2. Iman Thobroni dan Ibnu Humaid meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa Nabi SAW sholat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat lalu sholat witir.” Dalam riwayat lain bagi keduanya dan Imam Baihaqi dengan tambahan kata-kata : “Tidak berjama’ah”.
3. Dua riwayat dari Ibnu Abbas r.a ini telah menunjukkan bahwa tarawih Nabi SAW adalah dua puluh rakaat. Hadits ini menjadi sangat kuat didukung ijma’ sahabat dan ulamat salaf dan kholaf. Dan kemungkinan besar hadits inilah yang menjadi batu pijakan Sayyidina Umar r.a.
4. Said bin Yazid r.a berkata : “Mereka melakukan sholat pada masa Sayyidina Umar bin Khattab r.a di bulan Ramadhan dua puluh rakaat. Mereka membaca dua ratus ayat. Pada masa Sayyidina Usman r.a mereka berdiri dengan tongkat karena berdiri lama.” (HR. Baihaqi)
5. “Imam Baihaqi meriwayatkan dari Sayyidina Ali r.a tentang sholat Ramadhan dua puluh rakaat”.
6. Sedangkan menurut Imam Malim dalam kitabnya, Al-Muwatta :
"Dari Malik dari Yazid bin Ruman, ia berkata: Adalah manusia (umat Islam) mendirikan shalat pada jaman Umar bin Khattab sebanyak 23 raka'at".
7. Berkata Imam Sarbini Al-Khattab di dalam kitab Mughni Al-Mutaj : "Dan tarawih itu 20 raka'at dengan 10 salam (dilakukan) setiap bulan Ramadan, demikian hadits Baihaqi dengan sanad yang shahih, sesungguhnya sahabat-sahabat Nabi Saw mendirikan shalat pada masa Umar bin Khattab dalam bulan Ramadan sebanyak 20 raka'at, dan meriwayatkan Malik dalam kitab Al-Muwatta sebanyak 23 raka'at tetapi Baihaqi mengatakan bahwa yang tiga raka'at terakhir ialah shalat witir." Dan terpapar di kitab Shalat al-Tarawih fi Masjid al-Haram bahwa shalat Tarawih di Masjidil Haram sejak masa Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, dan seterusnya sampai sekarang selalu dilakukan 20 rakaat dan 3 rakaat Witir.
8. Dalam Fiqh as-Sunnah Juz II, hlm 54 disebutkan bahwa mayoritas pakar hukum Islam sepakat dengan riwayat yang menyatakan bahwa kaum muslimin mengerjakan shalat pada zaman Umar, Utsman dan Ali sebanyak 20 rakaat.
9. Sahabat Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW shalat Tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 Rakaat ditambah Witir. (HR Baihaqi dan Thabrani).
10. Ibnu Hajar menyatakan bahwa Rasulullah shalat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di malam Ramadhan. Ketiga tiba di malam ketiga, orang-orang berkumpul, namun rasulullah tidak keluar. Kemudian paginya beliau bersabda: “Aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya.” Hadits ini disepakati kesahihannya dan tanpa mengesampingkan hadits lain yang diriwayatkan Aisyah yang tidak menyebutkan rakaatnya. (Dalam hamîsy Muhibah, Juz II, hlm.466-467)

11. 36 Rakaat :
Shalat taraweh 36 rakaat dianut oleh mazhab-mazhab Maliki. Dizaman Kholifah Umar bin Abdul Aziz, pelaksanaan sholat tarawih itu ditingkatkan menjadi 36 rakaat. Hal Ini terjadi di Madinah.

* 39 dan 41 Rakaat :
Di dalam kitab ‘Umdatul Qari ‘Ala Syarhi Shahih Al Bukhori dikatakan bahwa ada yang mengatakan bahwa tarawih itu disunnahkan 41 rakaat (yakni dengan witir). Di dalam kitab Almajmu’ diterangkan bahwa Aswad bin Yazid melakukan sholat tarawih 40 rakaat plus witir tujuh rakaat.
Dan Nafi’ berkata Aku dapatkan orang melakukan qiyamu Ramadhan tiga puluh sembilan rakaat termasuk tiga rakaat witir. Madzhab Maliki melaksanakan sebanyak 39 rakaat sesuai riwayat ahli Madinah. Sebagaimana diketahui madzhab Maliki menganggap tindakan ahli Madinah merupakan dalil yang bisa dijadikan landasan.


