Rabu, 04 Maret 2009

Garis Besar Buku The Best Seller Biografi KH. Arief Hasan


Resensi Buku

Judul Buku : Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan

Penulis : Saiful Amin Ghofur

Penerbit : Kaukaba Dipantara Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Maret 2009

Tebal : 224 halaman

Harga : Rp. 25.000,-


Cermin Pangilon dari Beratkulon


TIDAK berlebihan bila KH. Salahuddin Wahid dalam pengantar buku ini menilai sosok KH. Arief Hasan ibarat cermin: cermin pangilon dari Beratkulon. Pengasuh Pesantren Tebuireng itu mengguratkan kekaguman luar biasa terhadap kiai bersahaja yang menjadi santri kinasih al-mukarram Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari di era 1930-an ini.

Kiai Arief memang belum begitu kesohor jika dibandingkan dengan beberapa kiai NU kharismatik semasanya. Reputasinya masih dalam konteks regional. Namun tak dinyana, hal itu hanyalah seujung kuku bila menilik bagaimana semangat, perjuangan, dan dedikasinya terhadap pemberdayaan masyarakat, terutama warga nahdliyin.

Asumsi tersebut menemukan relevansinya ketika mengurai satu per satu halaman buku ini. Ditulis dengan bahasa yang cair dan sama sekali menjauhi kesan tulisan formal sebagaimana lazimnya buku kebanyakan, Saiful Amin Ghofur mampu merekatkan jarak pembaca.

Hatta, membaca buku ini seolah-olah pembaca diajak menyusuri kembali dimensi ruang dan waktu di mana Kiai Arief hidup tempo itu. Peristiwa demi peristiwa yang dikisahkan seakan menjelma sebagai klise yang diputar terus berkelanjutan. Apalagi keterjagaan diksi yang kedap dengan nuansa sastra menjadi kekuatan tersendiri buku ini, sehingga pembaca bakal terhindar dari rasa jemu saat membaca.

Kiai Arief, seperti makna yang tersembul dari namanya, adalah tipologi seorang kiai yang sangat bijaksana dalam menyikapi kehidupan. Lahir di desa Beratkulon, sebuah desa yang terletak di sebelah utara bantaran Kali Brantas Mojokerto, pada 20 Rabiul Awal 1337 H/1917 M. Ia hidup dan berkembang dalam keluarga sederhana yang sangat religius. Ayahnya, Kiai Hasan, adalah seorang kiai kampung yang begitu disegani dan dihormati, sedangkan kakeknya, Mbah Kiai Mahmud, adalah seorang ahli tarekat dan pelaku tasawuf sejati.

Sejak kecil Kiai Arief telah dikerubungi oleh serentetan peristiwa aneh yang berkabut misteri. Semasa bayi ia sempat dibelit ular sebesar paha orang dewasa yang keluar dari sungai. Nyawanya nyaris tak tertolong andai saja tak ada seekor kucing yang melintas kemudian bertarung mati-matian dengan ular tersebut. Akhirnya, ia pun selamat (hlm.42).

Sifat kearifan dalam diri Kiai Arief telah tampak semenjak berusia bocah. Terhadap kawan sepermainan ia senantiasa membimbing dan mengayomi. Permainan yang paling digemarinya adalah menerbangkan layang-layang berekor panjang. Rupanya fenomena ini ditafsirkan oleh seorang kiai sepuh bahwa suatu ketika nanti ia akan diikuti oleh umat. Sebuah prediksi yang menemukan kebenarannya kelak di kemudian hari (hlm. 46).

Kearifan itu terus terbawa. Bahkan ketika nyantri di Tebuireng, Kiai Arief memiliki kepekaan emosional dan solidaritas sosial yang sangat tinggi terhadap sesama santri. Selain rajin mengaji, ia pun gemar berbagi. Pantang baginya makan sendiri tanpa dibarengi oleh teman sesama santri. Rupanya sifat ini yang membuatnya cepat akrab dan menjadi lantaran keluasan jaringan sosialnya (hlm. 55).

Kiai Arief hanya nyantri selama enam tahun di Tebuireng. Kendati begitu, tempo yang relatif singkat itu justru berbanding terbalik dengan pencapaian wawasan keilmuannya yang membuhur. Al-Qur'an berhasil dihunjamkan ke dalam ingatan cuma dalam waktu tak lebih dari enam bulan. Dus, ia piawai menelaah kitab kuning dari yang berhalaman ramping hingga yang tambun berjilid-jilid. Hampir semua disiplin keilmuan Islam dikuasai dengan sangat matang. Bahkan tak jarang ia menjadi rujukan terakhir solusi persoalan fiqh ketika seluruh kiai di kawasan Mojokerto tak kuasa memecahkannya.

Ketika tiba waktunya pulang, atas dorongan segenap masyarakat Kiai Arief yang kala itu berusia masih amat belia, 22 tahun, merintis berdirinya pesantren pada 1 April 1939 yang diberi nama Roudlotun Nasyi'in (hlm. 77). Dari pesantren Kiai Arief mengangsur perubahan. Pelan namun pasti ia mulai membangun masyarakat berkeadaban.

Tekad Kiai Arief adalah memberdayakan masyarakat. Di era 1970-an ia memelopori berdirinya Perkumpulan Petani NU (PERTANU) di mana misi utamanya adalah pemberdayaan ekonomi warga NU. Melalui PERTANU Kiai Arief melakukan transformasi sosial dan pemerataan ekonomi dengan cara memberi modal cuma-cuma untuk membuka lapangan kerja (hlm. 172).

Begitulah, sosok Kiai Arief yang direkam buku ini menyiratkan keteladanan bijak yang patut ditapaktilasi. Di tengah fenomena mutakhir di mana para kiai berbondong-bondong terjun ke kancah politik praktis yang berdampak pada terbengkalainya agenda perubahan sosial dan pemberdayaan masyarakat, terbitnya buku ini layak diapresiasi. Dan yang pasti, buku ini dapat diposisikan sebagai media otokritik bagi para kiai untuk segera mengintrospeksi diri. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar