Sabtu, 24 Juli 2010

Marhaban Yaa Ramadlan


Bila telah datang sesuatu yang ditunggu, atau yang dinantikan oleh seseorang, maka ada perasaan gembira tiada tara. Mengibaratkan piala dunia dalam persepakbolaan yang kemarin telah usai, pada awalnya ditunggu negara belahan dunia selama empat tahunan. Selama dalam penantiannya banyak hal yang dipersiapkan, mulai mencari bibit yang handal disaring dalam berbagai even atau kejuaraan lokal. Tahap penggemblengan diatur sedemikian ketatnya tidala lain yang diinginkan oleh tiemnya kecuali menang dalam pertandingan. Seluruh daya upaya dikerahkan untuk mendapatkan piala dunia.

Sekarang kita berfikir tentang ramadlan. Mengapa ramadlan perlu kita fikirkan? Ramadlan adalah piala bagi orang yang bertaqwa. Ramadlan adalah even internasional yang dilaksanakan setahun sekali.
Sebagai orang muslim, apa perasaan anda bila ramadlan akan datang, Senang atau tidak. Mengapa kita harus berbicara masalah senang atau tidak? Biasanya orang yang merasakan senang, sebelum ramadlan mereka akan mempersiapkan terlebih dahulu apa dan bagaimana aturan yang harus diikutinya. Hal ini akan berpengaruh sukses dan tidaknya dalam bertindak untuk mencapai kemenangan. Bila orang merasakan tidak suka, maka dari awal adanya informasi tentang datangnya ramadlan mereka tidak akan menghiraukan tindakan apa yang akan dilakukannya bahkan tidak ada target untuk menang.

Wahai saudaraku coba kita rasakan apa yang sebenarnya ada dalam hati kita, senang atau tidak senang ketika ada kabar ramadlan akan datang. Selanjutnya silahkan anda nilai kemusliman (keimanan) anda masing-masing.

Wahai saudaraku dalam ramadlan itu ada perintah dari Allah berupa puasa :

“Maka barangsiapa di antara kamu melihat bulan itu (Ramadhan), hendaklah ia berpuasa” (QS. Al Baqarah [2]:185)

Puasa itu adalah salah satu perintah wajib dari Allah bagi hamba-Nya yang beriman :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS.Al-Baqarah [2]: 183).

Dari dua ayat diatas menunjukkan ukuran keimanan kita kepada Allah. Kita mengikuti perintahnya atau tidak.

Bila seorang muslim merasakan senang akan ramadlan (perintah Allah), maka dia akan bersungguh-sungguh untuk melakukannya. Namun bila dia tidak senang, maka dia mengabaikan perintah Allah tersebut. Bagaimana dengan keimanan anda?

Allah menciptakan jin dan manusia tiada lain adalah untuk menghambakan diri pada-Nya. Seorang hamba harus taat kepada Allah. Bila seorang hamba tidak taat kepada Allah, maka otomatis Allah murka padanya.

Seorang pegawai harus taat pada bosnya, bila pegawainya taat, maka bosnya akan senang dan suka padanya, bila pegawainya tidak taat, maka bosnya akan marah, dan bisa jadi akan dipecat dari perusahaannya.


Allah menyuruh hamba-Nya untuk mentaati apa yang diperintahkan-Nya sudah pasti Allah akan memberikan hadiah.

“Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia”. (QS. al-Haj [22]: 50)

Dalam hadits Nabi saw. :
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan penuh harap, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang solat malam pada bulan puasa, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw. juga bersabda, “Apabila datang malam pertama bulan Ramadhan, para syaitan dan jin kafir akan dibelenggu. Semua pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satu pintu pun yang terbuka; dan dibuka pintu-pintu syurga sehingga tidak ada satu pun yang tertutup. Lalu terdengar suara seruan, “Wahai pencari kebaikan, datanglah! Wahai pencari kejahatan, kurangkanlah. Pada malam itu ada orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Dan yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Pernah suatu ketika saya silatur-rahim kepada seorang kiai (KH. Nur Hisyam Mansur) di Mojokerto, para tamu ditanyai oleh sang Kiai satu persatu (secara bergilir), ketika tiba giliran dia (orang dari Dawar dan termasuk salah satu alumni santri kiai) beliau menceritakannya bahwa dia sudah berkeluarga dan bekerja di area Wonokromo Surabaya. Beliaunya bekerja jualan makanan kecil seperti ; onde-onde, ote-ote, tahu brontak, kue lapis dll. Beliau berjualan dengan menggunakan sepeda ontel, ditawarkan (mangkal) di sekolah-sekolah dan keliling perumahan. Bila saatnya Ramadlan tiba, beliau libur tidak berjualan sebulan penuh. Beliau konsentrasi dengan aktifitas puasa ramadlannya. Subhanallah ketika ditanya, apa keluarga anda tidak membutuhkan keperluan buat hidup sebulan penuh? Ditambah keperluan hari raya? Beliau menjawab dengan entengnya, “wah kalau untuk itu udah saya persiapkan sebelumnya kiai…”. Subhanallah.

Salah satu teman dekat saya bercerita tentang orang tuanya yang pekerjaanya penjual nasi di warung (area sebelah selatan TP Surabaya) setiap kali ramadlan beliau masak nasi dilebihkan tidak sebagaimana mestinya pada hari-hari selain ramadlan. Dan beliau menggratiskan makan di warungnya selama bulan ramadlan. Subhanallah.

Saudaraku cerita diatas, adalah seorang penjual makanan kecil dan penjual nasi, kalau dihitung labahnya tidaklah seberapa, tidak terlalu wah.. coba kita mengaca diri kita. Anda seorang pengusaha? Seorang kontraktor? Seorang Pejabat? Bisakah seperti dia?...

Marhaban yaa ramadlan (Selamat Datang Ramadlan) adalah ungkapan yang penuh makna terhadap diri kita sebagai muslim. Kita bersyukur bisa hadir dalam ramdlan tahun ini. Sukses dan tidaknya ramadlan tahun ini, berkah dan tidaknya ramadlan tahun ini, mulia dan tidaknya ramadlan tahun ini tergantung kualitas iman dan amal kita masing-masing.

Saya mengajak saudaraku untuk berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kualitas amal kita dalam mengisi ramadlan tahun ini dengan memohon bimbingan, petunjuk dan pertolongan Allah SWT.

“Semoga bermanfaat”

Baca selengkapnya......

Rabu, 14 Juli 2010

Sudahkah Anda Mengenal Malaikat Allah SWT.

Iman kepada malaikat adalah salah satu Rukun Iman. Beriman kepada malaikat adalah percaya dan membenarkan dengan hati bahwa malaikat Allah SWT. benar-benar wujud. Malaikat bersifat ghaib, tidak dapat dilihat oleh mata kasar, tetapi dapat diketahui dan difahami secara majaz (metafora), seperti adanya wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul. Para nabi dan rasul menerima wahyu melalui perantara malaikat Allah SWT.

Iman kepada malaikat merupakan Rukun Iman yang ke-dua. Rukun Iman yang 6 merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, juga tidak dapat dipilih-pilih. Sehingga tidak disebut orang beriman jika tidak meyakini salah satu dari Rukum Iman tersebut. Rasulullah SAW. bersabda:
“Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhirat, serta engkau beriman kepada takdir baik maupun buruk”. (HR. Muslim)

Beriman kepada malaikat ialah percaya akan wujudnya malaikat, yang selain daripada sepuluh malaikat yang wajib diketahui tersebut dan wujudnya beberapa malaikat lain yang tidak diketahui berapa bilangannya melainkan Allah yang tahu.

Kewajiban berimanan kepada Malaikat :

“Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. (QS. al-Baqarah[2] : 285)


Penciptaan Malaikat :

Malaikat diciptakan Allah dari cahaya. Sebagaimana Hadits Nabi saw. :
“Rasulullah saw. bersabda,”Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api…”. (HR. Muslim dari Aisyah) dan dalam Musnad Imam Ahmad : 6/153.

Jumlah Malaikat :

Jumlah malaikat banyak sekali, hanya Allah saja yang tahu. Sebagaimana Allah berfirman :
“…Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri….” (QS. al-Muddatstsir[74] : 31)

“Rasulullah bersabda ,”Allah menciptakan malaikat dari cahaya dan meniupkan kedalamnya, lalu Allah berfirman : “Jadilah setiap seribu dari kalian dua ribu”. Sesungguhnya dari malaikat itu ada bentuk yang lebih kecil daripada lalat, dan tidak ada sesuatu apapun yang lebih banyak daripada malaikat”. (HR. al-Bazzar, Abu asy-Syaikh dan ibnu Mundah dari Ibnu Amru) Diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dalam al-‘Azhamah, hadits No. 318, dan lihat Majma’ az-Zawa’id, karya al-Hatsami, 8/134.

Pemimpin Para Malaikat :

“Ada empat malaikat yang mengurusi dunia, yaitu ; Jibril, Mikail, Malaikat Maut dan Israfil. Jibril mengurus angin dan para tentaranya, Mikail mengurusi tetesan hujan dan tumbuhan, Malaikat Maut mencabut nyawa, dan Israfil menurunkan perintah kepada mereka”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abi Hatim, Abu Syaikh dalam al-‘Azhamah hadits no. 378, dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’abul Iman hadits no. 156, dari Ibnu Sabith) disebutkan oleh as-Syuyuthi dalam ad-Durr al-Mantsur, 6/311 dan dinisbatkan kepada Abd bin Humaid, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim.

“Malikat yang empat, yaitu ; Jibril, Mikail, Malaikat Maut (Izrail) dan Israfil dan Malaikat Maut.adalah mahluk-mahluk Allah yang pertama kali diciptakan-Nya, terakhir dimatikan-Nya, dan pertama kali dihidupkan-Nya kembali. Merekalah yang mengurus dan membagi-bagi segala urusan”. (Diriwayatkan oleh Abu Syaikh dalam al-‘Azhamah, dari Wahb)



Adapun 10 nama malaikat yang sering diajarkan adalah sebagai berikut :


1) Malaikat Jibril

Malaikat Jibril adalah malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu dan mengajar para nabi dengan izin Allah. Malaikat Jibril sebagai salah satu malaikat, yang menurut Al-Qur,an mempunyai nama lain seperti Ar-Ruh, Ar-Ruh Al-Qudus, dan Ar-Ruh Al-Amin,dan Abdullah.

Nama Lain Malaikat Jibril sebagai berikut :

1. Ar-Ruh :
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ar-Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan". (Al-Qadr: 4)

2. Ruh al-Qudus :
“Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. An-nahl (16): 102)

3. Ar-Ruhul Amin :
“Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, (192) dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril) (193).” (QS Asy-Syu’ara’ 26: 192-193)

4. Abdullah :
“Rasulullah saw. bersabda : Nama Jibril adalah ‘Abdullah, nama Mikail adalah ‘Ubaidillah dan nama Israfil adalah Abdurrahman”. (HR. ad-Dailami dari Abu Umamah) Diriwayatkan juga oleh al-Hakim dalam Mustadrak, 4/559, dan dia berkata ini adalah hadits yang sanadnya shahih tetapi al- Bukahri dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi berkata,”shahih menurut syarat Muslim”. Dan diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dalam al-‘Azhamah, hadits No. 384 dan bab “Shifatu Israil ‘alaihis salam wa ma Wukkilabihi, hadits No. 393.

Nama Malaikat Jibril disebut di dalam al-Quran yaitu:

1. “Katakanlah (wahai Muhammad): Sesiapa memusuhi Jibril maka sebabnya ialah kerena Jibril itu menurunkan Al-Quran ke dalam hatimu dengan izin Allah, yang mengesahkan kebenaran Kitab-kitab yang ada di hadapannya (yang diturunkan sebelumnya), serta menjadi petunjuk dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang beriman". (QS. al-Baqarah [2]: 97)

2. “Sesiapa memusuhi Allah (dengan mengingkari segala petunjuk dan perintahNya) dan memusuhi Malaikat-malaikatNya dan Rasul-rasulNya, khasnya malaikat Jibril dan Mikail, (maka dia akan diseksa oleh Allah) kerana sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.". (QS. al-Baqarah [2]: 98)

3. “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah (wahai isteri-isteri Nabi, maka itulah yang sewajibnya), kerana sesungguhnya hati kamu berdua telah cenderung (kepada perkara yang menyusahkan Nabi) dan jika kamu berdua saling membantu untuk (melakukan sesuatu yang) menyusahkannya, (maka yang demikian itu tidak akan berjaya) kerana sesungguhnya Allah adalah Pembelanya dan selain dari itu Jibril serta orang-orang yang soleh dari kalangan orang-orang yang beriman dan malaikat-malaikat juga menjadi penolongnya". (QS. at-Tahrim [66]: 4)

4. ”Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)”. [At Takwiir:19-23].


5. ”Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah [2]: 98)

6. "Dan sesungguhnya Al-Qur,an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruhu Al-Amin (Jibril) kedalam hatimu (Muhammad) agar menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan". (Asy-Syua'ra[ ] :1992-194)

7. "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan". ((QS. al-Qadr [97]: 4)

8. “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”. (QS. al-Ma’arij [70]: 4)

9. “Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. (QS. al-Baqarah [2]: 98)

Disamping itu, Malaikat Jibril disebut dalam hadits Nabi saw. Sebagai berikut:

1. Imam Bukhori dan Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasululloh saw. berkata kepada Jibril : "Apa yang menghalangimu untuk berkunjung kepada kami lebih sering dari kunjunganmu selama ini? Nabi berkata. Lalu turunlah ayat: 'Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaannyalah apa-apa yang ada dihadapan kita, apa-apa yang ada dibelakang kita dan apa-apa yang ada diantara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa". (QS. Maryam [19] : 64) lihat Matan Al-Bukhari bi Hasyiyah As-Sindi, (Bairut: Dar Al-Fikr, 1995) jilid II hal. 245)

2. Dari Anas bin Malik, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: Ketika aku dimi'rajkan [Tuhanku yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi], aku melewati suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku dari tembaga. Mereka mencakari wajah-wajah dan dada-dada mereka. Aku bertanya: "Siapa mereka wahai Jibril?" Ia menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menumpuk-numpuk harta." (HR Abu Dawud (4878), Kitab Adab, Bab Tentang Ghibah. Menurut al-Albani hadits ini shahih lighairih dalam ash-Shahihah (II: 533) dan Shahih at-Targhib (III: 2839). Sebelumnya dalam Takhrij al-Misykat (III: 5046) beliau belum menetapkan derajatnya.)

