Jumat, 15 Oktober 2010

MENSIKAPI NIKMAT ALLAH SWT.

Satu Syawal (Idul Fitri) adalah sebagai hari fitrah setelah melewati satu bulan (ramadhan) sebagai realisasi sabar dan tawakkal kepada Allah. Bertakbir dan bertahmid yang dijiwai dengan hati yang suci, menundukkan jiwa kepada Allah (hablum ninallah), memelihara hubungan baik sesama manusia (hablum minan-naas) adalah sebagai pembuka lembaran baru, kehidupan berbudi pekerti khususnya diri pribadi kita, keluarga kita, sifat sosial kita ditandai dengan keikhlasan hati, kejujuran, keadilan dan silaturrahmi saling memaafkan dengan ucapan “Taqobbalallah minna waminkum minal ‘aidin wal faizin”.

Setelah berpuasa satu bulan penuh dan menerima idul fitri, rasanya cukuplah kita untuk mendidik kita supaya ingat akan nasib orang yang lapar, nasib fakir miskin yang jumlahnya cukup banyak. Rasa tanggung jawab menuntut adanya sifat tolong menolong antar sesama manusia.

Tidak dinamakan Idul Fitri bila ia sendiri yang menikmatinya sambil membiarkan orang lain lapar, hidup tertindas dibawah penderitaan, maka dari sini kita dapat memahami dalam rangka Idul Fitri diwajibkan menunaikan zakat fitra kepada yang berhak menerimanya. Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dirinya hendaklah ia mengusahakan kebahagiaan kepada orang lain.

Abu Hurairah r.a. mengatakannya, “Bahwa seorang dusun datang kepada Nabi saw lalu berkata, "Tunjukkan kepadaku amal yang apabila saya amalkan, maka saya masuk surga." Beliau menjawab, "Kamu menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat fardhu, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan Ramadhan." Ia berkata, "Demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya (kekuasaan-Nya), saya tidak menambah atas ini." Ketika orang itu berpaling, Nabi saw bersabda, "Barangsiapa yang ingin melihat seseorang dari penghuni surga, maka lihat lah orang ini." (HR. Bukhari No. 698)

Nikmat Allah

Nikmat yang selama ini kita wujudkan, selama itu pula Allah menyertakan bermacam-macam kenikmatan. Bila Allah menarik nikmat ini, maka hilanglah diri kita. Allah melengkapi jasad kita dengan disertakannnya pendengaran, penglihatan, akal, ruh adalah sebagai tanda bahwa Allah memelihara diri kita.

Nikmat makan minum, harta benda, kesehatan dan kesempatan waktu beribadah dan lain sebagainya itu Allah berikan kepada seluruh hamba-Nya.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nahl [16]: 18).

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An-Naml [27]: 40).

Maka perlu kita syukuri atas segala nikmat Allah yang kita terima. Melakukan rasa syukur kepada Allah dengan lidah, hati dan seluruh anggota tubuh dengan menyakini dan merasakan adanya penyertaan Allah di tubuh kita..

Umur Manusia

Menyadari karena Allah memelihara kita dengan memberi nikmat, maka haruslah selalu bersyukur dan berusaha selalu beramal dengan ikhlash, berperilaku yang baik sesuai tuntunan agama yang diridloi Allah. Tiada lain karena kita sadar bahwa unur kita di dunia ini sangat terbatas. Kita mutlak akan kembali dipanggil menghadap Allah.

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS. Al-A’raf [7]: 34).

Oleh karenanya berfikir tentang usia manusia itu menunjukkan orang yang selalu taat dan patuh kepada Allah (muttaqien). Selalu mewaspadai apa yang nantinya akan terjadi kapan dan dimana kita akan mati. Nabi Muhammad saw. selalu menganjurkan untuk memperbanyak mengingat akan kematian, sebagaimana sabdanya, “Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian”. (HR. Ad-Dailami)

Allah SWT. yang Menghidupkan dan yang Mematikan : (QS. AL-Mu’min [40]: 68), (QS. Al-Baqarah [2]: 28)

Setiap Jiwa Pasti Merasakan Kematian :

1. Setiap Jiwa pasti mati : (QS. Al-li Imran [3]: 185),

(QS. An-Nisa [4]: 78)

2. Tidak ada yang kekal : (QS. Al-Ambiya’ [21]: 8 dan 34)

3. Setiap kematian atas ijin Allah : (QS. Ali Imran [3]: 145)

4. Penyebab kematian :

a. Mati Biasa : (QS. Ali Imran [3]: 154)

b. Mati Dibunuh : (QS. Ali Imran [3]: 162-172), (QS. Al-Isra’ [17]: 31).