Pembahasan :
Ada beberapa pendapat tentang raka’at shalat Tarawih; ada pendapat yang mengatakan bahwa shalat tarawih ini tidak ada batasan bilangannya, yaitu boleh dikerjakan dengan 20 raka'at, 8 atau 36 raka'at, 39 atau 40 rakaat.
Pangkal perbedaan awal dalam masalah jumlah raka’at shalat Tarawih adalah pada sebuah pertanyaan mendasar. Yaitu apakah shalat Tarawih itu sama dengan shalat malam atau keduanya adalah jenis shalat sendiri-sendiri? Mereka yang menganggap keduanya adalah sama, biasanya akan mengatakan bahwa jumlah bilangan shalat Tawarih dan Witir itu 11 raka’at.

Dalam wacana mereka, di malam-malam Ramadhan, namanya menjadi Tarawih dan di luar malam-malam Ramadhan namanya menjadi shalat malam/qiyamullail. Dasar mereka adalah hadits Nabi SAW:
”Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam ramadhan dan di luar Ramadhan dari 11 rakaat”. (HR. Al-Bukhari)

Sedangkan mereka yang membedakan antara keduanya (shalat malam dan shalat tarawih), akan cenderung mengatakan bahwa shalat Tarawih itu menjadi 36 raka’at karena mengikuti ijtihad Khalifah Umar bin ’Abdul Aziz yang ingin menyamai pahala shalat Tarawih Ahli Makkah yang menyelingi setiap empat raka’at dengan ibadah Thawaf. Lalu Umar bin ’Abdul Aziz menambah raka’at shalat Tarawih menjadi 36 raka’at bagi orang di luar kota Makkah agar menyamahi pahala Tarawih ahli makkah; Atau shalat Tarawih 20 raka’at dan Witir 3 raka’at menjadi 23 raka’at. Sebab 11 rakaat itu adalah jumlah bilangan rakaat shalat malamnya Rasulullah saw bersama sahabat dan setelah itu Beliau menyempurnakan shalat malam di rumahnya. Sebagaimana Hadits Nabi SAW.:
“Rasulullah SAW keluar untuk shalat malam di bulan Ramadlan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk shalat bersama umat di masjid, Rasulullah saw. shalat delapan raka’at, dan kemudian mereka menyempurnakan sisa shalatnya di rumah masing-masing. (HR Bukhari dan Muslim).

Sedangkan menurut ulama lain yang mendukung jumlah 20 raka’at, jumlah 11 raka’at yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak bisa dijadikan dasar tentang jumlah raka’at shalat Tarawih. Karena shalat Tarawih tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw kecuali hanya 2 atau 3 kali saja. Dan itu pun dilakukan di masjid, bukan di rumah.

Bagaimana mungkin Aisyah RA meriwayatkan hadits tentang shalat Tarawih Nabi SAW? Lagi pula, istilah shalat Tarawih juga belum dikenal di masa Nabi SAW. Shalat tarawih bermula pada masa Umar bin Khattab RA karena pada bulan Ramadlan orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar menyuruh agar umat Islam berjamaah di masjid dengan imamnya Ubay bin Ka'ab.
Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selesai melakukan shalat 4 raka’at dengan dua salam. Dan Umar RA. berkata: "Inilah sebaik-baik bid’ah".

Bagi para ulama pendukung shalat Tarawih 20 raka’at + witir 3 = 23, apa yang disebutkan oleh Aisyah bukanlah jumlah raka’at shalat Tarawih melainkan shalat malam (qiyamullail) yang dilakukan di dalam rumah beliau sendiri. Apalagi dalam riwayat yang lain, hadits itu secara tegas menyebutkan bahwa itu adalah jumlah raka’at shalat malam Nabi SAW., baik di dalam bulan Ramadhan dan juga di luar bulan Ramadhan.

Ijtihad Umar bin Khoththab RA tidak mungkin mengada-ada tanpa ada dasar pijakan pendapat dari Rasulullah saw, karena para sahabat semuanya sepakat dan mengerjakan 20 raka’at (ijma’ ash-shahabat as-sukuti).
“Allah tidak mempersatukan (ijma’) umatku atas kesesatan, tangan Allah diatas persatuan (ijma’) orang yang menyimpang (dari ijma’) ia menuju ke neraka.” (HR. Turmudzi dari Ibnu Umar).