3. Dari Anas bin Malik, dari Nabi saw. beliau telah bersabda: “Ketika aku jalan-jalan di Surga, aku mendekati sungai yang di kedua bantarannya terdapat kubah-kubah dari rangkaian mutiara. Aku bertanya: "Apa ini wahai Jibril?" Ia menjawab: "Ini adalah al-Kautsar yang diberikan Tuhanmu kepadamu." Maka ingatlah (ketahuilah) oleh kalian bahwa tanahnya atau debunya adalah kesturi yang harum semerbak”. (HR. al-Bukhari (6581), Kitab Kelembutan Hati, Bab Tentang al-Kautsar.)

4. “Dan aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha yang mana buahnya seperti bejana batu dan daunnya seperti telinga gajah. Pada akarnya terdapat empat sungai: dua sungai batin dan dua sungai lahir. Begitu kutanyai Jibril, ia menjawab: "Adapun dua yang batin (tidak tampak dari dunia) berada di surga, sedangkan dua yang lahir (tampak di dunia) adalah Nil dan Eufrat." Kemudian aku diwajibkan lima puluh shalat”. (HR. al-Bukhari (3207)

5. "Terdapat keterangan (hadits) bahwa Khadijah ra., pernah mencoba (menguji) turunnya wahyu kepada Rasululloh dengan melepaskan kerudung dari kepalanya. Jika ia membuka rambutnya, tenanglah keadaan Rasul; dan jika ia menutup rambutnya keadaan Rasul seperti semula. Hal itu ia lakukan karena ia mengetahui bahwa Malaikat Jibril tidak akan masuk kedalam rumah yang didalamnya ada seorang perempuan yang terbuka kepalanya. Oleh karena itu, ketika membuka kepalanya ia (Khadijah) bertanya kepada Rasul:'Apakah kita melihatnya? Rasul menjawab, 'Tidak!' Khadijah berkata:'Wahai putra paman! Tabah dan bergembiralah! Demi Allah! (yang datang kepada engkau) itu adalah malaikat, dan bukanlah syaitan'." (Sayyid Sabiq, Aqidah Islamiyah hal. 268)

2) Malaikat Mikail.

Nama Malaikat Mikail adalah Ubaidillah, sebagaimana dalam hadits Nabi saw. : “Rasulullah saw. bersabda : Nama Jibril adalah ‘Abdullah dan nama Mikail adalah ‘Ubaidillah”. (Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari ‘Ikrimah). “Rasulullah saw. bersabda : Nama Jibril adalah ‘Abdullah, nama Mikail adalah ‘Ubaidillah dan nama Israfil adalah Abdurrahman”. (HR. ad-Dailami dari Abu Umamah) Diriwayatkan juga oleh al-Hakim dalam Mustadrak, 4/559, dan dia berkata ini adalah hadits yang sanadnya shahih tetapi al- Bukahri dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi berkata,”shahih menurut syarat Muslim”. Dan diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dalam al-‘Azhamah, hadits No. 384 dan bab “Shifatu Israil ‘alaihis salam wa ma Wukkilabihi, hadits No. 393.

Nama malaikat Mikail disebut di dalam al-Qur’an :

” Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. (QS al-Baqarah(2): 98).

Nama Malaikat Mikail disebut dalam Hadits Nabi saw. :

1. “Dari Anas bin Malik RA, ketika Rasulullah SAW Mikraj ke langit beliau bertanya pada malaikat Jibrail: "Mengapa aku tidak pernah nampak malaikat Mikail tertawa?" Malaikat Jibrail menjawab: "Malaikat Mikail tidak pernah tertawa semenjak neraka diciptakan". (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/224), Diriwayatkan juga oleh Abu Syaikh dalam kitab al-‘Azhamah, bab “Dzikr Mikail ‘alaihis salam, hadits No. 386.

2. Dari Abi Sa’id ia berkata: “Rasulullah saw. Menyebut kepada shahibasshur (malaikat Israfil) kemudian beliau bersabda: “Dari sebelah kanannya malaikat Jibril dan sebelah kirinya malaikat Mikail semoga Allah mensejahterakan mereka”. (HR. Imam Ahmad)

3. Dalam Hadis Nabi saw. yang lain (yang cukup panjang isinya) disebutkan dari Ibnu Abbas berkata : “…bahwa Nabi saw. bertanya kepada Jibril, Wahai Jibril apakah yang menjadi wewenangmu? Dia (Jibril) menjawab, “ angin dan tentara”. Akau bertanya lagi, apa yang menjadi wewenang Mikail? Ia menjawab, “Tumbuh-tumbuhan dan hujan…”(HR. Thabrani).

