Kamis, 02 Desember 2010

Mensikapi Cepat atau Lama Terkabulkannya Doa

Termasuk musibah bagi seorang muslim dikala berdoa namun tidak kunjung dikabulkan, dia mengulang-ulang dan bersungguh-sungguh dalam berdoa hingga waktu yang dianggap lama namun tidak juga melihat pengaruh do’anya.


Dari sinilah syetan mendapat kesempatan , mulailah dia membisikkan was-was atau prasangka buruk kepada orang yang berdoa kepada Allah SWT., serta dia akan menjatuhkan kedalam sifat putus asa atau buruk sangka kepada sang Maha Pengkabul doa (menerima permintaan hamba-Nya).


Maka apakah hal ini melanda pada diri anda ? bila benar, maka janganlah anda sampai memasukkan apa yang dibisikkan syetan pada diri anda. Dengan demikian diakhirkannya pengkabulan doa anda itu akan membawa hikmah besar dan rahasia yang luar biasa dari Allah SWT.


Seandainya orang merenungi doanya, dan tidak terlintas di hatinya kegelisahan akibat diakhirkannya pengabulan doa anda.


Diakhirkannya pengabulan doa anda termasuk ujian. Demikian pula cepatnya pengabulan doa anda juga termasuk ujian dari Allah SWT.


Coba anda baca petunjuk Allah dalam al-Qur’an :


“Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya dan hanya kepada Kami-lah kalian dikembalikan “. (QS. Al-Anbiya’ [21] : 35)


Setelah kita pahami, ternyata ujian berupa kebaikan membutuhkan syukur (terima kasih), sedangkan ujian berupa keburukan membutuhkan kesabaran, sehingga jangan sampai anda menganggap lama masa ujian itu membuat anda bosan untuk berdoa. Hal ini perlu anda sadari bahwa anda sedang diuji dengan musibah dan diperintahkan untuk tetap beribadah dengan kesabaran serta berdoa.


Oleh karena itu janganlah anda berputus asa dari rahmat Allah sekalipun musibah itu berlangsung lama, karena Allah SWT. Sedang menguji dan hendak menampakkan jati diri anda. Apakah dengan ujian ini anda bisa bersabar atau justru berpaling dan menentang kehendak Allah SWT.


Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan ; “Saya memasuki waktu pagi dan tidaklah ada pada saya kesenangan kecuali didalam menanti terjadinya ketentuan-ketentuan takdir, jika berupa kebaikan, maka saya bersyukur, dan jika berupa keburukan, maka saya bersabar”. (Siirah Umar bin Abdul Aziz, karya Ibnu Abdul Hakim, hal. 97)


Ibnu Nasyiruddin ad-Dimasyqi mengatakan ; “Tidak ada tempat lari bagi seseorangpun dari urusan dan ketentuan Allah SWT. Dan seseorang tidak akan dapata terhindar dari hukuman dan ujian-Nya yang berlaku. Sesungguhnya kita milik Allah SWT. yang berada dibawa kekuasaan-Nya serta merupakan hamba-hamba-Nya, Dia mengatur kita sebagaimana yang Dia inginkan dan Dia kehendaki”. ( Bardu al-Akbaad ‘inda Faqdi al-Aulad, karya Ibnu Nasyiruddin ad-Dimasyqi, hal 38)

Berfikir sejenak lewat Do’a Nabi Ibrahim as.


Mari kita selami surat As-Syu’araa’ ayat 78-81 dan ayat 83-86. Didalam surat itu terdapat do’a Nabi Ibrahim kepada sang pencipta Al-Khaliq. Betapa indahnya dan santunnya nabi kita Ibrahim ‘as. ketika berdo’a dan meminta kepada Allah SWT.


Nabi Ibrahim as. memulai do’anya dengan memberikan sanjungan kepada Sang Pengabul Permintaan :


“Allah-lah yang telah menciptaka aku, dan Dialah yang memberi hidayah kepadaku, dan Dialah zat yang memberi makanan untukku dan memberi minuman kepadaku, dan apabila aku sakit maka Dia juga yang menyembuhkan sakitku, dan Allah-lah zat yang mematikan aku, dan juga zat yang menghidupkan aku (kembali), dan Dia pulalah zat yang aku berharap akan mengampuni dosa-dosaku pada hari pembalasan.” (Qs. Asy-Syu’ara: 78-80)


Kemudian beliau mengajukan permohonan :


“Ya Allah berilah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku dari bagian orang-orang sholeh. Dan jadikanlah untukku menjadi manusia yang dipuji-puji banyak orang pada generasi setelahku. Ya Allah jadikan aku penghuni surga yang penuh kenikmatan. Dan ya Allah ampunilah ayahku, sesungguhnya dia orang yang tersesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari manusia dibangkitkan.” (Qs. Asy-Syu’ara 83-86)


Doa atau permohonan nabi Ibrahim as. ada yang dikabulkan dan ada juga yang tidak dikabulkan.


Permohonan yang dikabulkan Allah SWT.:

1. Meminta ilmu, maka Allah berfirman dalam surat An-Nisaa’ ayat 54 yang artinya, “Maka sungguh telah kami berikan kepada keluarga Ibrahim kitab suci yaitu ilmu.”

2. Masukkanlah aku dari bagian orang-orang sholeh. Demikian pula Allah telah berfirman dalam surat Yusuf ayat 101 yang artinya, “Sesungguhnya Ibrahim di akhirat termasuk orang-orang yang sholeh.”

3. Jadikanlah untukku menjadi manusia yang dipuji-puji banyak orang pada generasi setelahku. Allah jelaskan dalam surat Shaafaat ayat 108 yang artinya, “Dan kami tinggalkan Ibrahim pujian yang baik dan ucapan yang baik bagi orang-orang setelahnya.”

4. Jadikan aku penghuni surga yang penuh kenikmatan. Permohonan ini Allah jelaskan dalam surat Huud ayat 73 yang artinya, “Rahmat Allah dan keberkahan Allah untuk kalian wahai keluarga Ibrahim.”


Permohonan yang tidak dikabulkan Allah SWT. :

5. Ampunilah ayahku, sesungguhnya dia orang yang tersesat. Akan tetapi berkaitan dengan permohonan ini, Allah tidak dapat mengabulkannya yaitu diterangkan dalam surat At-Taubah ayat 114 yang artinya “Dan Ibrahim meminta maaf pada Allah tentang permohonan ampunan untuk ayahnya. Maka tatkala telah jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri darinya.”


Allah SWT. memuliakan orang yang meminta / memohon / doa kepada Allah SWT. Memaserahkan hidup dan mati adalah tekad kita menuju Allah SWT. maka sikap peromohan kita sudah tentu mengikuti aturan Allah SWT. Cepat atau lama terkabulnya sebuah doa itu salah satu aturan yang dimainkan oleh Sang Maha Pengatur.


Sekali lagi menerima segala apa yang diberikan Allah SWT. dan berusaha beramal shalih akan lebih baik dan lebih banyak diperhtikan oleh Allah SWT. bukankah Allah SWT. telah menyatakan dalam surat al-Haj ayat 50, bahwa orang yang beriman dan mau beramal shalih, Allah SWT. akan memberikan pengampunan dan rizqi yang mulia.


Sebuah cita-cita akan sangat baik bila kita senantiasa memohon petunjuk Allah SWT. dan selanjutnya berikhtiyar dengan amal shalih, insya Allah segala cita-cita kita akan diwujudkan oleh Allah SWT.


“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......

Kamis, 11 November 2010

Cuplikan info yang anda Tunggu Tentang Idul Adha 1431 H.


Jakarta--Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan hari Idul Adha tahun ini jatuh pada 17 November. Penetapan ini dilakukan setelah tim Ru’yatul Hilal Lajnah Falakiyah PBNU di beberapa lokasi terpisah gagal melihat bulan.

“Berpijak dari hasil tim ru’yah Lajnah Falakiyah PBNU tersebut maka kami kabarkan juga kepada masyarakat muslim bahwa shalat Idul Adha 1 Dzulhijjah 1431 H dilaksanakan pada hari Rabu (17/11),” ujar Ketua Badan Kominfo dan Publikasi PBNU Sulthan Fatoni seperti dilansir detikcom, Rabu (10/11).

Sulthan menambahkan, istikmal (30 hari bulan Dzulqa’dah 1431 H) dipilih berdasarkan ketidakberhasilan melihat bulan pada tanggal 6—7 November 2010 dan pendapat mazahibul arba’ah (empat mazhab).
Informasi kepastian waktu salat Idul Adha ini penting bagi PBNU sebagai bagian dari tugas ulama membimbing umat Islam agar beribadah dengan baik dan benar.

“Substansinya adalah NU mengabarkan bahwa Dzulhijjah tahun ini selama 30 hari dan Salat Idul Adha 1431 H jatuh pada hari Rabu dikabarkan berdasarkan ru’yatul hilal bil fi’li, bukan berdasarkan hisab,” jelas Sulthan.

Lebih lanjut Sulthan menjelaskan bahwa tradisi ikhbar (informasi) tentang hasil ru’yatul hilal bil fi’li mendasarkan pada keputusan Muktamar NU Ke 20 di Surabaya pada 1954 yang menjelaskan bahwa Rasulullah dan Khulafaurrasyidin tidak mengenal metode selain selain ru’yatul hilal bil fi’li.

#

TRIBUNNEWS.COM - Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan tanggal 1 Dzulhijjah 1431 H jatuh pada Senin, 8 November 2010. Dengan demikian hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah akan jatuh pada Rabu, 17 November 2010.

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri mengungkapkan, penentuan awal Dzulhijjah ini berdasar pada kaidah istikmal atau penyempurnaan hitungan bulan Dzulqo'dah menjadi 30 hari karena proses rukyatul hilal atau observasi bulan sabit untuk penentuan awal bulan yang dilakukan pada Sabtu, 29 Dzulqo'dah kemarin tidak berhasil.

"Awal Dzulhijjah jatuh pada hari Senin, 8 November, atas dasar istikmal sehubungan dengan laporan rukyah dari daerah-daerah tidak berhasil melihat hilal," kata Kiai Ghazali dalam keterangannya kepada NU Online, Senin (8/11).

