Sabtu, 10 April 2010

Istri melakukan Nusyuz kepada Suami

“…Pergaulilah mereka (istri-istrimu) dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu tetapi Allah menjadikan padanya (dibalik itu) kebaikan yang banyak (QS Al-Nisa' [4]: l9).
“…Istri-istri kamu (para suami) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakaian untuk mereka…”. (QS. Al-Baqarah [2]: 187).


Dalam kelangsungan berumah tangga, pada sisi lain seringkali dijumpai berbagai persoalan suami istri. Suka dan duka senantiasa silih berganti dalam kehidupan keluarga. Sadar atau tidak percekcokan seringkali terjadi dikarenakan latar belakang dan keterbatasan pengertian serta pengetahuan pada masing-masing diri suami atau istri. Hal ini mewarnai dalam kehidupan berkeluarga baik di desa maupun di kota.
Salah satu contoh saya membaca di Koran Jawa Pos tertulis, “Gampangkah kini mencari suami? Sebab, banyak istri di metropolis yang menggugat cerai suaminya. Alasannya macam-macam. Misalnya, polah suami banyak, tapi penghasilan minim. Alasan lainnya, istri tidak sabaran dan suka menuntut. Yang utama, erosi cinta sudah melanda hati mereka. Fenomena istri yang kian berani menggugat cerai suami (cerai gugat) itu terlihat dari data perceraian di Pengadilan Agama Kota Surabaya selama 2009. Tercatat, dalam setahun itu, ada 2.394 istri yang ingin cerai dan menggugat suami ke pengadilan. Sebaliknya, suami yang ingin menceraikan istrinya "hanya" 1.407 orang. Banyak alasan mengapa istri "lebih ingin" menceraikan suami daripada suami menceraikan istrinya. Yang paling tahu sejatinya ialah pasangan masing-masing. Namun, ada penyebab umum yang paling sering jadi pemicu tekad istri menggugat cerai suami. Di antaranya, kian banyaknya istri yang menjadi wanita karir dan penghasilan istri lebih besar. Penyebab lainnya, istri tidak sabaran dan menuntut hal-hal yang melebihi kemampuan suaminya seperti uang belanja”. (Jawa Pos, Metropolis. Sabtu, 27 Februari 2010).

Adalah suatu dambaan seorang istri bila sang-suami menunaikan kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya dan dia memperoleh hak-hak dari istri yang telah Allah tetapkan untuknya. Begitu juga sebaliknya seorang istri menjadi dambaan sang-suami bila istri juga menunaikan kewajiban dan memenuhi hak-hak suaminya.
Namun terkadang salah seorang dari pasangan suami istri ataupun keduanya berbuat tidak menunaikan apa yang seharus ia tunaikan hingga kebahagiaan yang didambakannya hanya sebatas fatamorgana. Persoalan ini ditimbulkan oleh beberapa sebab, yakni bisa datang dari pihak istri atau dari pihak suami, pihak kerabat, orang luar atau karena faktor lain.
1. Sebab yang datang dari pihak istri, misalkan: Seorang istri sibuk berkarier di luar rumah hingga menelantarkan urusan rumah tangga bahkan suami pun tersia-siakan, atau Istri tidak mengetahui bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga, tidak mengerti hak dan kewajiban terhadap suami.
2. Sebab yang timbul dari pihak suami, misalnya, ia terlalu bakhil kepada keluarga, sangat emosional keras dan kaku dalam tindakan melangkah dan bertindak tanpa peduli dengan istri dan tidak berupaya memberi pemahaman atau mengajak bertukar pendapat dengan istri.
3. Sebab dari pihak keluarga istri. Seperti wanita yang menikah dengan seorang laki-laki karena dipaksa oleh walinya, padahal ia tidak menyukai laki-laki tersebut sehingga ketika memasuki kehidupan rumah tangga, ia tidak bisa mentaati atau malah membencinya.
4. Sebab faktor lain. Seperti ada perbedaan kejiwaan dan akhlak antara suami istri pada meningkatnya taraf kehidupan/ekonomi keluarga, menyimpang pemikiran salah seorang dari kedua atau sakit salah seorang dari mereka atau cacat sehingga menghalangi untuk menunaikan kewajibannya.
Dalam Islam persoalan tersebut, sudah digambarkan secara global dan jelas. Istilah yang muncul pada persoalan tersebut adalah ada kata Nusyuz. Mari kita kaji bersama.


Memahami Nusyuz.

Istilah nusyuz adalah Bahasa Arab, perkataan asalnya ialah al-nasyzu bermaksud tempat yang tinggi. Perkataan nusyuz bererti berada di tempat yang tinggi. Isteri yang nusyuz ialah isteri yang ingkar kepada suaminya dan membangkitkan kemarahannya. Nusyuz suami apabila dia memukul isterinya atau bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadapnya. ( Fairuz al-Abadi: Qamus al-Muhit, 678). Kesesuaian pengertian ini dengan nusyuz isteri atau suami ialah isteri atau suami yang nusyuz meletakkan dirinya di tempat yang tinggi dengan ingkar kepada perintah Allah yang diwajibkan ke atasnya terhadap suami atau isterinya. Nusyuz ialah kedurhakaan dan meninggi diri wanita dari mematuhi apa yang diwajibkan Allah ke atas mereka, seperti taat kepada suami. Isteri menimbulkan kemarahan suami (Al-Qurtubi: al-Jami` Li Ahkam al-Quran ibid 5:170 dan 71). Perempuan nusyuz ialah perempuan yang meninggi diri daripada suaminya, meninggalkan perintahnya, menjauhkan diri daripadanya, mengelak diri dari suaminya, menyebabkan suaminya marah. (Ibn Katsir: Tafsir al-Quran al-Azim, 1: 492) .
Tanda isteri dianggap nusyuz.

Nusyuz isteri ditandai oleh dua perkara. Pertama, melalui perbuatan dengan menjauhkan diri, bermuka masam dan enggan ketika dipanggil. Semua ini berlaku setelah sebelumnya dia bersikap mesra. Kedua melalui perkataan seperti berinteraksi dengan suami dengan perkataan yang kasar, ia berlaku setelah sebelumnya dia bercakap lembut. (Wahbah al-Zuhaili: al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, 7:338). Ada juga beberapa gambaran yang menandakan seorang isteri itu nusyuz :

1. Suami telah menyediakan rumah kediaman yang sesuai dengan keadaan suami, tiba-tiba isteri tidak mau berpindah ke rumah itu, atau isteri meninggalkan rumah tanpa izin si suami.
2. Apabila kedua suami tinggal di rumah kepunyaan isteri dengan izin isteri kemudian suatu masa isteri mengusir atau melarang suami memasuki rumah tersebut.
3. Apabila isteri bermuka masam atau pun ia memalingkan muka, berbicara kasar dan sebagainya sedangkan suami berkeadaan lemah lembut, bermanis muka dan sebagainya.

Kepada suami bila sang istri mengalami nusyuz, maka apa yang dilakukannya ?

Dalam QS. An-Nisa [4]:34, Allah berfirman ; “ …perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, Maha Besar”.

Dari ayat tersebut ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh suami yakni Menasehati (bila masih tidak mau taat), maka selanjutnya sang suami memilih pisah ranjang (bila masih tidak taat lagi), selanjutnya sang suami bias memukulnya. Namun dalam memukul hendaknya menjauhi muka dan tempat-tempat lain yang menghawatirkan. Karena tujuan memukul adalah untuk memberi pelajaran dan bukan membinasakan.

Maka dari itu, mejaga keluarga yang utuh adalah sangat penting untuk mewujudkan keluarga yang sakinah. Jagalah dirimu, keluargamu dari kerusakan. Bukankah Nabi saw. mengajarkan kepada kita tentang keluarga? Sebagaimana salah satu Hadits Nabi saw.:

Abu Dawud meriwayatkan dari Hujaim bin Mu’awiyah al-Qusyairi dari ayahnya, ia berkata : saya bertanya : “Wahai Rasulullah apakah hak seorang istri kita pada suaminya ? Sabdanya : “ hendaklah kau beri makan dia jika engkau makan, memberi pakaian kepadanya jika engkau berpakaian. Jangan kau pukul mukanya, jangan kau mengejeknya, dan jangan engkau meninggalkannya kecuali masih dalam serumah…” ( Fiqhu Sunah, Sayid Sabiq, alih bahasa Moh. Thalib, Al-Ma’arif, Bandung, jilid 7 hal. 31-32)

Nabi saw. bersabda : “ Andaikan sujud kepada selain Allah itu boleh, pastilah saya suruh intri sujud kepada suaminya”. (HR. Ahmad dai ‘Aisyah. Dan yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Abi Auf dalam Nail al-Authar, jilid 2, hal. 4490).

Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon perlindungan serta petunjuk atas segala persoalan yang menimpa keluarga kita. Hanya Allah-lah tempat kita mengadu atas segala tatanan kehidupan manusia. Semoga bermanfaat apa yang telah saya jelaskan diatas. Amin….

Baca selengkapnya......

Curhat di Warung Kopi

Pernah suatu ketika ada orang curhat kepada saya tentang keinginan yang menggebu-gebu untuk mendapatkan seorang anak laki-laki. Sampai-sampai istrinya diwanti-wanti (dipesan) bila kelahiran sang-jabang bayi nanti itu wanita, maka diakan menceraikannya.

Mengapa anda sampai berkata begitu?, dia menjawab,” pokok e lanang (laki-laki)”. Terus alasannya?, dia jawab,”nek lanang iso bantu wong tuane, isok ngelindungi lan isok mulyakno wong tuwo”. (kalo laki-laki bisa bantu orang tua, bisa melindungi dan bisa memulyakan orang tua).

Kalo anak wanita apa gak bisa bantu, melindungi dan memulyakan orang tua? Dia jawab,”ora isok, wong wadon iku iso e jalok dilindungi, diopeni, ora kuat bantu kerjo, nek ono masalah nangis tok”. (tidak bisa, orang wanita itu bisanya minta dilindungi, dipenuhi segala kebutuhannya, tidak kuat membatu pekerjaan, dan kalau ada masalah bisanya menangis aja).

Akhirnya saya mulai menyampaikan kepadanya dengan bercerita:

Wanita di masa jahiliyah (sebelum diutusnya Nabi saw.) pada umumnya tertindas dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia (Indonesia salah satunya). Bentuk penindasan ini di mulia sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi sang ayah bila memiliki anak perempuan. Sebagian mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta warisan dan bukan termasuk ahli waris.

Coba anda dengarkan Allah SWT. berfirman : “Dan apabila seorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl [16] : 58-59)

(selanjutnya saya memberikan contoh wanita yang mulia di Arab Saudi dan di Indonesia)

Wanita Mulia Di Arab Saudi :

Khadijah Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah al-Kubra, anak perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za'idah, berasal dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy. Ia merupakan wanita as-Sabiqun al-Awwalun.

Ketika Jibril as. datang kepada Nabi saw., dia berkata :"Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan." [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata :"Keshahihannya telah disepakati."]

Pernahkah kita berpikir dan merasakan, bila ada orang terkenal di negeri ini memberi salam kepada anda?, misalkan seorang gubernur Jawa Timur (pak Karwo) memberikan salam lewat ajudannya untuk disampaikan kepada anda?

Memangnya kenapa salam kepada anda? Orang lain juga pasti bertanya-tanya.Sesuatu yang sangat berharga itu pasti ada sebabnya. Walaupun satu kata atau berbentuk benda kecil bisa jadi nilainya cukup tinggi atau tidak bisa dinilaikan.
Begitu juga kita memahami hadits diatas, mengapa Khadijah mendapatkan salam dari Allah SWT. dan Jibril as.? Pasti ada sesuatu dibalik itu.

Mungkin anda sudah baca tentang biografi Khadijah Binti Khuwailid adalah wanita pertama yang beriman kepada Nabi saw. Beliau istri pertama Nabi saw. yang senantiasa mendukung dan memberikan yang terbaik dalam dakwah Nabi saw. sampai beliau wafat.