4. Dari Abu Said, Rasulullah saw. Bersabda, “Para pembantuku dari penduduk langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar”. (HR. al-Hakim dalam kitabnya Mustadrak : 2/246 dan lihat al-Firdaus bima’tsuril Khithab, karya ad-Dailami, Hadits No. 7111)

5. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah menguatkanku dengan 4 pembantu : dari penduduk langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar”. (HR. al-Bazzar, al-Thabrani dan Abu Na’im dalam kitab al-Hilyah)

6. “Mu’adzin penduduk langit adalah Jibril, sedangkan imam mereka adalah Mikail yang mengimami di Baitul Ma’mur. Maka para malaikat berkumpul, mengelilingi Baitul Ma’mur, shalat dan beristighfar, lalu Allah menjadikan pahala istighfar dan tasbih mereka untuk umat Muhammad saw”. (HR. ad-Dailami dalam al-Firdaus bima’tsuril Khithab, 4/158, Hadits No. 6494) Diriwayatkan oleh ad-Dailami dari jalur as-Sirri bin Abdullah as-Sulami dari Abdul Hamid bin Kinanah dari Abu Umamah dari Ali bin Abi Thalib secara marfu’.


3) Malaikat Israfil.

Isrāfīl artinya "yang membakar", Malaikat Isrofil memiliki nama yaitu Abdurrahman. Malaikat Isrofil adalah Sang Malaikat yang akan meniup sangkakala tatkala akan tibanya hari kiamat nanti, walaupun namanya tidak disebutkan di dalam Al-Quran. Ia sebagai salah satu dari empat Malaikat Utama bersama dengan Mikail, Jibril dan Izrail. Malaikat yang rupawan ini merupakan penguasa muzik, Israfil selalu berzikir untuk memuji Allah dalam ribuan bahasa yang berbeda.. (Lewis, James R., Oliver, Evelyn Dorothy, Sisung Kelle S. (Editor) (1996), Angels A to Z, p. 224, Visible Ink Press, ISBN 0-7876-0652-9).

Malaikat Isrofil disebut dalam Hadits Nabi saw. :

1. “ Rasulullah saw. bersabda : Nama Jibril adalah ‘Abdullah, nama Mikail adalah ‘Ubaidillah dan nama Israfil adalah Abdurrahman”. (Diriwayatkan oleh ad-Dailami dari Abu Umamah) Diriwayatkan juga oleh al-Hakim dalam Mustadrak, 4/559, dan dia berkata ini adalah hadits yang sanadnya shahih tetapi al- bukahri dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi berkata,”shahih menurut syarat Muslim”. Dan diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dalam al-‘Azhamah, bab “Shifatu Israil ‘alaihis salam wa ma Wukkilabihi, hadits No. 393.

2. “Rasulullah saw. Bersabda ,”Israfil adalah penjaga sangkakala, Jibril berada disebelah kanannya danmikail di kirinya”. (HR. Ahmad, al-Hakim dan Ibn Mardawaih dari Abu Said).

3. “Tidak ada makhluk Allah yang lebih indah suaranya daripada Israfil. Bila mulai bertasbih, ia menghentikan semua shalat dan tasbih penduduk langit yang tujuh”. (Diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dari al-Auza’i dalam al-‘Azhamah, bab “Shifatu Israil ‘alaihis salam wa ma Wukkilabihi, hadits No. 401).

4. “Israfil meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat”. [HR. An-Nasaa’i]. Nama malaikat Isrofil disebut juga dalam satu hadis mengenai hari kiamat yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abu Hurairah.


4) Malaikat Maut (Izrail)
Malaikat maut bertugas mencabut nyawa manusia dan makhluk hidup lainya. Malaikat maut dikenal juga dengan nama Izrail.

Nama Malaikat Maut adalah Izrail :
“Ibrahim as. pernah bertanya kepada malaikat maut, dia bernama Izrail dan memiliki dua mata di wajahnya dan dua mata di punggungnya…” (HR. Ibnu Abid Dunya dan Abu asy-Syaikh didalam kitab al-‘Azhamah dari Asy’ats bin Aslam).

Tugas Malaikat Maut (Izarail) :

1. ”Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Qs. as-Sajdah [32]: 11)

2. “Bumi diciptakan seperti baskom bagi malaikat maut sehingga dia dapat mengambil sekehendaknya. Dijadikan pula baginya para pembantu yang mematikan jiwa, lalu dia mencabutnya dari mereka”. (HR. Abdur Razaq, Ahmad dalam Az-Zuhud, Ibnu jarir, Ibnu Mundzir, Abu Asy-Syaikh dalam al-‘Azhamah hadits No. 435, dan Abu Na’im dalam al-Hilyah 3/286 dari Mujahid).

3. Nabi saw. bersabda,“Pada malam pertengahan Sya’ban, Allah mewahyukan kepada malaikat maut untuk mencabut setiap nyawa yang dinginkan-Nya pada tahun itu” (HR. ad-Dainuri didalam al-Mujalasah dari Rasyid bin Said)

4. “…Aisyah bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah Sya’ban adalah bulan paling engkau sukai untuk berpuasa? Beliau menjawab,”Benar”, Wahai Aisyah. Sebab didalamnya Malaikat maut menulis orang yang akan dimatikan…” (HR. al-Khathib dan Ibn Jarir dari Aisyah).

