Jumat, 05 Februari 2010

Dzikir "LAA ILAAHA ILLALLAH" Tiga Kali Ba'da Shalat

Sahabat Ali bin Abi Thalib yang terkenal kecerdasan dan ketekunannya di dalam beribadah kepada Allah SWT mengajukan sebuah permohonan khusus kepada Rasulullah saw sebagaimana nash berikut:

"...orang pertama yang menginginkan jalan terdekat kepada Allah, terunggul tetapi termudah melalui Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib r.a."

Ketika Saidina Ali ra meminta, Rasul tidak langsung menjawab, tetapi menunggu wahyu. Maka datanglah Jibril dan mentalqinkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali dan Nabi mengucapkannya tiga kali. Selanjutnya Nabi mentalqin Ali ra. (sebagaimana Nabi ditalqin oleh Jibril). Selanjutnya Nabi mendatangi para sahabat dan Nabi mentalqin mereka secara berjamaah.

Rasulullah saw mengajarkan kepada sahabat Ali bin Abi Thalib dan sahabat-sahabat lainnya kalimat tauhid sebagai sebuah jalan terdekat kepada Allah, terunggul tetapi termudah. Setelah mendapatkan amalan ini kemudian para sahabat istiqomah melakukan dzikir tahlil.

Perhatikan keterangan berikut:


“Sesungguhnya Dzikir dengan suara keras setelah selesai shalat wajib, adalah biasa pada masa Rasulullah saw. Kata Ibnu Abbas, 'Aku segera tahu bahwa mereka telah selesai shalat kalau suara mereka membaca dzikir telah kedengaran.'” (HR. Muslim No. 541)

Sahabat Ali bin Abi Thalib ra kemudian mengajarkan cara berdzikir tahlil ini kepada generasi berikutnya, antara lain kepada kedua anaknya Hasan dan Husain, juga kepada murid terkasihnya Hasan al-Bashri. Selanjutnya ketiga orang ini pun mengajarkannya kepada generasi-generasi sesudahnya hingga masa sekarang. Ajaran dzikir itu terus turun temurun membentuk mata rantai yang tidak terputus dari satu generasi ke generasi berikutnya membentuk silsilah mata rantai emas. Kesemua silsilah itu berpangkal kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Apa yang dilakukan Sahabat Ali bin Abi Thalib ra adalah sebuah cara (thariqah) sampai (wushul) kepada Allah Ta’ala sebagaimana termaktub dalam firman Allah:

“Barangsiapa ingin berjumpa dengan Tuhannya hendaklah ia beramal shaleh dan tidak menyekutukan Tuhannya itu dengan apapun juga dalam ibadat penyembahannya.” (QS. Al-Kahfi :110)

Ilustrasi mudahnya, sahabat Ali bin Abi Thalib ra dengan permohonannya kepada Rasulullah saw untuk diajarkan cara mendekat kepada Allah Ta’ala adalah proses mengajukan lamaran untuk masuk sebuah akademi khusus ‘mencetak calon-calon muqarrabiin’. Kemudian diterima oleh Rasulullah melalui proses talqin dzikir LAA ILAAHA ILLALLAH.

Kesimpulannya melakukan dzikir tahlil ba’da shalat fardhu adalah dalam rangka pensucian ruhaniah untuk mendekat kepada Allah SWT.

Bahan bacaan:

1. Sirrul Asrar, Asy Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, Terjemahan KH Zezen Zaenal Abidin Zayadi Bazul Asyhab, Thinkers Library, 1998
2. Miftahus Shudur, KH. A. Shohibul Wafa Tadjul ‘Arifin, Terjemahan Prof. DR. Aboebakar Atjeh, Pondok Pesantren Suryalaya, 1970
3. Hakekat Tauhid & Makna Laa Ilaaha Illallah, Syaikh Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan, Terjemahan Agus Su’aidi bin Husnunuri As Sidawi, Pustaka Al Haura, 1999
4. Hadist Shahih Muslim I-IV, Terjemahan Ma’mur Daud, Fa. Widjaja, 1993
5. Amalan Seumur Hidup, Imam Nasa’i, Terjemahan H. Alimin dan Rezki Matumona, Sahara Publisher, 2005.
*sumber = www.qalbu.net



Tidak ada komentar:

Posting Komentar