Disamping itu, Rasulullah menegaskan bahwa Posisi Sahabat Nabi SAW sangat agung yang harus diikuti oleh umat Islam sebagaimana dalam Hadits Nabi SAW:
وَسُنَّةِ الخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّّتِيْ

"Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa' al-Rasyidun sesudah aku ". (Musnad Ahmad bin Hanbal).

Ulama Syafi’ayah, di antaranya Imam Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al Malibari dalam kitab Fathul Mu’in menyimpulkan bahwa shalat Tarawhi hukumnya sunnah yang jumlahnya 20 raka’at : “Shalat Tarawih hukumnya sunnah, 20- raka’at dan 10 salam pada setiap malam di bulan Ramadlan. Karena ada hadits: Barangsiapa Melaksanakan (shalat Tarawih) di malam Ramadlan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang terdahullu diampuni. Setiap dua raka’at haru salam. Jika shalat Tarawih 4 raka’at dengan satu kali salam maka hukumnya tidak sah……”. (Zainuddin al Malibari, Fathul Mu’in, Bairut: Dar al Fikr, juz I, h. 360).

Pada kesimpilannya, Dalil yang disebutkan di atas seputar 11, 23, 39 dan 40 raka'at dalam shalat tarawih masing-masing memiliki keshahihan. Bahwa pendapat tentang jumlah raka’at shalat tarawih adalah 20 raka’at + raka’at witir jumlahnya 23 raka’at, Atau yang melaksanakan shalat tarawih 8 raka’at + 3 withir jumlahnya 11 raka’at adalah tidak berarti menyalahi Islam. Sebab perbedaan ini hanya masalah furu’iyyah bukan masalah aqidah tidak perla dipertentangkan. Wallahu a’lam bi al-shawab

Bukankah indah bila kita mengerjakan shalat tarawih dengan keyakinan dan kepahaman yang sudah kita miliki ? Yang seharusnya kita utamakan adalah menghidupkan malam bulan Ramadhan dengan ibadah yang ikhas dan mengharap ampunan dari Allah atas dosa-dosa yang telah kita kerjakan.

RENUNGAN :
• Dari Abu Hurairah Ra : "Adalah Rasulullah s.a.w. menggemarkan sembahyang pada bulan Ramadan dengan anjuran yang tidak keras, Beliau bersabda: Barangsiapa mengerjakan sembahayang malam Ramadan dengan kepercayaan yang teguh dan kerana Alah semata, akan dihapus dosanya yang telah lalu" (HR Muslim)
• “Barangsiapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq'alaih).

“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......

Mengkaji Tradisi Megengan

Tradisi selametan megengan ini sudah mendarah daging di masyarakat Jawa yang oleh orang yang baru “mendalami Islam” sering dicap syirik, bida’h dan tidak ada pernah ada rujukan hadist yang sahih dengan menunjukan rasa tidak simpati dan dangkal akan apresiasi agama dan budaya. Tulisan ini merupakan apresiasi terhadap budaya megengan yang mulai terkikis di masyarakat perkotaan yang disebabkan kesibukan orang kota yang mulai menikmati hidup serba instan dan silang pendapat yang tidak simpati terhadap budaya lokal atas dasar keagamaan.

Megengan secara etimologi berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan, dalam tradisi lisan masyarakat pengguna bahasa Jawa (speech community) kata megeng selalu terkait dengan megeng nafas yang mempunyai makna “terasa berat, meskipun berat harus ditahan selayaknya orang menghirup nafas”. Kata megeng juga sepadan dalam penggunaan kata Ramadan secara lughat yang berarti “imsak”, kata “imsak” dalam tradisi pesantren salaf yang biasa memaknai kitab dengan leksikal berbahasa Jawa, kata imsak diartikan dengan “nge’ker” atau menahan yang di dalamnya ada unsur pengikatan yang kuat dan kukuh. Dari kajian secara morfologis dari kata megeng hingga menjadi kata megengan yang ditambah sufiks (akhiran) –an diakhir kata mengandung arti proses yang terus menerus dan juga pembentukan kata benda.

Dari kajian morfologis di atas kata megeng senafas dengan kata imsak, puasa dalam kacamata fikih diartikan proses menahan (megeng) dari yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan hal-hal yang membangkitkan syahwat, tetapi bila di kaji lebih dalam penggunaan kata megeng, puasa tidak hanya menahan yang membatalkan secara dhohir (fisik; makan, minum dll), melainkan hal-hal yang lembut dan batiniah seperti lembutnya tarikan nafas yang keluar masuk hidung yang setiap hari kita hirup, harus juga kita tahan, bila kita jabarkan lebih luas puasa tidak hanya menahan hal-hal yang membatalkan puasa saja, tetapi juga menahan kebiasan-kebiasan setiap hari yang bersifat batiniah dan ukhrowi.

Dalam kacamata ini puasa lebih bersifat latihan rasa yang mencakup dimensi batiniah, maka tidak heran dalam jarwa dhosok bahasa Jawa poso berarti “ngempet roso” ada juga yang mengartikan “ngeposke roso” yang mempunyai makna memberhentikan rasa. Dengan pemaknaan puasa Ramadan yang lebih dimaknai “olah rasa” yang bersifat batiniah melalui tradisi megengan ulama terdahulu mengajarkan kita untuk memaknai puasa Ramadan sebagai ritual yang sakral dengan cara menggelar tradisi megengan. Wallahu ‘alam bishowab.

Kalau kita mau belajar cara-cara para wali tanah jawa melestarikan ajaran Islam dalam kehidupan maka hal-hal itu ada mengandung maksud. Sebagai contoh :

* KOLAK berasal dari kata KHOLAQO = artinya menciptakan, menjadi Kholiq artinya Sang Maha Pencipta ( Tuhan semesta Alam). Artinya kita pada saat bulan Sya'ban / Ruwah mesti banyak menginat kepada Alloh Sang Maha Pencipta.
Karena pada bulan itu Allah SWT. menurunkan kudrat-irodatNya tentang takdir satu tahun mendatang termasuk daftar nama manusia yang akan maut/mati setelah 15 Syaban sampai 14 Syaban tahun depan.

* Kue APEM, asal kata dari AFUAN artinya ampunan, ma'af. Maksudnya kita di ingatkan pada bulan Sya’ban menjelang bulan Romadlon, bulan suci kita mesti banyak minta mapun kepada Alloh SWT. dengan banyak baca istighfar, sehingga kita memasuki bulan suci Romadlon dalam keadaan suci dari dosa.
Konon menurut sejarah, suatu hari di bulan safar, ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya kembali dari perjalanannya ke tanah suci. Ia membawa oleh-oleh 3 buah makanan dari sana. Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tidak memadai. Maka bersama sang istri mencoba membuat kue yang sejenis. Setelah jadi, kue-kue ini kemudian disebarkan kepada penduduk setempat. Pada penduduk yang berebutan mendapatkannya ki Ageng Gribig meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan”


Selanjutnya makanan ini dikenal oleh masyarakat sebagai kue apem, yakni berasal dari saduran bahasa arab “affan” yang bermakna ampunan. Tujuannya adalah agar masyarakat juga terdorong selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Lambat laun kebiasaan 'membagi-bagikan' kue apem ini berlanjut pada acara-acara selamatan menjelang Ramadhan. Harapannya, semoga Allah berkenan membukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya kepada umat muslim yang hendak menjalankan ibadah puasa. Dengan begitu umat muslim yang menjalankan ibadah puasa berharap dapat menjalankannya dengan lapang dada dan tenang juga.

* Ruwahan = ruwah dari kata arwah jamak dari ruh adalah karena pada bulan syaban turun ketentuan pisahnya ruh dengan jasad manusia.
Ruwahan di bulan Sya’ban (atau Ruwah) dalam budaya Islam Jawa adalah tradisi yang selalu dilaksanakan sepuluh hari sebelum bulan Puasa (Ramadhan) menjelang. André Möller dalam bukunya Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar (2005) mencatat dengan jelas bahwa ritus Jawa ini -yang selalu dituduh oleh kaum puritan sebagai satu dari banyak biang TBC (Tahyul, Bidah, Churafat) orang Islam Jawa- merupakan bentuk iman kesalehan individual dan kolektif. Di event ruwahan inilah sejumlah ritus digelar guna menyambut Ramadan: dari acara nisfu syaban, arak-arakan keliling kota, bersih desa yang diiringi slametan kecil lalu kenduren di malam harinya, kemudian esok paginya ziarah kubur, hingga berkahir pada acara padusan tepat di penghujung hari menjelang Puasa.

* Munggahan = munggah = naik yaitu naik masuk ke bulan romadlon yang ada kewajiban puasa, yaitu niat masuk bulan puasa dan mau puasa sebulan penuh.

* Nyandran = sadran = sya'ban = biasanya sedekahan sekalian mendoakan para arwah orang tua/sauadra muslim yang telah wafat.
Pada acara nyadran bebungaan ditaburkan di atas pusara mereka yang kita cintai, karena itu nyadran juga disebut nyekar (menghantarkan bunga). Indahnya warna-warni bunga dan keharumannya menjadi simbol bagi orang Jawa untuk selalu mengenang semua yang indah dan yang baik dari diri mereka yang telah mendahului. Dengan demikian, ritus itu memberikan semangat bagi yang masih hidup untuk terus berlomba-lomba demi kebaikan (fastabaqul khoirat). Biasanya, orang Jawa membersihkah dahulu sekitar makam dari rerumputan liar dan sampah lalu membacakan tahlil dan yasin berdoa pada tuhan agar mereka yang telah tiada senantiasa mendapat rahmat dari Gusti Allah SWT.

* Nyekar = sekar = bunga untuk ziarah makam ( wangi-wangian). Kirim doa, memohonkan ampunan dan kirim makanan ruhani berupa ayat-ayat al-Qur'an dan bacaan dzikir.

* Ziarah = berkunjung = silaturahim. Pada umumnya kata ini khusus untuk ziarah makam, padahal ziarah ke yang masih hidup juga boleh misal ke Bapak Ibu kita. Tujuannya menyambung silaturahim dan saling memaafkan dan mendoakan keselamatan.

Menurut Penjelasan Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA. (Direktur Imarah-Ijtima'iyah Masjid Al Akbar Surabaya)

Yang harus dipahami terlebih dahulu, megengan berada dalam ranah sosial-kultural (kemasyarakatan dan kebudayaan) yang mengacu pada aspek kemaslahatan dan tidak bisa dilabeli dengan istilah bid'ah jika tidak bisa dirujukkan langsung pada dalil naqli atau contoh dari Nabi SAW. Dalam banyak hadis sahih, Nabi SAW bersabda, yang maknanya, siapa yang merintis kebiasaan baik akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya.

Megengan tidak berada dalam ranah dogma-ritual (ajaran pokok peribadatan) yang mengacu pada aspek ketaatan total atau contoh dari Nabi SAW, yang jika menyalahinya dilabeli dengan istilah bid'ah. Nah, karena megengan masuk dalam ranah sosial-kultural yang mengacu pada kemaslahatan, orang bersedekah dengan membawa ambeng (beragam jenis makan) itu jelas baik dan bermanfaat bagi yang masih hidup.


Begitu juga doa-doa untuk orang-orang Islam yang telah meninggal tersebut, yakni amat bermanfaat dan mereka tunggu-tunggu (baca surat Al-Hasyr 10)*. Asalkan, ambeng tidak dibuat dengan memaksakan diri. Tidak diniati macam-macam, seperti dikirimkan bagi mayat, maupun mengotori masjid. Selain itu, doa-doanya tidak menyalahi tuntunan agama Islam.

Dengan begitu, megengan dibolehkan, bahkan mustajab (disukai). Mengenai jenis makanan dalam ambeng yang biasanya didominasi apem, pisang, dan tumpeng, asal tidak disisipi keyakinan macam-macam, juga tidak masalah. Anggap saja itu sebagai selera atau kebiasaan lokal yang sama sekali bukan doktrin agama.


* surat Al-Hasyr 10 :


وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

Setelah megengan apa yang harus kita lakuka?

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu bertakwa” (Al Baqarah:183)

1. Abu Sa’id Al-Khudriy ra. Berkata Rasulullah SAW. Bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari karena Allah, melainkan Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.”(Muttafaq ‘alaih)
2. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala kepada Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih)
3. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan diikat kuat.” (Muttafaq ‘alaih)
4. Ibnu Abbas ra. Berkata, “Rasulullah adalahorang yang paling pemurah, lebih-lebih pada bulan Ramadhan ketika ditemui Jibril. Setiap malam di bulan Ramadhan, Jibril datang untuk membacakan Al Qur’an. Saat ditemui Jibril, Rasulullah saw. Lebih pemurah daripada angin yang bertiup.” (Muttafaq ‘alaih)
5. Aisyah ra. Berkata, “Apabila sudah masuk 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah selalu menghidupkan malam (dengan beribadah), membangunkan keluarganya dan mengikat sarungnya (tidak menggauli istrinya).” (Muttafaq ‘alaih)
6. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan bohong dan melakukan kebohongan, maka Allah tidak membutuhkan dia meskipun meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

“Semoga bermanfaat”


Baca selengkapnya......