5. “Malaikat maut pernah ditanya, “Bagaimana kamu mencabut semua nyawa?” Dia menjawab,”Aku memanggilnya, lalu semua nyawa mendatangiku”. (HR. ad-Dainuri dalam al-Mujalasah dari Abu Zaid al-Azdi).

Ada juga ulama’ yang berpendapat bahwa Nama Malaikat Maut (Izrail), tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al Quran maupun Hadits. Ibnu Katsir mentafsirkannya dari surat As Sajdah ayat 11 dengan sumber hadits yang tidak jelas (Ahkamul Jana’iz, I/254 dan Takhrij At-Thahawiyyah, I/72]


5) Malaikat Raqib dan ‘Atid.

Malaikat raqib dan atid bertugas mencatat amal perbuatan manusia (QS. Qaf [50]: 17-18). Di samping Raqib dan ‘Atid ada lagi malaikat Kiraman Katibin yang bertugas menuliskan amal perbuatan manusia (QS. al-Infithar [82]: 10-12). Kemudian ada lagi malaikat Hafazhah (penjaga atau pemelihara), yang bertugas memelihara segala catatan amal manusia (QS. al-An’am [6]: 61). Sebagaian ulama berpendapat, bahwa malaikat Raqib dan Atid, Kiraman Katibin, dan Hafazhah itu berbeda. Dan ada yang mengatakan bahwa mereka berada dalam satu kesatuan tugas dengan bidang yang berbeda-beda, ada yang mengawasi, ada yang mencatat dan ada yang memelihara catatan tersebut.(Hamka, Pelajaran Agama Islam, 1956: 121-122).

Ada satu riwayat bahwa “Nama malaikat penulis keburukan adalah Qa’id”. (Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam al-Hilyah dari Mujahid).

Menurut Mujahid dalam surat Qaf ayat 17 beliau mengatakan bahwa,”bersama setiap manusia ada dua malaikat; satu malaikat disebelah kananya dan yang lain disebelah kirinya. Malaikat yang disebelah kanannya mencatat kebaikan, sedang yang sebelah kirinya mencatat keburukannya (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid).

Dua malaikat ini tugasnya mencatat dan mengawasi setiap perbuatan manusia. meski ada pendapat yang mengatakan ini adalah sifat dari dua malaikat yang selalu hadir mengawasi manusia.(QS. Qaaf : 18).

Dari nama-nama tersebut jelas diambil dari lafadz Arabnya. Atau saya mengambil kesimpulan bahwa : Raqib Atid = Kiraman Katibin = Hafazhah dan tugasnya mencatat amal perbuatan manusia.

Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seorang hamba, yang baik maupun yang buruk. Allah SWT. berfirman, “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka”. (QS. Az Zukhruf [43]: 80).


6) Malaikat Munkar Dan Nakir.

Malaikat Munkar dan Nakir ialah malaikat yang dipercayai bertugas menanyai manusia di alam kubur (alam Barzah) mengenai segala amalannya di dunia ini.

1. Malaikat Munkar dan Nakīr dalam eskatologi Islam adalah dua Malaikat yang menanyakan atau menguji keyakinan diri orang yang telah mati di alam barzakh. (Britannica Concise Encyclopedia, Entry: Munkar and Nakir)

2. Kematian dari setiap jiwa akan menuju ke alam barzakh atau secaram sinonimnya juga turut disebut sebagai alam kubur, dimana si mayat akan dibolehkan kembali bangkit dan berbicara ketika ditanya oleh kedua-dua Malaikat Munkar dan Nakir, walaupun tubuhnya telah hancur. Pertanyaan akan dimulai seteah proses pengkebumian selesai dan setelah 70 langkah orang terakhir beredar dari tempat dikuburkan sesuatu mayat. Malaikat Munkar dan Nakir akan menanyakan beberapa hal berikut, "Siapakah Tuhanmu?", "Siapa Nabi mu?", "Apa Agama mu?", jawaban bagi pertanyaan tersebut adalah Tuhan mereka adalah Allah, nabinya Muhammad dan agamanya adalah Islam, maka si mayat akan diberikan keluasan dan diterangkan kuburnya sehinggalah tibanya hari kebangkitan. Bagi yang tidak bisa menjawabnya akan mendapatkan siksaan sehingga tiba hari kebangkitan. (The Encyclopedia of Death and Dying, Entry: Islam)

3. Malaikat Munkar dan Nakir bertugas menanyai mayat dalam alam kubur tentang siapa Tuhannya, apa agamanya dan siapa nabinya. Nama Munkar dan Nakir ada dalam hadis riwayat Tirmizi. Sedangkan dalam suatu hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menjelaskan bahwa al-Qaulu as-Tsabit dalam QS Ibrahim: 27 adalah jawaban orang Islam terhadap pertanyaan Malaikat di dalam alam kubur.

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”. (QS. Ibrahim [14]: 27)

4. “Rasulullah saw. bersabda: “Jika mayit atau salah seorang dari kalian telah dikubur, datang dua malaikat, hitam (tubuhnya), biru (kedua matanya), satu dari keduanya bernama Al-Munkar dan yang lain An-Nakir. Kedua malaikat bertanya kepada mayit: “Apa yang dulu kamu katakan tentang lelaki ini (yakni Rasulullah saw.)?” Dia pun menyatakan apa yang dulu dia katakan: “Lelaki itu adalah hamba Allah SWT. dan Rasul-Nya, Asyhadu allailahaillallah wa anna Muhammadar rasulullah.” Kedua malaikat menimpali: “Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau mengatakan demikian.” Lalu diluaskan kubur untuknya 70 dzira’ (hasta) kali 70 dzira’, dan diterangi, kemudian dikatakan padanya: “Tidurlah engkau.” Berkatalah mayit: “Kembalikanlah aku pada keluargaku agar aku kabarkan kepada mereka.” Keduanya berkata: “Tidurlah engkau sebagaimana tidurnya pengantin, tidak ada yang membangunkan kecuali orang yang paling dicintainya.” Hingga nanti Allah SWT. bangkitkan dari pembaringannya. Adapun jika mayit adalah seorang munafik, dia akan menjawab: “Dahulu aku mendengar manusia mengatakan sesuatu, aku pun mengatakannya...aku tidak tahu.” Keduanya berkata: “Sungguh kami telah mengetahui bahwa engkau akan berkata demikian.” Maka dikatakan pada bumi: “Himpitlah dia!” Bumi pun mengimpit mayit hingga tulang-tulang rusuknya bertautan. Terus-menerus adzab ditimpakan hingga Allah SWT. bangkitkan ia dari kuburnya”. (HR. Tirmidzi dalam As-Sunan, Kitab Al-Jana’iz bab Ma Ja’a fi ‘Adzabil Qabri (Kitab Jenazah bab Adzab kubur) 3/163, no. 1071). Lihat juga Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad (4/287, 295, 296), demikian pula Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (7/386, no. 3117), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (no. 864), dan Abu Bakr Al-Ajurri dalam Asy-Syari'ah (hal. 365).

Semuanya perawi tsiqah, tergolong perawi Imam Muslim dalam Ash-Shahih, kecuali Abdurrahman bin Ishaq. Hadits ini hasan, menurut At-Tirmidzi (As-Sunan 3/163) dan Al-Baghawi (Syarhus Sunnah, 5/416).

Penamaan Al-Munkar dan An-Nakir dikuatkan dengan beberapa pendukung, diantaranya:
• Hadits Mu’adz bin Jabal ra. sebagaimana dalam riwayat Al-Bazzar dalam Al-Musnad (7/97).
• Hadits Bara’ bin ‘Azib ra. diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/358) dan Ath-Thabarani dalam Tahdzib Al-Atsar (2/500).
• Riwayat mauquf dari Abu Darda ra. sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (3/53).
• “Munkar – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur”. [HR Ibnu Abi ‘Ashim].
• “Nakir – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur”. [HR Ibnu Abi ‘Ashim]
• “Apabila mayat telah dikuburkan maka datanglah kedua malaikat yang berwarna biru kepadanya dikatakan salah satudari keduanya adalah Munkar dan yang lain malaikat Nakir…” Dijelaskan dalam kitab ‘Aalamul Malaaikati Asraaruhu wa Khaafayaahu, karya Mushthafa Asyur.

Komentar para Ulama’ Tentang Nama Malaikat Munkar dan Nakir :

1. Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi (240-327 H.) berkata: (Abu Hatim dan Abu Zur’ah) berkata: Kami telah jumpai ulama-ulama di seluruh penjuru negeri, baik dari Hijaz (Makkah, Madinah, Tha’if, dan sekitarnya), Irak, Mesir, Syam, atau Yaman, maka (kami dapatkan) bahwa di antara madzhab mereka adalah: … Meyakini bahwa adzab kubur adalah haq (benar), Munkar dan Nakir adalah haq (benar)...” (Kitab Ashlus Sunnah Wa I’tiqadud Din, diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari bapaknya dan Abu Zur’ah, hal. 15-18)

2. Abu Ja’far Ath-Thahawi ra. (239-321 H.) berkata: “Dan (kita mengimani) ... pertanyaan Munkar dan Nakir dalam kubur seorang tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya, berdasarkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. dan para sahabat beliau.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 397 dengan syarah Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi ra.)