(QS. An-Nisa’ [4]: 92-93).

c. Mati Hukuman : (QS. Al-Maidah [5]: 33). (QS. Al-An’am [6]: 151).

d. Mati Bunuh Diri : (QS. Ali Imran [3]: 143). (QS. Al-Baqarah [2]: 195).

5. Bila ajal datang, maka tidak dapat diundur : (QS. Al-Munafiqun [63]: 11).

6. Manusia Tidak Tau kapan dan dimana akan mati : (QS. Luqman [31]: 34).

Pesan Rasulullah saw. :

1. “Mati mendadak suatu kesenangan bagi seorang mukmin dan penyesalan bagi orang durhaka”. (HR. Ahmad) Artinya, seorang mukmin sudah mempunyai bekal dan persiapan dalam menghadapi maut setiap saat, sedangkan orang durhaka tidak.

2. “Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah." Nabi saw. lalu bersabda: "Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul". (HR. Ath-Thabrani)

3. “Janganlah ada orang yang menginginkan mati karena kesusahan yang dideritanya. Apabila harus melakukannya hendaklah dia cukup berkata, "Ya Allah, tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku." (HR. Bukhari)

4. “Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. “Seorang mayit dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang minta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak dan kawan yang terpercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya baginya lebih disukai dari dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah 'Azza wajalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah mohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka”. (HR. Ad-Dailami)



Semoga kenikmatan yang kita dapat sampai detik ini senantiasa dapat dipergunakan untuk beramal salih guna mempersiapkan diri untuk kembali kepad Allah. Memperbanyak taubat dengan istighfar, memperbaiki diri dengan menghiasi perbuatan yang mulia, lebih-lebih memperbanyak shadaqah dengan harta yang kita punya untuk orang yang dhu’afa’, tempat ibadah dan lain sebagainya. Tak lupa berwasiat yang baik kepada suami, istri, anak-anaknya atau keluarga agar dapat melanjutkan dan memperjuangan cita-cita atau nilai-nilai yang baik (yang diridloi Allah) dan akhirnya dapat bermanfaat seluruh amal yang dilakukannya di di dunia dan akhirat.

“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......

Senin, 11 Oktober 2010

PERSIAPKAN UNTUK BERQURBAN

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. (QS. Al-Kautsar [108]: 1-2)

Setelah kita menikmati Idul Fitri dengan penuh suka cita dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat semoga Allah senantiasa memberikan kemuliaan pada diri kita dengan peningkatan kualitas keimanan serta amal shalih kita. Dan semoga kita lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Sebentar lagi kita akan menghadapi Hari Raya Qurban (Idul Adha). Hari raya ini adalah salah satu perintah dan syiar Allah. Mewujudkan apa yang diperintahkan Allah merupakan ciri orang yang bertaqwa. Sebagaimana Allah firmankan :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syiar Allah…Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al-Maidah [5]: 2)

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah)”. (QS. Al-Haj [22]: 32-33)

Sudah sepatutnya sebagai hamba untuk mensyukuri apa-apa yang telah Allah berikan. Kenikmatan Allah yang tidak bisa kita hitung itu seharusnya kita sikapi dengan penuh ketaatan kepada-Nya.

Setiap kali Allah memerintahkan sudah pasti ada kemanfaatan buat diri kita maupun diluar diri kita (masyarakat). Sebagaimana firman Allah :

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Haj [22]: 36-37)

Efek dari Idul Adha disamping mewujudkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, Idul Adha juga memberikan kedekatan kita terhadap sesama manusia, seperti rasa kemanusiaan, kebersamaan dan kerukunan.

Menyembelih hewan qurban bukan semata-mata kita lahab (makan) sendiri, namun tetangga, saudara fakir miskin kita harus diikut sertakan. Seluruh daging qurban harus habis dibagikan, hal ini menunjukkan betapa Allah sangat mengajurkan kepada hambanya untuk berbagi kenikmatan. Sebagaimana Rasulullah saw. perintahkan kepada Ali ra. Dalam salah satu riwayat :

“Ali r.a. berkata, "(Nabi menyerahkan kurban seratus ekor unta lalu) menyuruh saya (mengutus saya). Kemudian saya mengurus qurban-qurban tersebut. Lalu, Rasulullah saw. menyuruh saya agar menyedekahkan pelana dan kulit qurban yang telah disembelih. Dalam riwayat lain: Lalu, beliau menyuruh saya membagi-bagikan dagingnya, lantas saya bagikan. Kemudian menyuruh saya membagi-bagikan pelananya, lalu saya bagikan. Lalu, menyuruh saya membagi-bagikan kulitnya dan saya bagikan. Juga agar saya tidak memberikan sedikitpun sebagai upah penyembelihannya." (HR. Bukhari Kitab Haji No. 837) (Yakni, tidak boleh memberikan daging kurban atau lainnya kepada penyembelihnya sebagai upah, melainkan sebagai hadiah atau sedekah. Karena kalau sebagai upah, dinilai sama dengan menjualnya).

Maka dari itu harta benda yang kita dapat, sepatutnyalah kita infaqkan kepada jalan yang benar. Yang jelas berqurbanlah dengan hasil usaha yang jelas dan halal. Mengapa demikian ? karena berqurban dengan harta yang halal akan diterima oleh Allah, namun apabila berqurban dengan harta yang tidak hala (alias haram) akan ditolak oleh Allah.

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rosulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu baik, tidak mau menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman, “Wahai para Rasul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal sholih” (QS. Al- Mukminun [23]: 51). Dan Dia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah [2]: 172). Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ”Wahai Robbku, wahai Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan (perutnya) dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana mungkin orang seperti ini dikabulkan do’anya.” (HR. Muslim)

Allah Itu Thoyyib Tidak Menerima Kecuali Yang Thoyyib. Thoyyib adalah suci, tidak ada kekurangan dan cela. Demikian juga Allah, Dia itu thoyyib. Dia suci, tidak ada kekurangan dan cela pada diri-Nya. Dia sempurna dalam seluruh sisi. Allah tidak menerima sesuatu kecuali yang thoyyib. Thoyyib dalam aqidah, thoyyib dalam perkataan dan thoyyib dalam perbuatan. Tidak menerima artinya tidak ridho, atau tidak memberi pahala. Dan ketidakridhoan Allah terhadap sebuah amal biasanya melazimkan tidak memberi pahala pada amalan tersebut.

Pengaruh Mengkonsumsi sesuatu yang thoyyib merupakan karakteristik para rasul dan kaum mukminin. Makanan yang thoyyib sangat berpengaruh terhadap kebagusan ibadah, terkabulnya doa dan diterimanya amal.

Maka dari itu mari kita koreksi dan sikapi amal kita khususnya dalam berqurban.tahun ini. Pendapatan harta yang kita peroleh, kesabaran, kemudian keikhlasan serta tawakkal kita kepada Allah. Semoga dengan bermukhasabah (menilai amal) qurban kita menjadi mulia menurut penilaian Allah.

Pembagian Daging Qurban

Melaksanakan perintah qurban adalah hal yang baik, maka perlu kiranya kita fikirkan bagaimana agar pelaksanaan qurban bisa berjalan dengan baik. Mengapa demikian? Di berbagai daerah sering kita jumpai banyaknya orang yang antusias meminta daging qurban. Dengan berbagai cara mereka mendatangi masjid-masjid yang ada disekitarnya. Dengan berjubelnya peminta daging qurban membuat panitia kewalahan. Dan bahkan ada kejadian yang seharusnya tidak diinginkan, semisal fasilitas masjid yang rusak, kecelakaan, pertengkaran bahkan kematian.

Maksud hati untuk memberikan kemanfaatan, namun upaya kita memberikan kemudlorotan. Maka dari itu panitia harus merancang pembagian daging qurban itu dengan sebaik-baiknya dengan mempertimbangkan realita kejadian yang pernah terjadi.

Bagi para panitia perlu kiranya jauh-jauh hari menganalisa dan memusyawarahkan hal-hal sebagai berikut :

1. Orang yang berqurban (peningkatan atau penurunan).

2. Jenis Hewan Qurban (Jumlah kambing, domba atau Sapi).

3. Penyembelih (jumlah & kualitas kerjanya).

4. Orang Yang Menerima Daging Qurban (orang di daerah sekitarnya dan para pendatang/luar daerah setempat).

5. Mekanisme pembagian (diantar, dibagikan langsung atau bekerja sama dengan pihak yang dipercaya).

6. Keamanan (melibatkan satpam, polisi bila diperlukan)

7. Tempat yang strategis (menentukan tempat agar berjalan dengan baik & tertib).

8. Menenetukan kapan saat pembagian (mulai dan batas terakhir pembagian).

9. Konsisten dalam Pembagian Tugas.

10. Tanggung Jawab.

Pada akhirnya mudah-mudahan pelaksanaan qurban tahun ini bisa berjalan dengan baik, lancar, tertib dan bermanfaat. Dan semoga segala apa yang kita lakukan mendapat ridlo dari Allah SWT.

“Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya”. (HR. Bukhari)

“Semoga Bermanfaat”

Baca selengkapnya......