Suatu ketika Aisyah pernah mendengar bahwa Nabi saw. senantiasa menceritakan kisah Khadijah dihadapannya, sehingga Aisyah cemburu. Terdapat data bahwa para Muhadditsin banyak meriwayatkan kemuliaan Khadijah diantaranya :
Rasulullah saw. bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia." [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]
Sesungguhnya khadijah adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorangpun diantara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam. Hal itu disebabkan sikap Khadijah ra. pada saat pertama lebih besar peranannya daripada semua sikap yang mendukung da'wah Nabi saw. sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Nabi saw. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya.

Yang jelas kemuliaan dan jasa besar beliau senantiasa diingat oleh Nabi saw. hal ini juga yang membuat Allah SWT. Mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat serta dijagani (diberi fasilitas hadiah) sebuah rumah di syurga dari mutiara. Dan Malaikat Jibril as. pun demikian menaruh rasa hormat atas segala upaya yang dikerjakan Khadijah.

Agama Islam menghapus seluruh bentuk kedhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah SWT. adalah takwa, sebagaiman yang terkandung dalam al-Qur’an :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat [49]:13)
Lebih dari itu Allah SWT. menegaskan dalam firman-Nya :
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16] : 97)




Wanita Mulia Di Indonesia :

Raden Ajeng Kartini, lahir di Jepara 21 April 1879. keturunan ningrat atau bangsawan. adalah putri seorang Bupati Jepara Raden Mas Adipati Sastrodiningrat dan cucu dari Bupati Demak, Tjondronegoro. Kartini hidup dan besar di lingkungan priyayi dengan fasilitas yang serba bagus (pada saat itu). Yang patut kita teladani, walaupun Kartini hidup di keluarga ningrat tetapi beliau bergaul dan berteman dengan siapapun, dari noni-noni Belanda hingga orang-orang pribumi. Dan karena temannya banyak dari berbagai kalangan, dari itu beliau sadar bahwa kaum wanita saat itu tidaklah dihargai. Beliau melihat realita para wanita tidak boleh mencicipi pendidikan, tidak memiliki hak apa-apa yang dimilikinya ialah kewajiban-kewajiban dan kewajiban yang mengatasnamakan adat.

Kartini juga diperlakukan seperti itu, tidak boleh sekolah yang tinggi karena adatnya memang begitu. Tetapi, dengan melanggar aturan-aturan adat pada saat itu serta kepandaian yang beliau miliki, Kartini mendapat kesempatan untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi dimana sekolah itu hanya untuk orang-orang Belanda saja. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang didapatnya, perlahan-lahan namun pasti Kartini berusaha menambah kehidupan yang layak bagi seorang kaum wanita.

Kartini menikah dengan seorang Bupati Rembang, Adipati Joyodiningrat pada tahun 1903. Otomatis beliau mengikuti sang suami ke Rembang. Di daerah inilah, Ibu Kartini gigih meningkatkan kegiatannya dalam bidang pendidikan untuk kaum hawa. Dengan kekuatan dari sang suami yang sebagai orang nomor satu di Rembang itu, memudahkan Ibu Kartini mendirikan Sekolah Kepandaian Putri dan mengajarkan tentang kegiatan kewanitaan seperti jahit menjahit dan keterampilan putri lainnya. Sekolah-sekolah yang dirikan ini tak terbatas pada tingkat sosial, baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat pribumi, semuanya boleh mencicipi dan mengenyam pendidikan di Sekolah Kartini. Kartini wafat di usia yang muda yakni 25 tahun saat melahirkan anak pertamanya yakni pada tanggal 17 September 1904. Setelah Kartini wafat, sahabat penanya mengumpulkan surat-surat dari Ibu Kartini mengenai perjuangannya mengangkat harkat dan martabat kaum hawa serta menyusunnya dalam sebuah buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Judul buku itu juga terdapat pada penggalan surat Ibu Kartini.

Mengingat besarnya jasa Ibu Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.


Setelah selesai saya menyampaikan cerita tersebut, dia tertunduk dan diam seribu bahasa, dan tak lama kemudian terdengar suara adzan shalat dhuhur berkumandang, lalu saya akhiri dengan penekanan pada 3 ayat :

1. “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan (tali rahim)" . (QS. An-Nisa’[4] :1).
2. “Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16] : 97)

3. “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS.Yusuf [12] : 111).

“Semoga Bermanfa’at”

Baca selengkapnya......