3. Al-Imam Al-Barbahari ra. (329 H.) (Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahari Al-Hanbali) berkata: “Dan beriman dengan adzab kubur serta Munkar dan Nakir.” (Syarhus Sunnah)

4. Al-Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi ra. (600 H.) berkata: “Mengimani adzab kubur adalah perkara yang benar, wajib, dan fardhu …. Demikian pula iman kepada pertanyaan Mungkar dan Nakir.” (‘Aqidah Al-Hafizh Taqiyuddin ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi, hal. 88)

5. Al-Imam Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi ra. (541-620 H.) berkata: “Pertanyaan Mungkar dan Nakir adalah benar, kebangkitan setelah kematian adalah benar, yaitu ketika Israfil meniup sangkakala, sebagaimana Allah SWT. firmankan:“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (Yasin: 51). Dengan syarah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Lum’atul I’tiqad, hal. 51.

6. Ibnul Arabi ra. mengatakan: “Dinamai Munkar dan Nakir yang bermakna umum (karena cobaan keduanya) mengenai semua mayit yang ditanya, baik kafir atau mukmin (semua tidak luput dari pertanyaan dua malaikat ini) dan (dinamai Munkar dan Nakir) karena semua orang yang melihat keduanya akan mengingkari keduanya, karena apa yang ada pada keduanya berupa pemandangan yang menyeramkan, bentuk yang menakutkan, pembicaraan yang kasar, maqami’ (alat pukul) yang ada pada tangan-tangan keduanya yang sangat mengerikan dan menyeramkan.” (‘Aridhatul Ahwadzi, 4/292)

Apa yang dinukil dari ucapan ulama dalam kitab-kitab aqidah salaf, menunjukkan bahwa penamaan Munkar dan Nakir adalah bagian yang tidak terlepas dari i’tiqad (keyakinan) Ahlus Sunnah wal Jamaah baik dari kalangan sahabat atau generasi sesudahnya, sebagaimana diucapkan Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi ra. dalam ‘Aqidah-nya bahwasanya penetapan adzab kubur termasuk penamaan malaikat Munkar dan Nakir adalah berdasarkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. dan dari para sahabat.


7) Malaikat Ridwan.

Malaikat ridwan bertugas menjaga surga dan memimpin para malaikat pelayan sorga. Tentang malaikat-malaikat penjaga surga disebut dalam QS az-Zumar(39): 73. Di dalam surga malaikat-malaikat juga memberikan salam kepada para penghuninya (QS ar-Ra’d (13): 23-24)

”Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan. Sesampai di surga dan pintu-pintunya telah terbuka berkatalah penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan dilimpahkan atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.”. (QS. Az-Zumar [39]: 73)

“(yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.[23] (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.[24] (QS. ar-Ra’d [13]: 23-24)

Nama Malaikat Ridwan disebut dalam Hadits Nabi saw. :

“Ketika Jibril dan Nabi saw. sedang berbicara, tiba-tiba Jibril mengecil sehingga seperti burung belibis. Rasulullah bertanya,” Mengapa kamu mengecil sehingga seperti burung belibis? Dia (Jibril) menjawab, Wahai Muhammad, salah satu pintu langit telah dibuka dan tidak dibuka sebelumnya”. Tiba-tiba Jibri kembali pada keadaannya semula, lalu dia berkata, “Wahai Muhammad, bergemberilalah. Ini adalah Ridwan penjaga Surga. Ridwan pun datang dan mengucapkan salam…”. (Jalaluddin as-Suyuthi didalam ad-Durr al-Mantsur, 5/63. Dan dia menisbatkannya kepada al-Wahidi, Ibnu Asakir dari jalur Juwaibir dari adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas).

Ada juga pendapat bahwa Nama Malaikat Ridwan menurut sebagian ahli hadits haditsnya maudhu’ (Dha’if At-Targhib wat Tarhib, I / 149 dan Adh-Dha’ifah, X/138). Dalam QS 39:73 hanya disebut Penjaga Surga. Para malaikat penjaga surga.


8) Malaikat Malik.

Malaikat Malik bertugas menjaga neraka dan memimpin para malaikat menyiksa penghuni neraka (QS az-Zukhruf (43): 77.

Mereka berseru: "Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)". (QS az-Zukhruf (43): 77)

Tentang malaikat-malaikat penjaga neraka disebutkan dalam QS. Az-Zumar (39): 71 :

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)". Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir”.

Sementara jumlah malaikat penjaga dan penyiksa di neraka disebutkan sebanyak 19 orang (QS. al-Mudatsir (74): 27-31).

Para malaikat penjaga Neraka Jahannam, yaitu malaikat Zabaniyah. Para pemimpinnya ada 19 dan pemukanya adalah malaikat Malik.

Selain dari sepuluh malaikat ini terdapat beberapa malaikat yang tidak diketahui berapa banyak bilangannya melainkan Allah SWT. yang tahu.
Para pembaca bisa membaca kitab-kitab seperti Al-Habaik fi Akhbar al-Malaik, Karya Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi, Maktabah al-Qur’a, Kairo, 1990. Dan kitab-kitab lainnya agar lebih sempurna dalam memahaminya.

“Semoga bermanfaat”.

Baca selengkapnya......