Sementara itu sidang istbat atau rapat resmi penetapan awal Dzulhijjah dan hari raya Idul Adha 1431 H bersama Kementerian Agama (Kemenag) baru dilakukan pada Senin hari ini di kantor Pusat Kemenag, Jakarta, yang diikuti perwakilan ormas Islam dan pakar astronomi. (nu.or.id)

#

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ormas Islam Muhammadiyah menetapkan hari Idul Adha jatuh pada hari Selasa, 16 November mendatang. Penetapan ini berbeda dengan tanggal yang telah ditetapkan pemerintah, yakni Rabu, 17 November.

"Pada tanggal 6 hilal (bulan baru) sudah muncul maka kami menetapkan 1 Dzulhijah pada hari Minggu dan Idul Adha 10 Dzulhijah pada hari Selasa 16 November," kata anggota sekretaris Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, Ma'Rifat Iman saat sidang penentuan Idul Adha di kantor Kementerian Agama, Jakarta, hari ini (8/11).

Perbedaan itu antara lain disebabkan perbedaan sistem dan kriteria yang digunakan pemerintah dan Muhammadiyah dalam menentukan munculnya tanda pergantian bulan baru. "Karenanya kami memohon kepada pemerintah dan ormas Islam lainnya untuk bersikap arif dan berbesar hati dalam menghargai perbedaan ini," ujar Ma'rifat.

Namun, ketetapan hari Idul Adha versi Muhammadiyah sama dengan ketetapan Pemerintah Arab Saudi dan 17 negara Islam lainnya. Sementara 7 negara, termasuk di antaranya Indonesia dan Malaysia, menetapkan Idul Adha pada 17 November. Sedangkan ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama senada dengan pemerintah dalam penentuan Idul Adha.

Sejumlah wakil dari ormas-ormas Islam lainnya juga hadir dalam sidang tersebut. Antara lain Al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan NU. Menanggapi adanya perbedaan tersebut ormas Islam yang hadir berharap agar umat Islam tidak perlu merasa bingung.

Ketua MUI, Umar Shihab menghimbau agar seluruh pihak tak saling menunjuk siapa yang salah dan yang benar. "Jangan ada di antara kita yang menyatakan itu, masing-masing benar sesuai dengan dasar yang diyakininya," katanya.

Majelis Ulama Indonesia, lanjut Umar, mengambil keputusan setelah melakukan pertemuan dengan ulama di Indonesia. Dalam penentuan tersebut MUI mengikuti keputusan pemerintah, tidak menentukannya sendiri.

Menanggapi perbedaan penetapan ini, mulai tahun depan Kementerian Agama akan memberi perhatian khusus kepada seluruh badan hisab dan rukyat terkait penentuan tanggal hari raya.
"Akan dibicarakan dan diusahakan bagaimana caranya kita sampai pada satu kesamaan dan keyakinan dalam menetapkannya," kata Direktur Bina Masyarakat Islam Kementrian Agama, Nasruddin Umar.

#

Memahami perbedaan Idul Adha 1431 H

MENJELANG Hari Raya Idul Adha 1431 H (tahun ini), di kalangan masyarakat awam beredar pertanyaan mengapa akan terjadi perbedaan antara Muhammadiyah, NU, pemerintah, dan Arab Saudi dalam penentuan 1 Dzulhijjah 1431 H yang berdampak perbedaan penetapan tanggal 10 Dulhijjah sebagai hari raya Idul Adha. Pertanyaan ini wajar ramai dibicarakan karena jauh-jauh hari Kementerian Agama RI dalam hal Dirjen Bimas Islam Prof Dr H Nazaruddin Umar MA menyatakan bahwa Idul Adha tahun ini berpotensi terjadi perbedaan antara Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, pemerintah, dan Arab Saudi (Media on line, Jumat, 22 Oktober 2010).

Perbedaan antara Muhammadiyah dengan NU dan pemerintah bahkan kiranya sudah terbaca dengan jelas dalam sidang tim pakar hisab rukyah Indonesia yang tergabung dalam Badan Hisab Rukyah RI yang pada tanggal 2 November 2010 melakukan rapat bersama. Dan secara resmi pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama RI melakukan penetapan resmi setelah sidang isbat 1 Idul Adha 1431 H yang dilaksanakan pada tanggal 6 November 2010. Perbedaan penetapan bulan Qamariyah yang berkaitan dengan ibadah yakni penetapan awal-akhir Ramadan dan awal Dzulhijjah di Indonesia memang biasa terjadi.

Bahkan Snouck Hourgronje pernah menyatakan kepada Gubernur Jenderal Belanda, ”Tak usah heran jika di negeri ini hampir setiap tahun timbul perbedaan penetapan awal dan akhir puasa (dan penetapan Idul Adha). Bahkan terkadang perbedaan itu terjadi antara kampung- kampung berdekatan” (Tempo, 26 Maret 1994). Pertanyaan Snouck Hourgronje tersebut tidaklah berlebihan, karena memang banyak sekali aliran pemikiran yang berkaitan dengan penetapan tersebut.

