Senin, 07 April 2008

Cerita Shalat

saya pernah mengikuti training " sholat khusu'" yang diasuh oleh Abu Sangkan di hotel Hillton (gunungsari Surabaya). Disana banyak sekali diikuti dari kalangan mahasiswa, pengusaha, tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan. saya ikut dikarnakan pingin banget bagaimana caranya sholat khusu'. saat itu biaya trainingnya sangat mahal sekali bayangkan 1 juta perorang. untuk ukuran saya sendiri biaya itu sangatlah wah... bagaimana tidak hanya 2 hari training biayanya segitu. pada awalnya saya hanya membaca buku karangannya aja, yang berjudul "Shalat Khusu'" dan "berguru kepada Allah". Dalam diri saya bicara, jelas gak bisa ikut training wong biayanya tinggi. Namun ada orang yang baik hati, ada seorang kontraktor (orang dari pandugo surabaya)memberikan tiket khusus buat saya. weh...seneng banget. wal hasil saya bisa itu deh.....
Saya berpikir kenapa sih... belajar shalat aja begitu mahal? tapi walaupun mahal orang pada banyak yang ikut?.
ternyata banyak manfaatnya saya mengikuti training tersebut. Mula-mula pak Abu bilang " kenapa orang Islam banyak yang shalat tapi masih juga berbuat kemungkaran? seperti marah-marah, mencaci maki orang yang berbeda pandangan dengan dirinya, dan perbuatan tercela lainnya.
tidakkah kita membaca firman Allah "...al-Shalatu tanha 'anil Fakhsyai wal munkar..".
(shalat itu bisa mencegak perbuatan yang keji dan munngkar)
Orang yang shalatnya baik maka kepribadiannya pasti menunjukkan kebaikan. kemudian kalau kita sudah shalat mengapa kita masih berbuat kejelekan?.....jawabnya adalah shalatnya kurang baik alias shalatnya kurang khusu'. Kunci pokok adalah al-Shalatu 'Imaduddin (shalat adalah tiangnya agama). Bila shalatnya ditegakkan sungguh-sungguh maka akan kuatlah agamanya, atapi kalau shalatnya asal-asalan, maka tiangnyapun asal-asalan (alias yang penting berdiri, soal kuat atau kropos tiangnya gak tau).
Dari cerita saya diatas, bagaimana seharusnya kita mampu melaksanakan perintah Allah yang berupa shalat itu dengan baik(khusu')? kenapa saya yang dari dulu sudah belajar agama kok kualitas shalat saya tidak membekas dalam diri saya? apa yang salah?
Dari banyaknya pertanyaan ada sebuah keinginan dari diri saya bagaimana cara mendidik anak-anak menjadi baik?
Pendidikan Dasar tentang shalat perlu ditingkatkan dan dikuatkan (kualitasnya)baik dalam keluarga atau lebih-lebih lembaga pendidikan agama seperti Pesantren "Ronas".
membludaknya persoalan amoral anak dikarnakan membangun pendidikan shalat kepada anak masih asal-asalan yang dikejar adalah hanya hafalannya saja, soal isi kandungan shalat itu masih belum dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
KH. Arief Hasan senantiasa memberikan dasar shalat secara jama'ah + shalat duha. Hal ini yang membuat kualitas para santri patut diandalkan. Santri dulu terkenal dengan ahli ilmu alat. bila ada orang ingin belajar ilmu alat so pasti jawabannya adalah di pesantren Ronas.
Di Pesantren sudah diajarkan kitab fiqh (Taqrib & Fathul Mu'in) dari 2 kitab tersebut sudahlah cukup dalam mendalami tentang shalat, namun perlu ditingkatkan dalam pengamalan isi yang ada dalam shalat tersebut.
Saya bangga kepada Ust. Abdul Razzaq yang senantiasa mengajarkan fiqh dengan istiqoamah.(baca mengenal guruku Ust. Abd. Rozzaq)
Sekarang apakah perlu pendidikan shalat diajarkan dengan sistematis & berkualiatas? atau apakah pendidikan shalat itu hanya sekilas pengetahuan yang cukup dengan memenuhi kebutuhan sesaat saja?
Mudah-mudahan cerita ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi dan bagi siapa saja yang menginginkan tegaknya moralitas yang mulia. Insaya Allah ini merupakan solusi yang baik dalam menangani amoralitas seseorang.
Wallahu A'lamu.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar