Sabtu, 05 Juni 2010

Susahnya Mengajar (Menata Ulang Cara Mendidik)

Mengajar adalah suatu perbuatan yang baik, mengapa? Karena mengajar itu mentransfer pengetahuan kepada seseorang. Untuk apa mengajar ? agar orang tahu. Tahu apa? ya tahu tetang sesuatu.

Pernahkan anda berfikir tentang ketahuan diri anda? Mengapa anda bisa tahu? Dari mana anda tahu? Dimana anda tahu sekarang? Wah mbulet kan? Serius nih…kita ini asalnya tidak tahu, kemudian dikasih tahu, trus ketahuan he… he… he… Coba anda baca firman Allah SWT. :

1. “Dia (Allah) mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq [96]: 5).

2. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur “. (QS. An-Nahl [16]: 78).

3. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah [2]: 31).

4. “…Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 231).

5. “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 151).

Jadi proses kita jadi tahu itu asalnya dari Allah SWT. Jika kita sudah menyadarinya, maka wajib bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Dalam dunia pendidikan istilah orang yang mengajar adalah guru, sedangkan yang diajar adalah murid. Guru dan murid adalah dua komponen yang harus ada dalam dunia pendidikan. Sahabat Abu Darda’ berkata : Orang Alim (guru) dan murid sama-sama pahalanya, sebab manusia itu ada dua orang, (yakni) guru dan murid, dan selain itu tidak ada gunanya. (Abullaits as-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, II, Alih Bahasa H. Salim Bahreisy, 1982, hal. 656-657)

Menjadi seorang pengajar adalah tidak mudah, dia harus mempunyai ilmu, ahli metodologi/skill dalam mengajar, sabar, istiqamah dan mampu menjadi uswah (contoh). Maka dari itu orang yang berilmu itu kedudukannya sangat tinggi (menurut penilaian Allah SWT.) Sebagaimana Allah katakan dalam al-Qur’an :
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. al-Mujaadilah [58]: 11).

Bila anda sudah mengetahui, coba anda tanyakan pada diri anda sendiri, apakah anda ingin menjadi seorang yang berilmu?. Bagaimana bila keluarga anda, suami, istri dan anak anda mempunyai ilmu?

*Wahai sang-ibu, apakah anda tidak tahu bahwa Sayyidatuna Aisyah pernah berkata, "Sebaik-baik kaum wanita adalah kaum wanita sahabat Anshar. Mereka tidak dihalang-halangi rasa malu untuk mempelajari pengetahuan yang mendalam tentang agama.” (HR. Bukhari)

*Wahai sang-ayah, apakah anda tidak tahu bahwa Saiyyidina Umar berkata, "Belajarlah ilmu agama yang mendalam sebelum kamu dijadikan pemimpin". (HR. Bukhari).

*Wahai orang tua, apakah kalian tidak tahu bahwa Malik bin al-Huwairits berkata, "Rasulullah saw bersabda kepada kami, “Kembalilah kepada keluargamu, kemudian ajarilah mereka”. (HR. Bukhari). Ibnu Abbas berkata, "Jadilah kamu semua itu golongan Rabbani, yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti”. (HR.Bukhari). Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud "Rabbani"' ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar). Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan, dan al-Khathib dengan sanad lain yang sahih.

Apa yang harus kita lakukan?

Banyak jalan untuk meraih suatu ilmu. Orang yang senantiasa melakukan amal salih (mencari ilmu salah satunya) maka Allah akan memberikan pengampunan dan rizqi yang mulia (QS. al-Haj [22]: 50). Nabi saw. bersabda,"Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR. Bukhari). Diriwayatkan juga oleh Muslim di dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, juga diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-Ilm.

Orang tua berkewajiban mendidik anaknya agar menjadi manusia yang berilmu. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munaafiquun [63]; 9). “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghaabun [64]; 14).



Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Anak adalah karunia dari Allah yang dititipkan kepada setiap orang tua. Dengan dasar ini maka orang tualah yang berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Tahrim [66]; 6 : "Hai orang-orang beriman, peliharalah diri-diri kamu dan keluargamu dari api neraka”. Di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya.

Kemudian bisakah anda sebagai orang tua mampu mendidik/mengajar anak-anak anda?

Jika anda sebagai orang tua mampu mengajar ilmu kepada anak-anak anda, maka kerjakan dengan penuh kesabaran dan istiqamah. Apabila anda sebagai orang tua orang tua tidak mampu mengajarkan ilmu kepada anak-anak anda, maka pasrahkanlah kepada yang ahlinya (Ulama’, kiai, ustadz, guru dll).
Mengapa demikian? Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar”. (HR. Bukhari). Sahabat Abu Darda’ berkata : “Seorang tidak dapat menjadi Alim (orang yang berilmu) kecuali harus belajar, dan tidak menjadi Alim kecuali ia mengamalkan ilmunya. Yakni seorang tidak dapat disebut Alim, jika hanya hafal ilmu, tetapi tidak diamalkan ilmunya”. (Tanbighul Ghafiliin, hal. 659)

Apa yang harus dilakukan anak anda dalam belajar?

Untuk mendapatkan ilmu tentunya ada aturannya. Sufyan ats-Tsauri berkata : “Ilmu itu (dapat diperoleh dengan) diam, mendengarkan (memperhatikan), mengingat-ingat (al-Khifdzu),mengamalkan, dan mensyiarkan”. (Tanbighul Ghafiliin, hal. 663).
Lantas siapa yang memiliki ilmu itu ? tentunya seorang guru kan? Kemudian apa yang harus kita lakukan kepada sang-guru itu? Nabi saw. pernah bersabda , “Barang siapa yang memuliakan orang ‘Alim (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku, barang siapa yang memuliakan aku, maka sungguh telah memuliakan Allah. Barang siapa yang memuliakan Allah, maka tempatnya surga”. (Jalaluddin As-Suyuthi, Lubabul Hadits, Bab Keutamaan Ilmu dan Ulama’).

Dengan demikian jelaslah bahwa seorang murid harus menghormati guru dengan kebijaksanaan dan aturan yang dibuatnya.

Namun seringkali kita jumpai pergolakan guru, murid dan orang tua sering terjadi. Seorang murid dihukum (berdiri, lari atau yang lainnya) oleh gurunya karena tidak mengerjakan tugasnya, berkata kotor, memukul teman atau berbagai perilaku yang tidak etis (salah satu contoh), kemudian orang tua tidak terima atas diperlakukan anaknya tersebut. Sang-guru dimaki-maki, di demo dan semisalnya. Apakah hal ini patut kita lakukan? Kita pertahankan? Atau Kita lestarikan? Apakah hal ini termasuk memuliakan sang-guru? Coba kita berfikir.

Pada akhirnya atas segala kelebihan dan kekurangan mari kita beristighfar dan memohon petunjuk dari Allah, agar kita mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Dengan lantunan do’a : “ROBBUNALLAH… ROBBUNALLAH… ROBBUNALLAH :
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan". (QS. Nuh [71]: 28).

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim [14]: 41).

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra’ [17]: 24).

"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku” . (QS. Maryam [19]: 4).

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ash-Shaffat [37]: 100).

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqan [25]: 74).

"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". (QS. Ali-Imran [3]: 39)

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”. (QS. Ibrahim [14]: 39).

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin……. “Semoga Bermanfaat”

3 komentar:

  1. mas aku sering baca artikel sampean seng uakeh, sing macem2, tapi aku ngentini lan aku kepingin weroh sumber2 sepuluh malaikat, koyok e akeh seng gak di sebut dalam al-qur'an, tolong mas sampean ungkap, seng dasare hadits sampean tulis haditse ojo artine tok, sepurone lo mas aku ngrepotno

    BalasHapus
  2. terima kasih atas kunjungannya di blog saya. saat ini saya masih kesulitan menulis Arab (program Arabic)saya pasang di blog ini, krena setiap saya tulis arab di komputer saya sudah bisa, namun ketika saya alihkan di blog ini tulisan arabnya jadi rusak-putus-putus. daripada tidak bisa dibaca mending tdk saya tulis.saya musti belajar cari cara agar bisa seperti sampeyan inginkan. terima ksih, masalah malaikat, insya Allah lain waktu saya bahas.

    BalasHapus
  3. mas monoko yang saya hormati :
    saya berusaha mengupas tentang nama malaikat. semoga bisa bermanfaat. bila ada tambahan refrensi bisa disampaikan. terima kasih.

    BalasHapus