Aliran pemikiran itu muncul karena perbedaan pemahaman dasar hukum hisab-rukyat yang masih mujmal yakni hadis ”Shumu lirukyatihi wa afthiru lirukyatihi.” Bahkan, persinggungan Islam sebagai great tradition dan budaya lokal sebagai little tradition menumbuhkan aliran tersendiri, dalam hal ini sebagaimana munculnya aliran hisab Jawa Asapon dan hisab Jawa Aboge.

Secara keseluruhan aliran pemikiran yang berkaitan dengan penetapan awal bulan Qamariyah termasuk Idul Adha adalah sebagai berikut :

Pertama, aliran hisab wujudul hilal. Aliran ini berprinsip jika menurut perhitungan (hisab), hilal dinyatakan sudah di atas ufuk, hari esoknya dapat ditetapkan sebagai tanggal baru tanpa harus menunggu hasil melihat hilal pada tanggal 29. Prinsip tersebut selama ini dipegang oleh Muhammadiyah.

Kedua, aliran rukyat dalam satu negara (rukyah fi wilayatil hukmi). Prinsip aliran ini berpegang pada hasil rukyat (melihat bulan tanggal satu) pada setiap tanggal 29. Jika berhasil melihat hilal, hari esoknya sudah masuk tanggal baru. Namun, jika tidak berhasil melihat hilal, bulan harus disempurnakan 30 hari (diistikmalkan) dan hanya berlaku dalam satu wilayah hukum negara.
Keberadaan hisab dipergunakan sebagai alat bantu dalam melakukan rukyat. Prinsip ini yang dipegangi Nahdlatul Ulama selama ini.

Ketiga, aliran hisab ”imkanurrukyah” (hisab yang menyatakan hilal sudah mungkin dapat dilihat). Inilah aliran yang dipegangi pemerintah dengan standar imkanurrukyah 2 derajat dari ufuk.

Keempat, aliran rukyat internasional atau rukyat global yang berprinsip jika di negara mana pun menyatakan melihat hilal, maka hal itu berlaku untuk seluruh dunia tanpa memperhitungkan jarak geografis. Aliran tersebut yang selama ini di Indonesia dikembangkan oleh Hizbut Tahrir.

Kelima, aliran hisab Jawa Asapon yang berpedoman pada kalender Jawa Islam yang diperbaharui dengan ketentuan Tahun Alif jatuh pada Selasa Pon. Aliran ini dianut oleh Keraton Yogyakarta.

Keenam, aliran hisab Jawa Aboge yang berpedoman pada kalender Jawa Islam yang lama dengan ketentuan Tahun Alif jatuh pada Rabu Wage. Aliran ini yang dianut oleh mayoritas pemeluk Islam Kejawen seperti di Dusun Golak Ambarawa Kabupaten Semarang.

Ketujuh, aliran mengikuti Makah yang berprinsip kapan Makah menetapkan, maka penganut aliran ini mengikutinya. Melihat fenomena semacam ini, sangatlah arif ketika terjadi perbedaan, maka dalam rangka mengembangkan sikap berdemokrasi yang baik, kita perlu mengembangkan sikap agree in disagreement (ittifaq fil ikhtilaf) sebagaimana dilontarkan oleh guru bangsa kita, mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid.

Prediksi penentuan

Menurut perhitungan (hisab) kontemporer, ijtima akhir Dzulqa’dah 1431 tejadi pada hari Sabtu, 6 November 2010 pada pukul 11.52 WIB (pukul 04.52 GMT). Di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke ketinggian hilal masih di bawah 2 derajat, dan bulan terbenam sekitar 7 menit dari terbenam matahari.

Berdasarkan data hisab tersebut, Muhammadiyah dengan prinsip hisab wujudul hilal tetap jauh-jauh hari berani menyatakan bahwa awal Dzulhijjah 1431 H jatuh pada Ahad, 7 November 2010 dan Idul Adha 1431 dan ditetapkan pada Selasa, 16 November 2010. Ini tidak keliru, karena menurut hisab memang hilal sudah di atas ufuk. Sehingga sunah puasa tarwiyah pada Minggu, 14 November, puasa arafah pada hari Selasa, 15 November dan pelaksanan ibadah kurban disunahkan sampai pada tanggal 19 November 2010.

Sedangkan Nahdlatul Ulama dan pemerintah karena dengan pertimbangan hilal tidak mungkin dilihat dan memang tidak berhasil merukyat, walaupun sudah di atas ufuk, maka pemerintah dan Nahdlatul Ulama akan menetapkan bulan Dzulqa’dah 1431 H harus disempurnakan 30 hari dan awal Dzulhijjah 1431 H baru ditetapkan pada Senin, 8 November 2010, sehingga Idul Adha jatuh pada Rabu, 17 November 2010. Sedangkan sunah puasa tarwiyah pada senin, 15 November 2010, puasa arafah pada hari Selasa, 16 November 2010.

Sedangkan aliran rukyah global yakni Universal Hejri Calendar (UHC) yang merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180’ BT ~ 20’ BB sedangkan Zona Barat meliputi 20’ BB~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

Berkaitan dengan kemungkinan terjadi perbedaan penetapan Idul Adha tersebut, yang terpenting adalah kita memegang pemahaman sebagai dengan keyakinannya masing- masing, karena ini masalah ijtihadiyyah, di mana tiap-tiap aliran pemikiran mempunyai dasar ijtihad sendiri.

Dengan demikian mengembangkan sikap agree in disagreement (ittifaq fil ikhtilaf) kiranya sangat perlu kita kembangkan. Sehinggga bagi yang meyakini berdasarkan hisab wujudul hilal (yang dipegangi Muhammadiyah), maka awal Dulhijjah 1431 H jatuh pada Ahad, 7 November 2010 berarti dapat melaksanakan sunah puasa Tarwiyah pada Ahad, 14 November, puasa Arafah pada Senin, 15 November dan merayakan Hari Raya Idul Adha pada Selasa, 16 November 2010 dan kesunahan waktu penyelembihan kurban sampai tanggal 19 November 2010.

Yang meyakini berdasarkan rukyat (yang dipegangi Nahdlatul Ulama) dan hisab imkanurrukyah (yang dipegangi Pemerintah), maka awal Dulhijjah 1431 H jatuh pada Senin, 8 November 2010, yang berarti dapat melaksanakan puasa tarwiyah pada Senin, 15 November 2010, puasa Arafah pada Selasa, 16 November 2010 dan merayakan Hari Raya Idul Adha pada Rabu, 17 November 2010 dan waktu penyembelihan kurban sampai tanggal 20 November 2010. Wallahu a’alam bishshawab.

=========
H Ahmad Izzuddin MAg Dosen Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang, Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia, Kandidat Doktor PPs IAIN Walisongo, sedang mengikuti shortcourse di Nasional University of Singapore (NUS)

Baca selengkapnya......

Minggu, 07 November 2010

AKTIFITAS DI BULAN DZUL HIJJAH

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu menunjukkan ketakwaan hati”. (QS. al-Hajj [22]: 32)

Walaupun pada saat-saat ini bangsa kita dilanda berbagai ujian yang Allah timpakan, maka kita harus berusaha memohon perlindungan dan petunjuk-Nya. Disisi lain semoga Allah memberikan jalan atau solusi terbaik bagi kita dalam menghadapi kejadian-kejadian itu semua, sehingga kita tetap dalam mensyukuri atas segala pemberian Allah dan mampu mensikapinya dengan baik. Dan semoga segala kesalahan kita, Allah mengampuninya dan menjadikan kita menjadi hamba-Nya yang pinter berintropesksi diri dan bertaubat kepada-Nya serta meningkatkan amal shaleh.

Kita berkeyakinan bahwa Allah akan senantiasa memperhatikan siapa diantara kita yang banyak beramal shalih. Sebagaimana Allah firmankan dalam al-Qur’an :

“Orang-orang yang beriman dan mau beramal shaleh, maka allah akan memberikan pengampunan dan rizqi yang mulia”. (QS. Al-Hajj [22] : 50, lihat juga QS. Al-Mulk [67] : 2)

Di dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita akan menjumpai hari-hari yang Allah berikan keutamaan didalamnya. Yaitu balasan amal hamba-Nya dengan pahala yang berlipat, tidak seperti hari-hari biasanya. Sebentar lagi kita berada di bulan Dzulhijjah, apa yang seharusnya kita lakukan sebagai hamba yang ingin mendapatkan keberuntungan di bulan Dzulhijjah.

Nabi saw. Bersabda : “Tidaklah ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari tersebut (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah tidak lebih utama?” Rasulullah saw. berkata: “Tidaklah jihad lebih utama (dari beramal di hari-hari tersebut), kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan keduanya (karena mati syahid)”. (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas)

Dalam hadits lain Rasulullah saw. bersabda : “Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan Dzulhijjah”. (HR. Muslim)

Aktifitas apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim di bulan mulia ini?
Aktifitas di Bulan Dzulhijjah diantaranya adalah :

1. Memperbanyak berdzikir kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT. : “Dan supaya mereka berdzikir menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (QS. al-Hajj [22]: 28). Dalam ayat lain dijelaskan, “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang”. (QS. al-Baqarah [2] : 203). Nabi juga pernah bersabda : “Hari-hari Mina (hari nahr dan tasyriq) adalah hari-hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah SWT.”. (HR. Muslim). Dalam hadits lain Nabi bersabda : “Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah untuk beramal baik pada-Nya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)". (HR. Ahmad dari ibnu Umar)

2. Berpuasa. Ketika menjumpai hari Arafah, yaitu hari ke-9 di bulan Dzulhijjah, sangat ditekankan bagi kaum muslimin untuk berpuasa yang dikenal dengan istilah puasa Arafah, kecuali bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah. Sebagaimana Nabi saw. Bersabda : "Hari yang paling utama adalah hari Arafah" (HR. Ibnu Hibban dari Jabbir). Nabi juga pernah bersabda : “(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang”. (HR. Muslim). Pada hadits lain dijelaskan bahwa, “Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka, lebih banyak daripada di hari Arafah”. (HR. Muslim).