Senin, 05 April 2010

HASIL MUSYAWARAH TEMU ALUMNI 2010

Susunan Pengurus
Ikatan Alumni Pondok Pesantren
Roudlotun Nasyiin (IKAPRONAS)
Masa Bakti 2010 - 2012
===========================================
Penasehat :

KH. Zainul Arifin Arief
Drs. Syihabul Irfan Arief

Pembina :

Bpk. Arif Bahri
Drs. H. Sulhan
Drs. H. Muchlis Hamid

Ketua :

Ach. Yani Arifin

Wakil Ketua :

Drs. Sudiyo
Choiruman

Sekretaris :

Abd. Syakur
Em. Syuhada'
Mudloffar

Bendahara :

Drs. M. Shofwan
Drs. Sholeh

Anggota :

Gus Ma’ruf
Gus Sholeh
Gus Manaru
Gus Nashir
Gus Kholis
Syaproni Mubarok
H. Rofi’an
Ikhwan
Saiful Amin Ghofur
Nurul Jannah
Fikri
Solihati Baruroh
Munifah


FORMATUR KOORDINATOR DAERAH (KORDA)
ALUMNI RONAS
MASA BAKTI 2010-2012

====================================================================

Kabupaten Mojokerto :

Ketua : H. Sulhan
Wakil : Mudloffar
Sekretaris : Harahap Sukristina
Wakil Sekretaris : -
Bendahara : Moch. Shodiq
Anggota : Ikhwan Kec. Kemlagi
Tamyizul Ibad Kec. Gedeg
Taufik Akbar Kec. Jetis
Mukhlas Kec. Kota/Surodinawan
H. R. Abror Kec. Sooko
Ali Rahmat Kec. Puri
Anang Sancoko Kec. Dawar
Masyhudi Kec. Bangsal

Kabupaten Lamongan:

Ketua : Drs. Suharto
Wakil : Imam Sholeh
Sekretaris : Syuhada
Wakil Sekretaris : -
Bendahara : Hj. Mujianah
Anggota : Agus Susanto Kec. Sambeng
Ghofar Romli Kec. Kembangbahu dan Mantup
Fathur Rohman Kec. Tikung

Kodya Surabaya :

Ketua : Syaproni Mubarok
Wakil :
Sekretaris : Fathur Rohman
Wakil Sekretaris :
Bendahara : H. Zainul Arifin
Anggota : Bulak Banteng : Halimatus Sakdiyah
Kejawanlor : Asyari.
Nambangan Cumpat : Rosyid
Bulak cumpat : Istigfaroh
Kalilom, Kedung cowek : Ikwan
Putat Darmo : Kamid, Fikri
Bulak : Idris

Kab. Jombang :

Ketua : Alix al faqih
Sekretaris : Anwar Mulyadi
Koordinator :
Mojoagung : Abd. Muin
Sumobito : Anwar Mulyadi
Peterongan : Nurul Huda
Kesamben : M. Zainal Arifin
Kudu, Kesamben,
Ngusikan : Mahbub Zubaidillah
Megaluh : Mahbubah Maharani
Ploso Tembelang : Abd. Rohim

Kab. Gresik :

Ketua : Arhamuddin
Wakil : Umar Jazim
Sekretaris : Muthoharoh
Wakil Sekretaris :
Bendahara : Solihati Baruroh
Anggota : Subandi Kec. Balong Panggang
Syahri Kec. Wringin Anom
Durotul Millah Kec. Cerme
Eni Fauziyah Kec. Driyorejo
Syafii Kec. Duduk Sampean
Heriyanto Kec. Kedamean

Kab. Sidoarjo :

Ketua : Moh. Malik Mudloffar
Wakil : Anang Fahruddin
Sekretaris : Habibi
Wakil Sekretaris :
Bendahara : Aida Fitriyah
Anggota : Lilik Mudawamah
Liris Wahyu Insani
Ida Shofiyah
M. Farihin
Sulthon Qomaruddin
M. Robith Sunni

Korda Alternatif : (Yogja, Malang, dll)

Ketua : Saiful Amin Ghofur
Korlap : Mas Kardi, dan Yusda Abadi

Baca selengkapnya......