Jumat, 01 Mei 2009

Anda Harus Tahu? Masalah Ru'yatul Hilal

Tulisan menarik saya baca di: Tulisan Pak AR - Solo
http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/1426

Bicara soal Rukyah, Rukyah Hilal, Hisab-Rukyah, Hisab-Rukyah Hilal...memang
sangat menarik, lebih-lebih kalau mau mempraktekkannya.
Bicara soal Rukyah, lalu kita lihat dari sisi Tafsir, tampaknya juga menarik. :)

Tafsir secara sederhana bermakna penjelasan. Tafsir terhadap kitab suci
Al-Qur'an, secara umum ada dua metode yang ma'lum di kalangan ahli tafsir,
yakni:
1. Tafsir bi ar-Riwayah dan
2. Tafsir bi ar-Ra'yi.

Penjabarannya sebagai berikut: :)


1. Tafsir Bi ar-Riwayah

Tafsir Bi Ar-Riwayah adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur'an
lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur'an dan riwayat hadits. Jadi mufassir
menafsirkan ayat dengan ayat atau minimal ayat dengan al-hadits. Atau dalam
ungkapan bahasa arab disebut "Al-Qur'an yufassiruhu ba'dhuhu ba'dhan" (al-Qur'an
itu menafsirkan sebagian ayatnya dengan sebagian ayat yang lain).

2. Tafsir Bi ar-Ra'yi

Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dengan tafsir
bir riwayah. Ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra'yu) dalam memahami
kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadits namun porsinya lebih pada
akal.

Kalau dipilah lagi maka tafsir model ini bisa dibagi kedalam:
a. Tafsir bil 'ilmi (seperti menafsirkan fenemona alam dengan kemudian merujuk
ayat Qur'an)
b. Tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat utk membedah ayat Qur'an)
c. Tafsir Sastra atau Tafsir Lughowi. Lebih menekankan aspek sastra dari ayat
al-Qur'an.

Sebagai catatan, untuk kajian modern sekarang, sesungguhnya penggolongan secara
kaku dan ketat tafsir bir riwayah dan bir ra'yi itu tak lagi relevan.

Seperti tafsir-nya Bintusy Syathi (Ahli Tafsir Wanita asal Mesir) setelah
disimak ternyata penuh dengan kandungan ayat Qur'an untuk memahami ayat lain.

Begitu pula tafsir al-Manar (Syaikh Rasyid Ridlo), pada sebagian ayatnya
terlihat keliberalan penulisnya tapi pada bagian ayat lain justru terlihat
kekakuan penulisnya.

Tafsir model maudhu'i (tematis) -Prof. Dr. Quraisy Shihab dgn Al-Mishbahnya-
juga tak bisa secara kaku dianggap sebagai tafsir bir riwayah semata.

Lalu yang mana metode tafsir yang terbaik? Kitab tafsir mana yang paling baik?

Syeikh Abdullah Darraz berkata:
"Al-Qur'an itu bagaikan intan berlian, dipandang dari sudut manapun tetap
memancarkan cahaya. Kalau saja anda berikan kesempatan pada rekan anda untuk
melihat kandungan ayat Qur'an boleh jadi ia akan melihat lebih banyak dari yang
anda lihat."

Ternyata kita masih tetap optimis, karena semua metode tafsir bertujuan
menyingkap cahaya al-Qur'an. Semua kembali kepada etika moral dan akademis kita.

Kembali ke Tafsir 'RUKYAH':

I. Rukyah di Al-Qur'an oleh Al-Qur'an (Tafisr Bil Ma'tsur/Bi al-Riwayah):
Kata Rukyah, ismul Mashdar yang berasal dari kata dasar (fi'il mujarrod) Ro'a.
Kata RO'A berarti MELIHAT dengan MATA, seperti pada ayat berikut:
1. QS. Al-An'am (6) ayat ke 76 - 78.
2. QS. Huud (11) ayat 70.
3. QS. Yusuf (12) ayat 28.

Rukyah Hilal, paling dekat adalah pada ayat 77 surat al-An'am:

"Kemudian tatkala dia melihat bulan (=Ro'a al-Qomar) terbit dia berkata: "Inilah
Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika
Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang
sesat".

Seluruh ayat di atas berarti MELIHAT dengan MATA. Jadi kalau diartikan RO'A
adalah MELIHAT dengan BUKAN MATA, maka saya belum menemukan maroji'nya.

Kata RO'A juga berarti MELIHAT dengan HATI, seperti ayat berikut:
1. QS. Yusuf (12) ayat 24.
2. dan beberapa ayat lain.

II. Rukyah di Al-Qur'an oleh Al-Hadits (Tafisr Bil Ma'tsur/Bi al-Riwayah):
Tafisr Rukyah oleh riwayat dari Nabi bisa kita lihat dari Hadits : Shahih Bukhori, kitab Shiyam, hadits No 1776. Type Hadits ini MARFU' alias SANADnya bersambung kepada Nabi SAW. (Lihat Ensiklopedi Hadits – kutub at-tis'ah.)

Kata RUKYAH di dalam hadits di atas diartikan MELIHAT dengan MATA, sebab kalau
bukan dengan mata, misal MELIHAT dengan HATI, atau AKAL, mengapa Rasul SAW
menyebutkan kata "Ghubbiya" = TERTUTUP-Tidak Tampak. Bagaimana memahami Ghubbiya
bila Ro'a=Rukyah diartikan Melihat dengan Hati atau Akal???
=========================================
Mau Rukyah dengan MATA, mari...
Mau Rukyah dengan HATI, silahkan...
=========================================
CATATAN:
Proses penafsiran Al-Qur'an tidak mungkin bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Manna' Al-Qattan dalam bukunya Mabahits Fi Ulum Al-Qur'an menyebutkan ada
sembilan (9) syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mufassir :
1. Akidah yang benar.
2. Bersih daripada hawa nafsu.
3. Mendahulukan tafsir Al-Qur'an dengan al-Qur'an.
4. Mentafsirkan Al-Qur'an dengan al-Sunnah.
5. Jika tidak terdapat tafsiran Al-Qur'an dari Al-Sunnah, maka hendaklah dirujuk
kepada pandangan para sahabat karena mereka lebih memahami perkara tersebut
disebabkan mereka telah menyaksikan penurunan wahyu dan latar belakangnya.
6. Merujuk kepada pendapat tabi`in jika tidak terdapat tafsiran para sahabat
dengan syarat terdapat pada riwayat yang shahih.
7. Mempunyai pengetahuan pokok-pokok ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur'an:
Ilmu Qiraat, Usul Fiqh, Asbab al-Nuzul, An-Nasikh dan Al-Mansukh, dll.
8. Memiliki ketelitian dan kecermatan dalam pemahaman/penafsiran.
9. Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidang bahasa arab dan periperalnya.

Pak AR di Solo
http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/1426


Tidak ada komentar:

Posting Komentar