3. Tidak memotong rambut dan kuku. Sebagaimana Sabda Nabi saw. ,"Bila kalian melihat hilal (bulan sabit) Dzul Hijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkorban maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya". (HR. Muslim dari Ummu Salama)

4. Memotong hewan qurban bagi yang mampu pada hari raya Qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah). Nabi saw., bersabda : "Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu.". (Muttafaq 'Alaihi)

5. Shalat Ied. Melaksanakan shalat Ied dan mendengarkan khutbah agar mendapat pencerahan ilmu, dan mengetahui hikmah disyari'atkannya shalat Ied, yaitu: hari untuk menggemakan kesyukuran dan beramal kebajikan.

6. Melaksanakan ibadah haji dan umrah. Ini adalah amal yang paling utama di bulan Dzulhijjah. Tidak ada haji selain di bulan Dzulhijjah. Firman Allah : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; (Barang siapa mengingkari kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta”. ( QS. Ali Imron [3]: 97). Disamping itu ganjaran bagi orang yang melaksanakan ibadah ini sangat besar disisi Allah SWT. Sabda Nabi saw., “Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT. berfirman: Sesungguhnya seorang hamba yang telah Aku sehatkan jasmaninya, telah Aku luaskan rizkinya di dalam kehidupannya, dan berlalu lima tahun semantara dirinya tidak datang kepada -Ku maka sungguh dia adalah orang yang terhalangi”. (HR. Ibnu Hibban dari Abi Said al-Khudri)

7. Beramal Shalih. bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya. (Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411), lihat juga Fathul Baari (2/460).

Pada akhirnya semoga dengan apa yang telah saya sampaikan, kita bisa melasakanannya dengan mengharap penuh keridloan Allah SWt. Sehingga kita menjadi manusia yang beruntung, khususnya bisa mengisi aktifitas kita di bulan Dzul Hijjah dengan benar. Dan semoga kualitas iman dan amal kita semakin berkualitas dan bermanfaat buat dirikita khususnya dan masyarakat yang menginginkan kemulian dari Allah SWT.

“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......

Jumat, 15 Oktober 2010

MENSIKAPI NIKMAT ALLAH SWT.

Satu Syawal (Idul Fitri) adalah sebagai hari fitrah setelah melewati satu bulan (ramadhan) sebagai realisasi sabar dan tawakkal kepada Allah. Bertakbir dan bertahmid yang dijiwai dengan hati yang suci, menundukkan jiwa kepada Allah (hablum ninallah), memelihara hubungan baik sesama manusia (hablum minan-naas) adalah sebagai pembuka lembaran baru, kehidupan berbudi pekerti khususnya diri pribadi kita, keluarga kita, sifat sosial kita ditandai dengan keikhlasan hati, kejujuran, keadilan dan silaturrahmi saling memaafkan dengan ucapan “Taqobbalallah minna waminkum minal ‘aidin wal faizin”.

Setelah berpuasa satu bulan penuh dan menerima idul fitri, rasanya cukuplah kita untuk mendidik kita supaya ingat akan nasib orang yang lapar, nasib fakir miskin yang jumlahnya cukup banyak. Rasa tanggung jawab menuntut adanya sifat tolong menolong antar sesama manusia.

Tidak dinamakan Idul Fitri bila ia sendiri yang menikmatinya sambil membiarkan orang lain lapar, hidup tertindas dibawah penderitaan, maka dari sini kita dapat memahami dalam rangka Idul Fitri diwajibkan menunaikan zakat fitra kepada yang berhak menerimanya. Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dirinya hendaklah ia mengusahakan kebahagiaan kepada orang lain.

Abu Hurairah r.a. mengatakannya, “Bahwa seorang dusun datang kepada Nabi saw lalu berkata, "Tunjukkan kepadaku amal yang apabila saya amalkan, maka saya masuk surga." Beliau menjawab, "Kamu menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat fardhu, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan Ramadhan." Ia berkata, "Demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya (kekuasaan-Nya), saya tidak menambah atas ini." Ketika orang itu berpaling, Nabi saw bersabda, "Barangsiapa yang ingin melihat seseorang dari penghuni surga, maka lihat lah orang ini." (HR. Bukhari No. 698)

Nikmat Allah

Nikmat yang selama ini kita wujudkan, selama itu pula Allah menyertakan bermacam-macam kenikmatan. Bila Allah menarik nikmat ini, maka hilanglah diri kita. Allah melengkapi jasad kita dengan disertakannnya pendengaran, penglihatan, akal, ruh adalah sebagai tanda bahwa Allah memelihara diri kita.

Nikmat makan minum, harta benda, kesehatan dan kesempatan waktu beribadah dan lain sebagainya itu Allah berikan kepada seluruh hamba-Nya.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nahl [16]: 18).

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An-Naml [27]: 40).

Maka perlu kita syukuri atas segala nikmat Allah yang kita terima. Melakukan rasa syukur kepada Allah dengan lidah, hati dan seluruh anggota tubuh dengan menyakini dan merasakan adanya penyertaan Allah di tubuh kita..

Umur Manusia

Menyadari karena Allah memelihara kita dengan memberi nikmat, maka haruslah selalu bersyukur dan berusaha selalu beramal dengan ikhlash, berperilaku yang baik sesuai tuntunan agama yang diridloi Allah. Tiada lain karena kita sadar bahwa unur kita di dunia ini sangat terbatas. Kita mutlak akan kembali dipanggil menghadap Allah.

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS. Al-A’raf [7]: 34).

Oleh karenanya berfikir tentang usia manusia itu menunjukkan orang yang selalu taat dan patuh kepada Allah (muttaqien). Selalu mewaspadai apa yang nantinya akan terjadi kapan dan dimana kita akan mati. Nabi Muhammad saw. selalu menganjurkan untuk memperbanyak mengingat akan kematian, sebagaimana sabdanya, “Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian”. (HR. Ad-Dailami)

Allah SWT. yang Menghidupkan dan yang Mematikan : (QS. AL-Mu’min [40]: 68), (QS. Al-Baqarah [2]: 28)

Setiap Jiwa Pasti Merasakan Kematian :

1. Setiap Jiwa pasti mati : (QS. Al-li Imran [3]: 185),

(QS. An-Nisa [4]: 78)

2. Tidak ada yang kekal : (QS. Al-Ambiya’ [21]: 8 dan 34)

3. Setiap kematian atas ijin Allah : (QS. Ali Imran [3]: 145)

4. Penyebab kematian :

a. Mati Biasa : (QS. Ali Imran [3]: 154)

b. Mati Dibunuh : (QS. Ali Imran [3]: 162-172), (QS. Al-Isra’ [17]: 31).

(QS. An-Nisa’ [4]: 92-93).

c. Mati Hukuman : (QS. Al-Maidah [5]: 33). (QS. Al-An’am [6]: 151).

d. Mati Bunuh Diri : (QS. Ali Imran [3]: 143). (QS. Al-Baqarah [2]: 195).

5. Bila ajal datang, maka tidak dapat diundur : (QS. Al-Munafiqun [63]: 11).

6. Manusia Tidak Tau kapan dan dimana akan mati : (QS. Luqman [31]: 34).

Pesan Rasulullah saw. :

1. “Mati mendadak suatu kesenangan bagi seorang mukmin dan penyesalan bagi orang durhaka”. (HR. Ahmad) Artinya, seorang mukmin sudah mempunyai bekal dan persiapan dalam menghadapi maut setiap saat, sedangkan orang durhaka tidak.

2. “Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah." Nabi saw. lalu bersabda: "Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul". (HR. Ath-Thabrani)

3. “Janganlah ada orang yang menginginkan mati karena kesusahan yang dideritanya. Apabila harus melakukannya hendaklah dia cukup berkata, "Ya Allah, tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku." (HR. Bukhari)

4. “Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. “Seorang mayit dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang minta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak dan kawan yang terpercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya baginya lebih disukai dari dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah 'Azza wajalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah mohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka”. (HR. Ad-Dailami)



Semoga kenikmatan yang kita dapat sampai detik ini senantiasa dapat dipergunakan untuk beramal salih guna mempersiapkan diri untuk kembali kepad Allah. Memperbanyak taubat dengan istighfar, memperbaiki diri dengan menghiasi perbuatan yang mulia, lebih-lebih memperbanyak shadaqah dengan harta yang kita punya untuk orang yang dhu’afa’, tempat ibadah dan lain sebagainya. Tak lupa berwasiat yang baik kepada suami, istri, anak-anaknya atau keluarga agar dapat melanjutkan dan memperjuangan cita-cita atau nilai-nilai yang baik (yang diridloi Allah) dan akhirnya dapat bermanfaat seluruh amal yang dilakukannya di di dunia dan akhirat.

“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......

Senin, 11 Oktober 2010

PERSIAPKAN UNTUK BERQURBAN

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. (QS. Al-Kautsar [108]: 1-2)

Setelah kita menikmati Idul Fitri dengan penuh suka cita dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat semoga Allah senantiasa memberikan kemuliaan pada diri kita dengan peningkatan kualitas keimanan serta amal shalih kita. Dan semoga kita lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Sebentar lagi kita akan menghadapi Hari Raya Qurban (Idul Adha). Hari raya ini adalah salah satu perintah dan syiar Allah. Mewujudkan apa yang diperintahkan Allah merupakan ciri orang yang bertaqwa. Sebagaimana Allah firmankan :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syiar Allah…Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al-Maidah [5]: 2)

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah)”. (QS. Al-Haj [22]: 32-33)

Sudah sepatutnya sebagai hamba untuk mensyukuri apa-apa yang telah Allah berikan. Kenikmatan Allah yang tidak bisa kita hitung itu seharusnya kita sikapi dengan penuh ketaatan kepada-Nya.

Setiap kali Allah memerintahkan sudah pasti ada kemanfaatan buat diri kita maupun diluar diri kita (masyarakat). Sebagaimana firman Allah :

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Haj [22]: 36-37)

Efek dari Idul Adha disamping mewujudkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, Idul Adha juga memberikan kedekatan kita terhadap sesama manusia, seperti rasa kemanusiaan, kebersamaan dan kerukunan.

Menyembelih hewan qurban bukan semata-mata kita lahab (makan) sendiri, namun tetangga, saudara fakir miskin kita harus diikut sertakan. Seluruh daging qurban harus habis dibagikan, hal ini menunjukkan betapa Allah sangat mengajurkan kepada hambanya untuk berbagi kenikmatan. Sebagaimana Rasulullah saw. perintahkan kepada Ali ra. Dalam salah satu riwayat :

“Ali r.a. berkata, "(Nabi menyerahkan kurban seratus ekor unta lalu) menyuruh saya (mengutus saya). Kemudian saya mengurus qurban-qurban tersebut. Lalu, Rasulullah saw. menyuruh saya agar menyedekahkan pelana dan kulit qurban yang telah disembelih. Dalam riwayat lain: Lalu, beliau menyuruh saya membagi-bagikan dagingnya, lantas saya bagikan. Kemudian menyuruh saya membagi-bagikan pelananya, lalu saya bagikan. Lalu, menyuruh saya membagi-bagikan kulitnya dan saya bagikan. Juga agar saya tidak memberikan sedikitpun sebagai upah penyembelihannya." (HR. Bukhari Kitab Haji No. 837) (Yakni, tidak boleh memberikan daging kurban atau lainnya kepada penyembelihnya sebagai upah, melainkan sebagai hadiah atau sedekah. Karena kalau sebagai upah, dinilai sama dengan menjualnya).

Maka dari itu harta benda yang kita dapat, sepatutnyalah kita infaqkan kepada jalan yang benar. Yang jelas berqurbanlah dengan hasil usaha yang jelas dan halal. Mengapa demikian ? karena berqurban dengan harta yang halal akan diterima oleh Allah, namun apabila berqurban dengan harta yang tidak hala (alias haram) akan ditolak oleh Allah.

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rosulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu baik, tidak mau menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman, “Wahai para Rasul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal sholih” (QS. Al- Mukminun [23]: 51). Dan Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah [2]: 172). Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Wahai Robbku, wahai Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin orang seperti ini dikabulkan do’anya.” (HR. Muslim)

Allah Itu Thoyyib Tidak Menerima Kecuali Yang Thoyyib. Thoyyib adalah suci, tidak ada kekurangan dan cela. Demikian juga Allah, Dia itu thoyyib. Dia suci, tidak ada kekurangan dan cela pada diri-Nya. Dia sempurna dalam seluruh sisi. Allah tidak menerima sesuatu kecuali yang thoyyib. Thoyyib dalam aqidah, thoyyib dalam perkataan dan thoyyib dalam perbuatan. Tidak menerima artinya tidak ridho, atau tidak memberi pahala. Dan ketidakridhoan Allah terhadap sebuah amal biasanya melazimkan tidak memberi pahala pada amalan tersebut.

Pengaruh Mengkonsumsi sesuatu yang thoyyib merupakan karakteristik para rasul dan kaum mukminin. Makanan yang thoyyib sangat berpengaruh terhadap kebagusan ibadah, terkabulnya doa dan diterimanya amal.

Maka dari itu mari kita koreksi dan sikapi amal kita khususnya dalam berqurban.tahun ini. Pendapatan harta yang kita peroleh, kesabaran, kemudian keikhlasan serta tawakkal kita kepada Allah. Semoga dengan bermukhasabah (menilai amal) qurban kita menjadi mulia menurut penilaian Allah.

Pembagian Daging Qurban

Melaksanakan perintah qurban adalah hal yang baik, maka perlu kiranya kita fikirkan bagaimana agar pelaksanaan qurban bisa berjalan dengan baik. Mengapa demikian? Di berbagai daerah sering kita jumpai banyaknya orang yang antusias meminta daging qurban. Dengan berbagai cara mereka mendatangi masjid-masjid yang ada disekitarnya. Dengan berjubelnya peminta daging qurban membuat panitia kewalahan. Dan bahkan ada kejadian yang seharusnya tidak diinginkan, semisal fasilitas masjid yang rusak, kecelakaan, pertengkaran bahkan kematian.

Maksud hati untuk memberikan kemanfaatan, namun upaya kita memberikan kemudlorotan. Maka dari itu panitia harus merancang pembagian daging qurban itu dengan sebaik-baiknya dengan mempertimbangkan realita kejadian yang pernah terjadi.

Bagi para panitia perlu kiranya jauh-jauh hari menganalisa dan memusyawarahkan hal-hal sebagai berikut :

1. Orang yang berqurban (peningkatan atau penurunan).

2. Jenis Hewan Qurban (Jumlah kambing, domba atau Sapi).

3. Penyembelih (jumlah & kualitas kerjanya).

4. Orang Yang Menerima Daging Qurban (orang di daerah sekitarnya dan para pendatang/luar daerah setempat).

5. Mekanisme pembagian (diantar, dibagikan langsung atau bekerja sama dengan pihak yang dipercaya).

6. Keamanan (melibatkan satpam, polisi bila diperlukan)

7. Tempat yang strategis (menentukan tempat agar berjalan dengan baik & tertib).

8. Menenetukan kapan saat pembagian (mulai dan batas terakhir pembagian).

9. Konsisten dalam Pembagian Tugas.

10. Tanggung Jawab.

Pada akhirnya mudah-mudahan pelaksanaan qurban tahun ini bisa berjalan dengan baik, lancar, tertib dan bermanfaat. Dan semoga segala apa yang kita lakukan mendapat ridlo dari Allah SWT.

“Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya”. (HR. Bukhari)

“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......